Sunday, 27 January 2013

Di Hamburg Sepi Menghambur





DI HAMBURG SEPI MENGHAMBUR



Kecuali kelam cuma angin compang-camping

seusai sepi merajamkan sejuta taring

Hawa jekut bersalto di perut gelandangan

bayang-bayang maut dari ghetto masa silam



Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung

lidahnya menjilati patung-patung di taman

Udara menggelepar, menanggung gaung

menebar bau rawan peraduan



Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi

sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi



Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar danau itu

tapi masih tersisa isyarat yang mengeruhkan kalbu

: di lorong-lorong Metro, ketika rinding riuh kehilangan echo,

lolong sengau dan kerling menjauh bagi kulit sawo



Sepi meringkuk berselimut kabut tebal

di pucuk menara katedral

dengkur lembut yang ngalir dari bawah sadarnya

melantunkan Talmud dan mimpinya sinagoga



Riap tunas kembang menyingkap jangat bumi

: ada yang sedang berdandan, barangkali musim semi



Busut-busut salju mulai memuai

bagai lisut seprai. Rambut angin kusut masai

Yang berlanjut cuma kelam

merajut kelamin ke kelambu malam



Nafsu yang menggerakkan waktu

nafas yang menafikan belenggu beku

Tubuh yang melimbak

butuh yang meliur

Ke dalam sajak

sepi menghambur



1997