Friday, 18 January 2013

Cermin ~ Ketamakan dan Hamba Dunia




Di Sebuah Desa Qurtubah Syeh Muso terkenal kehebatannya. Bisa terbang, menghilang dan ma'rifat, begitu kata para masyarakat desa. Ibadah sholat dan dzikir tak pernah ia lewatkan. Puasa tirakat juga ia lakukan. Banyak masyarakat desa yang berkunjung meminta berkah. Cepat dapat jodoh. Usaha lancar. Bisa sukses dalam Pemilu. Dan lainnya dan sebagainya.

Suatu hari ada kabar dari para tetangga kalau di desa sebelah ada pohon tua-konon berpenghuni Syetan- yang dipuja oleh masyarakat sekitar.

Mendengar berita tersebut Syeh Muso berang. Kemudian ia pergi ke desa tersebut guna menebang pohon tua itu agar tidak ada yang memuja lagi. Di tengah perjalanan syetan menghadangnya. Bertengkar hebat, sengit dan Seru. Akhirnya syetan ditendang, dibanting dan ditekuk kedua tangannya oleh syekh Muso. ''Ampun, saya mengaku kalah. Dan tidak akan mengganggu masyarakat lagi''rayu syaitan.

Seminggu kemudian pemujaan pohon tua terjadi lagi. Syekh Muso berkelahi dengan Syetan seperti dulu. Hebat, sengit dan seru. Pada akhirnya,
''Ampun. Saya menyerah,'' kata syekh Muso.
''Dulu aku kalah karena kau datang dengan keikhlasan dan sebagai hamba Allah. Tapi sekarang kau kalah karena kau datang dengan ketamakan dan sebagai hamba dunia saat kumerayumu dan berjanji kepadamu akan kau dapati uang di bawah sajadah sehabis kau sholat,'' bujuk syetan saat ia dikalahkan oleh syekh Muso waktu itu. Lanjutnya, dan kini kau mendatangiku dan memerangiku saat aku tak lagi memberi uang yang kau inginkan.''

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon