Saturday, 20 August 2016

Setelah Jam 03:00

Setelah Jam 03:00

Wahai,
Gelap masih mengelabuiku disebalik selimut
Mataku pejam meski hati ternyata tak pernah diam
Aku terbawa oleh entah apa yang tiba-tiba bagai nadi mendenyut
Menghantar ke Kau, meski mula-mula hanya seberkas suara, kemudian menjelma alif lam

Menyatukan sel-sel kemudi di benak
Mendayung kemana sungai ingin mengalir tanpa jarak
Mengeja namamu dari rangkaian gerimis yang tibaTiba meriwis
Kubiarkan saja tubuhku basah menikmati buaian hipnotis

; yang terbuat dari suaramu ketika malam tanpa tangis

19:42
16.08.2016


Tentang 18-08

Tentang 18-08

Di dalam diamku, kuterbangkan pandang mata ke kejauhan
Menahan rintik yang menderas, barangkali masih bisa untuk berhujan-hujan
Sayang, bilakah Kau tahu betapa Engkau kini, telah menjelma pelangi bagi diri
Begitu indah, meskipun harus kuterima ketika Aku Kau sebut Api yang membakar matahari
Kuletakkan lalu, benakku sendiri ke tepian air sungai
Dari hati, berharap mengalir jauh, ke tempat yang tak lagi ada kata andai
Sayang, bilakah Kau tahu betapa kini Engkau, bagai air di jiwaku
Menentramkan hati, menghidupkan yang layu, membasahi kulit keringku
Namun cukuplah disini, kita beranjak untuk bahagia
Berpijak pada doa, selagi mentari masih bernyawa
Dan cukup memang disini, Engkau sebagai pelangi, Aku sebagai Api
Berharap ada saat untuk melupa siapa diri, menyatukan hati

18.08.2017
Bandung


Sunday, 3 July 2016

Salam - Puisi Setyo Widodo

SALAM

oleh Setyo Widodo


kau akan menepi
setelah sekian langkah menemani
ku, dalam derap yang kau punya
helaan nafas yang kau titah pada
jiwa-jiwa kelana?
bekal ini telah siap, penuh
untaian manik lazuardi
dalam keranjang hati tanpa sepuh
agar selaras dengan ikrar dan janji
sua dalam rumah yang sama
baiklah
selamat berpisah, sayang!
salam untukmu, setelah sekian lama kita
berpayah dalam dendang
melepasi kulit dan noda
pada pembungkusku
pada tekadku, menjumpaimu
kau kembali terbang
: Salamku untukmu!

03.07.2016
@salamstore


Saturday, 2 July 2016

JALAN CINTA GUS MUS

JALAN CINTA GUS MUS


Oleh: Anis Sholeh Ba'asyin


Ajal acap terasa tiba-tiba datangnya. Hanya dinding tipis yang dingin dan tajam yang memotong ‘ada’ dan ‘tiada’, cakap dan diam selamanya, bersama dan terpisah, sini dan sana. Dinding tipis yang selalu luput dari penolakan, betapapun kita menginginkannya.
Sejak kehadirannya hingga keberangkatan ‘yang tiada’ meninggalkan rumah dunia, jarak yang sini dan sana makin terasa menjauh, makin terasa menebal dan melahirkan beragam andai. Andai yang berjalin berkelindan dengan kenangan yang berkelebat-kelebat. Dan puncaknya, ketika tanah menutup ‘yang tiada’; jarak yang tak sampai dua meter antara yang dibawah dan diatas tanah, terasa beribu kilo meter yang tak terjangkau oleh transportasi manapun. Dia yang menetap justru terasa pergi, sementara kita yang pergi justru terasa menetap dalam sunyi sendiri, kehilangan.
Ah, jarak. Lagi-lagi jarak. Jarak yang niscaya terbentuk ketika kita menyikapi apapun dalam kaca mata lahir, kaca mata jasad.
Dalam yang lahir, yang jasad, betapapun dekat kita, jarak selalu menganga, jarak yang selalu membuat kita tersekat kesunyian meski saling menyentuh. Datangnya ajal hanya menegaskan dan mengokohkan jarak tersebut.
Inilah ‘kutukan’ dunia jasad, bila kita mau memandangnya demikian. Tapi ini pulalah ‘anugerah’ dunia jasad bila kita tahu hikmahnya.
‘Kutukan’ keberjarakan dunia jasad, seharusnya menyadarkan kita untuk memasuki lorong batin, lorong ruhaniah. Merangkai dan mengabadikan segenap hubungan berawal dari dan berakhir disana.
Di ruang ini, jarak sirna dan keterpisahan tak pernah berkuasa. Tak bertahta ‘ada’ dan ‘tiada’, cakap dan diam, sini dan sana; karena semua ‘ada’, semua ‘cakap’, semua ‘disini’.Yang jasad boleh runtuh, boleh sirna sesuai kodratnya; tapi ia tak pernah hilang apalagi terpisah. Inilah jalan cinta, jalan yang selalu berbentuk lingkaran sempurna inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Ini jalan yang mereguk apa pun yang dianggap duka derita manusia, seperti samudra mengolah semua sampah menjadi kejernihan.
Inilah jalan membuka pintu sehingga kita mampu melihat apa yang selama ini kita sangka adzab sejatinya adalah nikmat, apa yang kita sangka musibah sejatinya adalah rahmat? Inilah jalan yang mengantar kita untuk memahami semua yang terjadi cuma proses penyempitan dan perluasan, qabdh dan basth, jallaliah (keagungan) dan jamaliahNya (kelembutan), yang telah didesain sedemikian rupa dan mau tak mau harus kita lalui untuk mendorong kita naik ke ‘ketinggian’ cakrawala ruhani.
Bukankah ini adalah dua kaki yang membuat kita bisa berjalan, dua sayap yang membuat kita bisa terbang? Bukankah ini dua jari ar-rahman, sang pengasih, yang sering disebut Rasul? Dua jari yang diantaranya hidup kita digulirkan dan diantar dari satu tahap ke tahap selanjutnya?
***
KH. Ahmad Mustofa Bisri, Gus Mus, adalah sosok yang sepanjang hidupnya berkali-kali ditempa pengalaman dipisahkan oleh ajal dengan orang-orang terkasihnya. Bukan hanya orang-tuanya, tapi juga saudara-saudara kandungnya.
Dan sejak awal, Allah sudah menegarkan pribadinya. Beliau bisa dengan sangat tenang melayani tamu-tamu yang bertakziah saat ayahnya dipanggil Allah, sementara semua saudaranya larut dalam air mata duka dan tak punya cukup daya menyapa tamu yang melimpah. Dan kemarin, ketegaran pribadi tersebut kembali terlihat saat sang isteri, Hj. Siti Fatma Basyuni, yang selama 45 tahun hampir tak pernah terpisah secara lahir, harus pulang memenuhi panggilan Allah.
Orang pun terkagum-kagum menyaksikan beliau ikut memanggul keranda sang isteri. Lebih lagi, mereka yang hadir bertakziahlah yang justru tak mampu menahan tangis ketika dengan tenang beliau memanjatkan doa bagi sang kekasih, sementara setetes air matapun malah tak terlihat menetes dari matanya.
Apakah ini? Apakah ini cermin ketak-tersentuhan atas derita? Apakah ini wajah sudah dinginnya hati pada dunia? Menurut saya: bukan. Inilah jalan cinta yang dipilih Gus Mus. Jalan mendaki yang acap dibahas, tapi sedikit yang mampu menapakinya. Yang kita lihat sedang ditunjukkan Gus Mus hanyalah seserpih wujudnya.
***
Ketakdziman luar biasa Nyai Siti Fatmah pada Gus Mus, segera mengingatkan saya pada ketakdziman Nyai Aisyah pada suaminya KH. Abdullah Salam, Kajen; ketakdziman Nyai Ummu As’adah pada suaminya KH. Muslim Rifa’i Imampuro, Klaten; juga ketakdziman Nyai Sinta Nuriyah pada Gus Dur. Dan mestinya masih banyak lainnya. Perempuan-perempuan sholehah yang hampir tanpa pamrih dunia, menemani suaminya bekerja menegakkan agama Allah.
Ketakdziman yang hanya mungkin dibayangkan muncul dari dunia pesantren dengan bacaan kitab-kitabnya; karena bagi kita yang sudah terecoki dengan bayang-bayang kesetaraan gender, acap kali ketakdziman yang sejatinya positif ini justru dibaca secara negatif. Padahal ketakdziman adalah adab, landasan dasar yang harus ada bagi bangunan peradaban.
Berbeda dengan yang lain, pada Nyai Siti Fatmah, makna dan cakupan ketakdziman yang ditunjukkan sedikit berbeda. Biasanya para isteri lebih banyak menunjukkan ketakdziman ini di rumah. Inilah yang justru beliau ubah. Rumah tidak lagi dimaknai sekedar sebagai wilayah ruang tertentu yang sempit dan terbatas, tetapi dengan sadar beliau ubah menjadi wilayah waktu yang tak terikat dengan locus tertentu. Dimana Gus Mus ada, disitulah Nyai Siti Fatmah berumah.
Bukan untuk membayangi, mengawal apalagi mengawasi suami dalam pengertian negatif; tapi sebaliknya untuk memperluas wilayah ketakdziman. Sehingga hampir bisa dipastikan, dimana ada Gus Mus, disitu juga ada Nyai Siti Fatmah. Benar-benar mirip ungkapan Jawa, seperti ‘mimi lan mintuno’.
Keduanya dengan khusyuk memilih menapaki jalan cinta yang agung, melampaui jasad dan usia, dan mengabadikan setiap momennya sebagai tetesan surga. Kemana-mana dan dimana-mana, rumahlah yang mengikuti mereka dan tak pernah sebaliknya, sehingga diam-diam sering membuat iri banyak orang.
Kini, sang pembawa rumah itu sudah pulang ke rumah sejatinya. Sebelum berangkat, beliau lebih dahulu meminta maaf pada sang suami terkasih. Meminta maaf karena tak lagi bisa merawat ketakdziman di rumah dunia. Bentuk cinta dan ketakdziman yang luar biasa indah yang ditunjukkan seorang perempuan.
Wilayah pantura timur yang sejak Senin selalu diliputi mendung dan hujan; dan mencapai puncaknya pada Kamis 30 Juni 2016 yang bertepatan dengan 25 Ramadlan 1437 H; seperti isyarat betapa langitpun ikut berduka atas berpulangnya salah satu perempuan sholehah. Ribuan, bahkan jutaan orang seperti tersentak oleh berita yang seperti mendadak ini.
Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Selamat jalan Ibu Nyai Siti Fatmah, semoga kuburmu sewangi ketakdzimanmu. Pada saatnya kami semua akan menyusulmu.
***
Anis Sholeh Ba'asyin, Pengasuh Suluk Maleman
***

Friday, 1 July 2016

'Sajak Cinta' Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) untuk Nyai Hj. Siti Fatma

Mengenang Berpulangnya Ibunda Siti Fatma ( istri KH. Ahmad Mustofa Bisri ) ke Keabadian sebenarnya. 

(semoga gusti Allah SWT menempatkan beliau ditempat terbaik dan bersama dengan orang-orang yang mendapatkan syafa'at dariNya) aamiin aamiin aamiin Ya Robbal Alamiin.

'Sajak Cinta' Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) untuk Nyai Hj. Siti Fatma


cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Rembang, 30-9-1995

Tuesday, 28 June 2016

Puisi Untuk Langit

Puisi Untuk Langit

oleh Mieft Aenzeish


kebenaran apa yang bisa kubagi pada awan, selain kekerdilan hati terhadap keagungan Tuhan
kebaikan apa yang bisa kubagi pada matahari, selain menikmati pergantiannya ke hujan, tanpa ada cacian

dan geliat langit tidak pernah menyakiti segala apa yang tertanam di bumi
hanya aku, sebagai yang tertanam tak pernah menyadari bahwa telah menjadi api
membakar cahaya bulan dan mentari, mengikis atmosfer dan segala yang tadinya melindungi
aku, mungkin kan sadar ketika Tuhan tidak lagi menambah usia galaksi

wahai Langit, kepada siapa kau menyenangi?
jika aku adalah mahluk yang sering menuduhmu sebagai pembenci

yang membenci ketika aku, kau datangkan banjir sebab hujanmu
yang membenci ketika aku, kau datangkan longsor sebab hujanmu
yang membenci ketika aku, kau datangkan kemarau sebab panasmu yang berkepanjangan
dan membenci, segala apa yang kau lakukan sebab tak kompak dengan keinginan

lalu kepada siapa kau menyenangi?

30.05.2016
Bandung

MENUJU CAHAYA ILAHI - oleh Gus Mus

MENUJU CAHAYA ILAHI


Oleh: Ahmad Mustofa Bisri ( Gus Mus )

Cahaya Ilahi ibarat ceruk di dinding yang di dalamnya ada pelita besar yang benderang; pelita itu berada dalam kaca yang cemerlangnya bagaikan bintang gemerlap. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang senantiasa mendapat sinar matahari sejak terbit dari timur hingga tenggelam di barat. Minyaknya saja nyaris menyinari sekalipun tak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa saja yang Ia kehendaki… (Baca Q. 24: 35)
Tamsil yang dibuat oleh Sang Pemilik Cahaya itu sungguh luar biasa. Bayangkan. Pelita benderang di dalam kaca cemerlang dengan minyak yang berkilauan berada di ceruk dinding. Dalam ceruk, pastilah cahaya benderang pelita dalam kaca cemerlang dengan minyak berkilauan itu terfokus. Hamba yang dikehendakiNya, pastilah sangat mudah mendapatkan cahaya di atas cahaya itu.
Pertanyaannya: siapakah kira-kira hamba Allah yang Ia kehendaki mendapat bimbingan ke arah cahayaNya itu? Tentu kita tidak tahu persis. Namun setidaknya kita dapat menduga dengan mencermati firman-firmanNya. Kita pun bisa membatasi wilayah pencarian kita terhadap hamba yang Ia kehendaki itu, misalnya, dalam kalangan hamba-hambaNya yang ia senangi.
Menilik firmanNya di surah Baqarah (Q.2: 257), orang-orang mukminlah yang Ia keluarkan dari kegelapan-kegelapan menuju ke cahayaNya. Lawannya adalah Thaghut, setan, yang menarik dari kebenderangan cahaya menuju ke pekat gelap.
Sementara orang mukmin yang dicintai Allah ialah orang mukmin sejati. Hamba mukmin yang sabar, yang adil, yang pemaaf, yang suka mensucikan diri, yang tawakkal, yang berbuat baik, yang tahu berterimakasih, yang tidak berlebih-lebihan, yang tidak sombong, yang tidak zalim, yang tidak membuat kerusakan di muka bumi, yang tidak khianat, yang tidak suka membanggakan diri, dan seterusnya. Pendek kata hamba yang takwa kepadaNya.
Dan takwa itulah yang diharapkan dari puasa kita. (Baca Q.2: 183).
Apabila dalam puasa ini, kita melaksanakannya dengan ikhlas, hanya mengharapkan dengan keyakinan penuh mendapatkan ridha Allah; menjaga hati pikiran dan indera kita agar tidak melanggar angger-angger-Nya; insya Allah kita akan dimudahkanNya menjadi hamba yang bertakwa. Apalagi bila kita dapat menghayati pendidikan puasa ini dan dapat memperoleh darinya kekuatan menahan diri, menutup jalan setan –yang berupa syahwat dan amarah-- menuju diri kita, dengan izin Allah kita akan terjaga oleh MahacahayaNya dari tarikan setan yang ingin menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang berlapis-lapis.
Quran, sebagai firman Allah yang turun di malam Qadar di bulan Ramadan, tak pelak merupakan Mahacahaya yang benderangnya melebihi seribu purnama. Wahai siapakah yang berbahagia tercerahi olehnya.

sumber: status facebook KH. Ahmad Mustofa Bisri, 26 juni 2016.

Foto oleh Timur Sinar Suprabana