Saturday, 19 January 2013

Biografi Kupu-kupu, puisi Sitok Srengenge




BIOGRAFI KUPU-KUPU



Kubisikkan keinginanku kepada peri kupu-kupu

agar disampaikan kepada langit dan dikembalikan

sebagai keindahan



Ia pun samadi di atas kelopak kembang

menggendam tenaga purba dari delapan penjuru mata angin

Angin berdesir, daun-daun bergoyang, sukmaku melayang

Dari ketinggian yang luas tanpa batas

kusaksikan tubuhku menyerpih bagai anyaman kapas



Aku lahir kembali ketika di sudut gelap puncak Acropolis yang kelam

seekor kupu-kupu meninggalkan kepompong dengan sayap kusam

Pijar api di genggaman Prometheus telah lama padam

Alangkah kasihan! Lalu Dewi Pelangi yang terharu

menangkupkan selendang suteranya ke pundakku



Aku pun terbang ke Timur, ke sumber cahaya

hinggap di gigir Tembok Besar, memandang hijau hutan

liku-liku lembah, tebing-tebing cadas coklat-kemerahan

Nun di bawah ladang yang tandus, tak jauh dari Gunung Li

kusaksikan laskar terakota dengan tubuh kaku dan paras pasi

seolah hendak mengabarkan padaku: kematianlah yang abadi

Alangkah kasihan! Lalu kukepak sayapku dan angin bernyanyi

merasuki tubuh para prajurit itu dan seketika bernafas kembali

Mereka menyebar ke dusun-dusun pinggiran Provinsi Shaanxi

hidup bahagia sebagai petani, dan ketika musim tanam berlalu

sebagian menggambar atau menulis dongeng tentangku



Bersama arwah orang-orang yang gugur demi cinta

di bukit-bukit sunyi bagian bumi utara

kuarungi angkasa Pasifik, belanga agung yang haus kehidupan

Taifun kabut dan badai salju kujadikan titian



Di padang-padang gersang benua baru

di antara gerumbul kaktus dan semak perdu

aku terlempar bagai sebutir kerikil batu berbercak darah

Alangkah kasihan! Lalu Roh Agung meniupkan nafas dari surga

dan jadilah aku duta penyampai mimpi kaum berwajah merah

Menjelang musim panas tiba, kuluruhkan seluruh warna

pada sayapku yang tembus pandang mereka membaca cuaca

Peluhku akan menjelma hujan

dari dakiku tetumbuhan bersembulan



Bila kutangkupkan sayap-sayapku

musim dingin datang, nafas putihku menaburkan serbuk salju

Para prajurit memujaku sebagai titisan pahlawan pemberani

para orang tua pilih bersunyi diri bersamaku sebelum mati

agar arwah mereka bahagia dan kembali

sebagai kupu-kupu, dan ketika kupu-kupu mati

sampailah mereka ke Kosong Abadi



Arwah para pencinta ini,

mereka merindukan kobar api

mendamba moksa dalam nyala

meluruhkan yang busuk dan sia-sia

Mereka pun ingin menghibur diri dengan bernyanyi

seperti pernah mereka lakukan bersama para Siren di lautan

atau menari bersama Sembilan Muse di angkasa dan daratan



Demi menghormati kaum burung, aku memilih diam

diam-diam hinggap di kelopak bunga menghisap madu

atau melayang tenang lalu bertandang ke ruang tamumu

Bila kau baik padaku, akan kubawakan mimpi ke tidurmu

dan bila kau berkenan membisikkan keinginan

akan kusampaikan ke langit, agar dijelmakan

sebagai keindahan



1989