Sunday, 3 July 2016

Salam - Puisi Setyo Widodo

SALAM

oleh Setyo Widodo


kau akan menepi
setelah sekian langkah menemani
ku, dalam derap yang kau punya
helaan nafas yang kau titah pada
jiwa-jiwa kelana?
bekal ini telah siap, penuh
untaian manik lazuardi
dalam keranjang hati tanpa sepuh
agar selaras dengan ikrar dan janji
sua dalam rumah yang sama
baiklah
selamat berpisah, sayang!
salam untukmu, setelah sekian lama kita
berpayah dalam dendang
melepasi kulit dan noda
pada pembungkusku
pada tekadku, menjumpaimu
kau kembali terbang
: Salamku untukmu!

03.07.2016
@salamstore


Saturday, 2 July 2016

JALAN CINTA GUS MUS

JALAN CINTA GUS MUS


Oleh: Anis Sholeh Ba'asyin


Ajal acap terasa tiba-tiba datangnya. Hanya dinding tipis yang dingin dan tajam yang memotong ‘ada’ dan ‘tiada’, cakap dan diam selamanya, bersama dan terpisah, sini dan sana. Dinding tipis yang selalu luput dari penolakan, betapapun kita menginginkannya.
Sejak kehadirannya hingga keberangkatan ‘yang tiada’ meninggalkan rumah dunia, jarak yang sini dan sana makin terasa menjauh, makin terasa menebal dan melahirkan beragam andai. Andai yang berjalin berkelindan dengan kenangan yang berkelebat-kelebat. Dan puncaknya, ketika tanah menutup ‘yang tiada’; jarak yang tak sampai dua meter antara yang dibawah dan diatas tanah, terasa beribu kilo meter yang tak terjangkau oleh transportasi manapun. Dia yang menetap justru terasa pergi, sementara kita yang pergi justru terasa menetap dalam sunyi sendiri, kehilangan.
Ah, jarak. Lagi-lagi jarak. Jarak yang niscaya terbentuk ketika kita menyikapi apapun dalam kaca mata lahir, kaca mata jasad.
Dalam yang lahir, yang jasad, betapapun dekat kita, jarak selalu menganga, jarak yang selalu membuat kita tersekat kesunyian meski saling menyentuh. Datangnya ajal hanya menegaskan dan mengokohkan jarak tersebut.
Inilah ‘kutukan’ dunia jasad, bila kita mau memandangnya demikian. Tapi ini pulalah ‘anugerah’ dunia jasad bila kita tahu hikmahnya.
‘Kutukan’ keberjarakan dunia jasad, seharusnya menyadarkan kita untuk memasuki lorong batin, lorong ruhaniah. Merangkai dan mengabadikan segenap hubungan berawal dari dan berakhir disana.
Di ruang ini, jarak sirna dan keterpisahan tak pernah berkuasa. Tak bertahta ‘ada’ dan ‘tiada’, cakap dan diam, sini dan sana; karena semua ‘ada’, semua ‘cakap’, semua ‘disini’.Yang jasad boleh runtuh, boleh sirna sesuai kodratnya; tapi ia tak pernah hilang apalagi terpisah. Inilah jalan cinta, jalan yang selalu berbentuk lingkaran sempurna inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Ini jalan yang mereguk apa pun yang dianggap duka derita manusia, seperti samudra mengolah semua sampah menjadi kejernihan.
Inilah jalan membuka pintu sehingga kita mampu melihat apa yang selama ini kita sangka adzab sejatinya adalah nikmat, apa yang kita sangka musibah sejatinya adalah rahmat? Inilah jalan yang mengantar kita untuk memahami semua yang terjadi cuma proses penyempitan dan perluasan, qabdh dan basth, jallaliah (keagungan) dan jamaliahNya (kelembutan), yang telah didesain sedemikian rupa dan mau tak mau harus kita lalui untuk mendorong kita naik ke ‘ketinggian’ cakrawala ruhani.
Bukankah ini adalah dua kaki yang membuat kita bisa berjalan, dua sayap yang membuat kita bisa terbang? Bukankah ini dua jari ar-rahman, sang pengasih, yang sering disebut Rasul? Dua jari yang diantaranya hidup kita digulirkan dan diantar dari satu tahap ke tahap selanjutnya?
***
KH. Ahmad Mustofa Bisri, Gus Mus, adalah sosok yang sepanjang hidupnya berkali-kali ditempa pengalaman dipisahkan oleh ajal dengan orang-orang terkasihnya. Bukan hanya orang-tuanya, tapi juga saudara-saudara kandungnya.
Dan sejak awal, Allah sudah menegarkan pribadinya. Beliau bisa dengan sangat tenang melayani tamu-tamu yang bertakziah saat ayahnya dipanggil Allah, sementara semua saudaranya larut dalam air mata duka dan tak punya cukup daya menyapa tamu yang melimpah. Dan kemarin, ketegaran pribadi tersebut kembali terlihat saat sang isteri, Hj. Siti Fatma Basyuni, yang selama 45 tahun hampir tak pernah terpisah secara lahir, harus pulang memenuhi panggilan Allah.
Orang pun terkagum-kagum menyaksikan beliau ikut memanggul keranda sang isteri. Lebih lagi, mereka yang hadir bertakziahlah yang justru tak mampu menahan tangis ketika dengan tenang beliau memanjatkan doa bagi sang kekasih, sementara setetes air matapun malah tak terlihat menetes dari matanya.
Apakah ini? Apakah ini cermin ketak-tersentuhan atas derita? Apakah ini wajah sudah dinginnya hati pada dunia? Menurut saya: bukan. Inilah jalan cinta yang dipilih Gus Mus. Jalan mendaki yang acap dibahas, tapi sedikit yang mampu menapakinya. Yang kita lihat sedang ditunjukkan Gus Mus hanyalah seserpih wujudnya.
***
Ketakdziman luar biasa Nyai Siti Fatmah pada Gus Mus, segera mengingatkan saya pada ketakdziman Nyai Aisyah pada suaminya KH. Abdullah Salam, Kajen; ketakdziman Nyai Ummu As’adah pada suaminya KH. Muslim Rifa’i Imampuro, Klaten; juga ketakdziman Nyai Sinta Nuriyah pada Gus Dur. Dan mestinya masih banyak lainnya. Perempuan-perempuan sholehah yang hampir tanpa pamrih dunia, menemani suaminya bekerja menegakkan agama Allah.
Ketakdziman yang hanya mungkin dibayangkan muncul dari dunia pesantren dengan bacaan kitab-kitabnya; karena bagi kita yang sudah terecoki dengan bayang-bayang kesetaraan gender, acap kali ketakdziman yang sejatinya positif ini justru dibaca secara negatif. Padahal ketakdziman adalah adab, landasan dasar yang harus ada bagi bangunan peradaban.
Berbeda dengan yang lain, pada Nyai Siti Fatmah, makna dan cakupan ketakdziman yang ditunjukkan sedikit berbeda. Biasanya para isteri lebih banyak menunjukkan ketakdziman ini di rumah. Inilah yang justru beliau ubah. Rumah tidak lagi dimaknai sekedar sebagai wilayah ruang tertentu yang sempit dan terbatas, tetapi dengan sadar beliau ubah menjadi wilayah waktu yang tak terikat dengan locus tertentu. Dimana Gus Mus ada, disitulah Nyai Siti Fatmah berumah.
Bukan untuk membayangi, mengawal apalagi mengawasi suami dalam pengertian negatif; tapi sebaliknya untuk memperluas wilayah ketakdziman. Sehingga hampir bisa dipastikan, dimana ada Gus Mus, disitu juga ada Nyai Siti Fatmah. Benar-benar mirip ungkapan Jawa, seperti ‘mimi lan mintuno’.
Keduanya dengan khusyuk memilih menapaki jalan cinta yang agung, melampaui jasad dan usia, dan mengabadikan setiap momennya sebagai tetesan surga. Kemana-mana dan dimana-mana, rumahlah yang mengikuti mereka dan tak pernah sebaliknya, sehingga diam-diam sering membuat iri banyak orang.
Kini, sang pembawa rumah itu sudah pulang ke rumah sejatinya. Sebelum berangkat, beliau lebih dahulu meminta maaf pada sang suami terkasih. Meminta maaf karena tak lagi bisa merawat ketakdziman di rumah dunia. Bentuk cinta dan ketakdziman yang luar biasa indah yang ditunjukkan seorang perempuan.
Wilayah pantura timur yang sejak Senin selalu diliputi mendung dan hujan; dan mencapai puncaknya pada Kamis 30 Juni 2016 yang bertepatan dengan 25 Ramadlan 1437 H; seperti isyarat betapa langitpun ikut berduka atas berpulangnya salah satu perempuan sholehah. Ribuan, bahkan jutaan orang seperti tersentak oleh berita yang seperti mendadak ini.
Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Selamat jalan Ibu Nyai Siti Fatmah, semoga kuburmu sewangi ketakdzimanmu. Pada saatnya kami semua akan menyusulmu.
***
Anis Sholeh Ba'asyin, Pengasuh Suluk Maleman
***

Friday, 1 July 2016

'Sajak Cinta' Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) untuk Nyai Hj. Siti Fatma

Mengenang Berpulangnya Ibunda Siti Fatma ( istri KH. Ahmad Mustofa Bisri ) ke Keabadian sebenarnya. 

(semoga gusti Allah SWT menempatkan beliau ditempat terbaik dan bersama dengan orang-orang yang mendapatkan syafa'at dariNya) aamiin aamiin aamiin Ya Robbal Alamiin.

'Sajak Cinta' Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri) untuk Nyai Hj. Siti Fatma


cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu
aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

Rembang, 30-9-1995

Tuesday, 28 June 2016

Puisi Untuk Langit

Puisi Untuk Langit

oleh Mieft Aenzeish


kebenaran apa yang bisa kubagi pada awan, selain kekerdilan hati terhadap keagungan Tuhan
kebaikan apa yang bisa kubagi pada matahari, selain menikmati pergantiannya ke hujan, tanpa ada cacian

dan geliat langit tidak pernah menyakiti segala apa yang tertanam di bumi
hanya aku, sebagai yang tertanam tak pernah menyadari bahwa telah menjadi api
membakar cahaya bulan dan mentari, mengikis atmosfer dan segala yang tadinya melindungi
aku, mungkin kan sadar ketika Tuhan tidak lagi menambah usia galaksi

wahai Langit, kepada siapa kau menyenangi?
jika aku adalah mahluk yang sering menuduhmu sebagai pembenci

yang membenci ketika aku, kau datangkan banjir sebab hujanmu
yang membenci ketika aku, kau datangkan longsor sebab hujanmu
yang membenci ketika aku, kau datangkan kemarau sebab panasmu yang berkepanjangan
dan membenci, segala apa yang kau lakukan sebab tak kompak dengan keinginan

lalu kepada siapa kau menyenangi?

30.05.2016
Bandung

MENUJU CAHAYA ILAHI - oleh Gus Mus

MENUJU CAHAYA ILAHI


Oleh: Ahmad Mustofa Bisri ( Gus Mus )

Cahaya Ilahi ibarat ceruk di dinding yang di dalamnya ada pelita besar yang benderang; pelita itu berada dalam kaca yang cemerlangnya bagaikan bintang gemerlap. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon zaitun yang senantiasa mendapat sinar matahari sejak terbit dari timur hingga tenggelam di barat. Minyaknya saja nyaris menyinari sekalipun tak tersentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa saja yang Ia kehendaki… (Baca Q. 24: 35)
Tamsil yang dibuat oleh Sang Pemilik Cahaya itu sungguh luar biasa. Bayangkan. Pelita benderang di dalam kaca cemerlang dengan minyak yang berkilauan berada di ceruk dinding. Dalam ceruk, pastilah cahaya benderang pelita dalam kaca cemerlang dengan minyak berkilauan itu terfokus. Hamba yang dikehendakiNya, pastilah sangat mudah mendapatkan cahaya di atas cahaya itu.
Pertanyaannya: siapakah kira-kira hamba Allah yang Ia kehendaki mendapat bimbingan ke arah cahayaNya itu? Tentu kita tidak tahu persis. Namun setidaknya kita dapat menduga dengan mencermati firman-firmanNya. Kita pun bisa membatasi wilayah pencarian kita terhadap hamba yang Ia kehendaki itu, misalnya, dalam kalangan hamba-hambaNya yang ia senangi.
Menilik firmanNya di surah Baqarah (Q.2: 257), orang-orang mukminlah yang Ia keluarkan dari kegelapan-kegelapan menuju ke cahayaNya. Lawannya adalah Thaghut, setan, yang menarik dari kebenderangan cahaya menuju ke pekat gelap.
Sementara orang mukmin yang dicintai Allah ialah orang mukmin sejati. Hamba mukmin yang sabar, yang adil, yang pemaaf, yang suka mensucikan diri, yang tawakkal, yang berbuat baik, yang tahu berterimakasih, yang tidak berlebih-lebihan, yang tidak sombong, yang tidak zalim, yang tidak membuat kerusakan di muka bumi, yang tidak khianat, yang tidak suka membanggakan diri, dan seterusnya. Pendek kata hamba yang takwa kepadaNya.
Dan takwa itulah yang diharapkan dari puasa kita. (Baca Q.2: 183).
Apabila dalam puasa ini, kita melaksanakannya dengan ikhlas, hanya mengharapkan dengan keyakinan penuh mendapatkan ridha Allah; menjaga hati pikiran dan indera kita agar tidak melanggar angger-angger-Nya; insya Allah kita akan dimudahkanNya menjadi hamba yang bertakwa. Apalagi bila kita dapat menghayati pendidikan puasa ini dan dapat memperoleh darinya kekuatan menahan diri, menutup jalan setan –yang berupa syahwat dan amarah-- menuju diri kita, dengan izin Allah kita akan terjaga oleh MahacahayaNya dari tarikan setan yang ingin menjerumuskan kita ke dalam kegelapan yang berlapis-lapis.
Quran, sebagai firman Allah yang turun di malam Qadar di bulan Ramadan, tak pelak merupakan Mahacahaya yang benderangnya melebihi seribu purnama. Wahai siapakah yang berbahagia tercerahi olehnya.

sumber: status facebook KH. Ahmad Mustofa Bisri, 26 juni 2016.

Foto oleh Timur Sinar Suprabana

Saturday, 25 June 2016

Sajak Sajak yang Akan Membuatmu Tersenyum Bahagia oleh Nizar Tawfiq Qabbani

Sajak Sajak yang Akan Membuatmu Tersenyum Bahagia

Terjemahan Bebas SajakSajak Nizar Tawfiq Qabbani


*

Aku Tidak Memiliki Kekuatan

Aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubahmu — atau mengerti dan mengikuti keinginan dan caramu. Jangan pernah percaya seorang pria bisa mengubah perempuan. Para pria berpura-pura telah mencipta perempuan dari sebatang tulang rusuk mereka. Para perempuan tidak datang dari tulang rusuk pria atau tulang siapa-siapa. Para pria lahir dari rahim perempuan, seperti seekor anak ikan berenang lepas dari kedalaman air. Seperti cabang-cabang sungai melepaskan diri dari arus. Para pria berputar mengelilingi poros matahari di mata perempuan dan mereka menganggap telah menciptakan semesta.
Aku tidak memiliki kekuatan menanammu seperti bunga atau menjinakkanmu seperti anak kucing atau meredam naluri purbamu. Oh, sungguh, mustahil mampu kulakukan! Aku telah menguji ketumpulan pikiran dan ketajaman kebodohanku. Tidak ada, tidak ada yang mampu menaklukkanmu.
Tidak ada kekuatan yang mampu memecahkanmu selama tiga ratus tahun. Engkau akan tetap utuh seperti ini selama tiga ratus tahun, selalu begitu seperti sejak mula. Seperti badai yang berdiam di dalam botol dan mengenal dengan amat baik aroma tubuh pria. Engkau serbuk alami yang lahir untuk menyerbu dan menaklukkan para pria.
Jangan percaya para pria ketika bicara tentang diri mereka, bahwa dari diri mereka lahir bayi-bayi mungil, bahwa dari jari-jari mereka mengalir puisi-puisi. Para perempuanlah yang menulis puisi dan pria menerakan nama mereka di kakinya. Dari para perempuanlah tawa dan tangis anak kecil pecah dan pria datang ke rumah sakit bersalin menyebut nama mereka sebagai ayah.
Aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubah sifatmu. Buku-buku yang kubaca tidak ada gunanya bagimu dan kepercayaan yang kupeluk tidak punya lengan yang mampu memeluk dan meyakinkanmu. Aku, di dalam diriku, adalah ruang kosong. Aku tidak memiliki kekuasaan. Engkau adalah ratu dan dunia tidak memiliki raja. Engkau kegilaan dan milik siapa saja. Tetaplah seperti itu. Engkau adalah pohon yang tumbuh dalam gelap. Tidak butuh matahari atau mata air. Engkau putri laut yang dikasihi semua orang dan mengasihi semua orang. Engkau tidur dengan seluruh pria dan tidur tidak dengan siapa pun. Engkau perempuan dari Badui yang menjelajahi seluruh suku di dunia dan kembali sebagai perawan suci. Tetaplah seperti itu.

*

Apabila Aku Mencintaimu

Apabila aku mencintaimu, bahasa baru terbit seperti mata air, kota-kota baru dan negara-negara baru lahir. Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing. Kebun gandum tumbuh di halaman-halaman buku. Burung-burung berlepasan seperti lelehan madu dari sepasang matamu. Serombongan kafilah datang dari belahan dadamu membawa bermacam-macam ramuan India. Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan, hutan-hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia tidak henti menyeru para penari.
Apabila aku mencintaimu, sepasang payudaramu melepaskan rasa malu, bergetar, berubah jadi petir dan gelegar guntur, sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .
Apabila aku mencintaimu, kota-kota Arab bangkit meneriakkan perlawanan terhadap zaman penindasan, menumpahkan kemarahan kepada hukum yang menganiaya suku-suku tertentu.
Dan aku, apabila aku mencintaimu, aku ikut berbaris melawan semua kejahatan. Melawan pengusaha yang menimbun garam. Melawan penguasa yang mengubah gurun jadi petak-petak kebun sendiri.
Dan aku, aku akan terus mencintaimu hingga banjir bandang itu datang. Aku akan terus mencintaimu hingga banjir bandang itu datang menghapus dunia.

*

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan seperti kawanan domba yang hendak disembelih. Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium sol sepatu para pembunuh.
Mereka menculik anak Maryam, padahal ia masih bayi. Mereka mencuri dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk, aprikot, dan rimbun semak mint, pula nyala lilin dari masjid-masjid.
Mereka meletakkan di tangan kita sekaleng ikan sarden bernama Gaza dan sepotong tulang kering bernama Yerikho. Mereka membiarkan kita tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang, sepasang lengan tanpa jemari.
Setelah perselingkuhan rahasia yang basah di Oslo, hidup kita dilanda kekeringan. Mereka memberi kita tanah air yang lebih kecil dari sebiji gandum. Tanah air yang akan kita telan tanpa air, seperti sebutir aspirin.
Kita memimpikan perdamaian hijau dan bulan sabit putih dan laut biru. Namun, kini, kita menemukan diri kita cuma seonggok tinja.

*

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta, kenapa ia harus memakai kata-kata? Apakah para wanita mendambakan kekasih mereka berbaring di dekatnya sebagai ahli bahasa?
Aku tidak mengucapkan apa pun kepada wanita yang aku cintai. Aku memasukkan kamus-kamus ke koper dan melarikan diri dari semua bahasa.

*

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku: “Apa bedanya aku dengan langit?”
Perbedaannya, Sayang, adalah jika kau tertawa, aku lupa apa itu langit.

*

Percakapan

Jangan kausebut cintaku seikat cincin atau gelang. Cintaku adalah pengepungan. Keberanian dan kemauan keras yang bangkit dari kematian mereka.
Jangan kausebut cintaku sebagai semata bulan. Cintaku lebih hebat dari ledakan cahaya.

*

Surat dari Bawah Laut

Jika engkau sahabatku, bantu aku menanggalkanmu. Atau, jika engkau kekasihku, bantu aku menyembuhkan diri darimu.
Andai aku tahu lautan sedalam ini, aku tidak akan menceburkan diri. Andai aku tahu bagaimana aku berakhir, aku tidak akan pernah memulai.
Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan. Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman. Ajari aku memadamkan kesedihan di mata hingga cinta memutuskan bunuh diri.
Jika engkau seorang nabi, bersihkan aku dari kutukan ini, bebaskan aku dari ketiadaan iman. Mencintaimu berarti tak memeluk satu agama pun, maka sucikan aku dari kehampaan ini.
Jika engkau kuat, angkat aku dari dasar laut karena aku tidak tahu berenang. Ombak biru di sepasang matamu menarikku ke palung paling dalam. Biru. Biru. Seluruh biru, dan aku tidak memiliki pengalaman mencintai, dan tidak ada perahu sama sekali.
Jika engkau mengasihiku ulurkan lenganmu, rengkuh aku, sebab aku dipenuhi nafsu dari rambut hingga kuku-kuku kakiku.
Aku bernapas dari sini, di bawah laut. Aku tenggelam. Tenggelam. Tenggelam.

*

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu, puisi lebih penting daripada buku catatan, dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.
Surat-suratku kepadamu lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua. Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen di mana orang-orang kelak menemukan kecantikanmu dan kegilaanku.

*

Wahai, Kekasihku

Wahai, Kekasihku, jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku, kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu, kau akan menjual habis gelang-gelangmu, dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

Cinta, pada akhirnya, tiba juga dan kita memasuki surga, menyelusup di bawah kulit air seperti ikan. Kita melihat mutiara laut berkilau dan mata kita dipenuhi kekaguman.
Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga, tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara. Sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi. Dan, kita merasa sama adil.
Cinta menyerahkan diri, pasrah, seperti mata air yang terbit begitu saja dari balik tanah.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku, jika aku mampu bertemu dengan Sultan, aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan! Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku, mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu. Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka mengejarku seperti takdir, seperti nasib. Mereka menginterogasi istriku dan menulis nama semua sahabatku.
Wahai, Sultan! Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli, karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan dan kesusahanku, aku dipukuli dengan sepatu bututku sendiri.
Wahai, Tuan Sultan! Engkau telah kalah perang dua kali karena setengah dari orang-orang kita tidak memiliki bahkan sepotong lidah.
Apa yang indah dari keluh-kesah di napas mereka? Di balik tembok, orang-orang berlari ketakutan seperti anak-anak kelinci yang mungil dan sekerumunan semut.
Jika para penjaga bersenjata itu menjamin keselamatanku, aku akan menemui Sultan dan mengatakan: Wahai Tuan Sultan, engkau kalah perang bukan cuma sekali, karena membangun dinding untuk memisahkan kekuasaan dari suara-suara manusia.

*

Coretan-coretan Anak Kecil

Kesalahanku, kesalahan terbesarku, Duhai Putri Bermata Laut, adalah mencintaimu seperti seorang anak kecil mencintai. Namun, kekasih paling mulia, sesungguhnya, adalah anak kecil.
Kesalahan pertamaku, dan bukan yang terakhir, adalah hidup di pusat keingintahuan. Selalu siap terkesiap bahkan oleh peralihan sederhana kelam dan terang. Malam dan siang. Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan yang aku cintai untuk memecahkan diriku, menjadikan aku ribuan serpihan, mengubahku jadi kota terbuka dan terluka, dan meninggalkanku di balik punggungnya sebagai kepulan debu.
Kelemahanku adalah melihat dunia dengan pikiran anak kecil.
Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta keluar dari gua, melepaskannya ke udara, memugar dadaku jadi gereja yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka, dan selama berabad-abad yang sungguh kucari adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih. Aku membutuhkan seorang perempuan yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung. Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.
Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam, mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia, memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal.
Cintamu mengajariku meninggalkan rumah, menelusuri ruas-ruas jalan. Mencari wajahmu di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan. Mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal. Mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.
Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.
Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan, kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu. Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri. Tanpa air mata, manusia hanya kenangan. Bayangan belaka.
Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding perahu para nelayan, di lonceng-lonceng gereja, di patung-patung Yesus.
Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu. Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun dan lupa bagaimana cara perputar.
Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal. Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima. Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya. Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.
Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana. Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil, di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.
Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama, di gereja-gereja tua tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.
Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan, kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam, dan menumpahkan parfum ke dadanya.
Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata. Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.
Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka, dan selama berabad-abad yang sungguh kucari adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih. Aku membutuhkan seorang perempuan untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung. Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

Ketika aku mencintai, aku merasa akulah penguasa waktu, aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya, dan aku menunggang kuda dan melaju menuju matahari.
Ketika aku mencintai, aku adalah lelehan cahaya, kasat mata, dan puisi di buku catatanku tumbuh jadi taman bunga paling indah.
Ketika aku mencintai, air mengalir dari sela jari-jariku, rumput tumbuh di lidahku.
Ketika aku mencintai, aku menjadi waktu di luar seluruh waktu.
Ketika aku mencintai seorang wanita, semua pohon, tanpa alas kaki, berjalan ke arahku.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas, kubawa diriku ke pantai berbaring dan memikirkanmu. Kutumpahkan ke dada laut seluruh perasaanku kepadamu.
Laut akan menanggalkan pantai, meninggalkan karang-karang, kerang-kerang, juga ikan-ikan, dan berjalan mengikutiku pulang.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu, berembus hujan dan kilau suar ibarat suara-suara yang merdu. Matahari gemetar dan layar melukis perjalanan mereka ke keabadian.
Di pelabuhan biru matamu, lautan terbuka seperti jendela. Burung-burung datang dari jauh, mencari pulau-pulau yang tiada dalam peta.
Di pelabuhan biru matamu, salju jatuh menyelimuti bulan Juli. Kapal sarat dengan bebatuan mulia tumpah ke laut dan tidak tenggelam.
Di pelabuhan biru matamu, aku menyusur pantai bagai anak kecil. Menghirupembuskan aroma garam dan memulangkan burung-burung yang kelelahan ke sarang.
Di pelabuhan biru matamu, karang bersenandung pada malam hari. Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?
Andai saja, andai saja aku seorang pelaut, andai saja ada seorang memberiku perahu, aku akan menggulung layarku setiap malam dan bersandar di pelabuhan biru matamu.

*

Setiap Kali Aku Menciummu

Setiap kali aku menciummu, seusai kita terpisah waktu yang panjang, aku merasa menjatuhkan sehelai surat cinta tergesa-gesa ke dalam kotak berwarna merah.

*

Aku Menaklukkan Dunia dengan Kata-kata

Aku menaklukkan dunia dengan kata-kata. Aku menaklukkan bahasa ibu, kata-kata kerja, kata-kata benda, dan sintaksis. Aku menghapus semua muasal benda menggunakan bahasa baru yang terbuat dari gemericik air dan percik api. Aku menyalakan masa depan. Aku menghentikan waktu di matamu dan meruntuhkan semua sekat yang menjauhpisahkan nanti dan masa lampau dari sini, dari kini.

*

SajakSajak Nizar Tawfiq Qabbani

sumber : https://medium.com/@hurufkecil/beberapa-terjemahan-bebas-sajak-nizar-tawfiq-qabbani-1959931494c6#.i20sfag7f


Sekilas Biografi - Nizar Tawfiq Qabbani

Nizar Tawfiq Qabbani (bahasa Arabنزار توفيق قبانيNizār Tawfīq Qabbānī) (21 Maret 1923 – 30 April 1998) adalah seorang diplomat, penyair dan penerbit Suriah.

Nizar Qabbani lahir di ibukota Suriah Damaskus dari keluarga pedagang kelas menengah. Qabbani dibesarkan di Mi'thnah Al-Shahm, salah satu tetangga Damaskus lama. Qabbani menempuh pendidikan di Scientific College School nasional di Damaskusantara 1930 dan 1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dijalankan oleh teman ayahnya, Ahmad Munif al-Aidi. Ia kemudian mempelajari hukum di Universitas Damaskus, yang disebut Universitas Suriah sampai 1958. Ia lulus dengan gelar sarjana dalam hukum pada 1945.
Ketika ia masih pelajar, ia menulis kumpulan puisi buatannya yang berjudul The Brunette Told Me
nizar tawfiq qabbani muda

MATA AIR Oleh K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

MATA AIR

Oleh: K.H. Ahmad Mustofa Bisri

Jarak waktu kehidupan kita sekarang ini dengan kehidupan pemimpin agung kita Rasulullah SAW sudah mendekati 15 abad. Ibarat air sungai, kita sudah sangat jauh dari mata air. Boleh jadi sudah mendekati muara. Maka air sungai pun sudah semakin keruh, nyaris tak terlihat lagi warnanya. Tinggal namanya saja.
Berbaur dengan limbah nilai-nilai baru yang dikemas begitu menarik oleh kehidupan serba materi yang mendominasi dunia dewasa ini, ajaran dan keteladanan Rasulullah SAW sering tak jelas lagi. Kalau pun tampak, kebanyakan sekedar dagingnya belaka. Peringatan-peringatan Maulid Nabi yang digelar dalam kemas yang begitu-begitu saja dengan isi yang kurang lebih permanen dari Rabi’ul Awal ke Rabi’ul Awal, tak cukup berarti di sela-sela derasnya banjir ‘pengajian lain’ yang lebih menggiurkan yang secara rutin dan tertib melanda rumah-rumah.
Setiap kali kita menyebut suatu perangai atau perilaku pemimpin agung kita Muhammad SAW, kita hanya terkagum-kagum seperti mendengar dongeng nan indah. Apalagi di zaman dimana kebanyakan pemimpin tidak lagi mecerminkan sosok pemimpin yang pantas disebut pemimpin, pemimpin yang membantu memudahkan orang menghormati dan meneladaninya. Mereka yang terlanjur disebut pemimpin dewasa ini, bila diingatkan akan keagungan Rasulullah SAW, mungkin akan berdalih, “Itu kan Nabi pemimpin agung yang mendapat wahyu Ilahi, mana mungkin kami bisa menirunya. Lagi pula kalian sebagai umat juga tidak seperti para shahabat Nabi.”
Seperti juga air sungai yang masih jernih ketika baru saja meninggalkan mataairnya, para pemimpin salaf masih dapat dengan jelas kita lihat benang merah yang menghubungkan mereka dengan kepemimpinan Rasulullah SAW. Aroma keharuman akhlak mereka masihanduk kesemerbakan uswah hasanah-nya. Mereka yang tidak menangi Nabi Muhammad SAW dan masih sempat melihat shahabat Abu Bakar Shiddiq, misalnya, masih dapat dengan jelas melihat kelembutan; kasihsayang; dan kearifan kenabian melalui pribadi khalifah pertamanya ini. Mereka yang tidak menangi Nabi Muhammad SAW dan masih sempat melihat shahabat Umar Ibn Khatthab, masih dapat dengan jelas menyaksikan kesederhanaan; kedemokratan; dan keadilan kenabian melalui pribadi Amirulmukminienini. Mereka yang tidak menangi Nabi Muhammad SAW dan masih sempat melihat shahabat Utman Ibn ‘Affan, masih dapat dengan jelas merasakan; kesantunan; kedermawanan; dan keikhlasan kenabian melalui pribadi Dzun Nurain ini. Mereka yang tidak menangi Nabi Muhammad SAW dan masih sempat mengenal shahabat ‘Ali Ibn Abi Thalib, masih dapat dengan jelas menghayati keilmuan; kezuhudan; dan keberanian kenabian melalui pribadi Babul Ilmi ini. Jika mau, Anda bisa melanjutkan sendiri dengan contoh-contoh agung lainnya seperti Tholhah Ibn ‘Ubaidillah; Zubeir Ibn ‘Awwam; ‘Abdurrahman Ibn ‘Auf; Sa’d Ibn Abi Waqqash; Sa’id Ibn Zaid; Abu ‘Ubaidah Ibn Jarrah dan masih banyak lagi dari para pemimpin salaf --radhiaLlahu ‘anhum ajmaien-- yang meneruskan tradisi Nabi: menebar kasihsayang. Rahmatan lil ‘aalamien!
Kalau mereka terlalu jauh, Anda masih dapat mencari-cari dari teladan-teladan mulia yang datang belakangan, seperti khalifah Umar Ibn Abdul Aziez; imam Hasan Bashari; imam Abu Hanifah; imam Malik, imam Syafii; imam Ahmad; imam Juneid; imam Ghazali; syeih Syadzily; syeikh Abdul Qadir Jailani; dlsb. Atau yang lebih belakangan lagi: Hadlratussyeikh Hasyim Asy’ari …hingga Kiai Abdu Hamid Pasuruan. RahimahumuLlhu ajma’ien.
Setiap bulan Rabi’ul Awal, memang banyak di antara kita yang sengaja mendatangi tempat dimana ‘percik-percik’ kebeningan mata air coba dikemukakan. Sekilas-sekilas kemilau kejernihannya tampak oleh kita; namun belum sempat kita menyerap kesegarannya, sampah-sampah yang membanjiri sungai sudah melanda kita.
Gemerlap sampah-sampah yang deras itu begitu canggih menutupi sisa-sisa air mata air, hingga kita tak lagi dapat atau sempat membedakan mana yang warna sampah dan mana yang warna air. Kekeruhan yang sempurna. Masya Allah!
Meratapi nasib saja tak ada gunannya. Kita yang berada di hilir ini masih bisa menapis dan menyaring untuk mendapatkan air yang bersih. Apalagi zaman sekarang menyediakan berbagai fasilitas canggih untuk itu. Tinggal kita. Maukah kita menyempatkan diri melakukan penapisan dan penyaringan itu, atau bahkan mau bersusah payah naik ke hulu, mencari mata air. Ataukah kita masih asyik dan sibuk dengan sampah-sampah limbah hingga tak merasa perlu dengan air jernih nan bersih?