Thursday, 14 March 2013

di jalan Ijen. kau dan Hujan. ~ sanjak: Timur Sinar Suprabana



Timur Sinar Suprabana:





di jalan Ijen. kau dan Hujan





belum juga kautetapkan

apa yang panjenengan hendak pesan

ketika tibatiba Hujan

:tanpa tandatanda

kecup demi kecup tertunda

dan sepasang mata kita saling pandang penuh senda

:mereka melupa sendu

tiada yang meluap selain masih rindu

dan percintaan berulang semalam mulai menjelma candu



aku tahu

panjenengan ingin mengalihkan pandang mripatmu

dari tatapan mataku

namun toh engkau lebih pilih membiar jantung berdegup

dan dengan indah punggung telapak tanganmu jadi rebahan rasa gugup

dengan gelenyar merah muda di leher yang menolak redup.

”hujan,” katamu betul memang melamun

dan aku cuma bisa tertegun

ketika entah untuk apa panjenengan bertanya, “mengapa kau tak punya jakun?”



rasa ingin tertawa terhadang oleh ingin tahuku, “apakah engkau kecewa?”

dan tiada jawaban selain sendawa.

tibatiba kusadari ia menunduk dan airmatanya menetes berbulirbulir

mendadak kumengerti betapa kami mengalir tak ke hilir

namun toh segera pula buyar ketika hujan membawa angin yang berhembus silir.

”kopimu,” katanya sembari menyentuh ujung jari tengah telapak tangan kananku

dan kepadanya kugumamkan, “teguklah untukku.”

ia tertawa berderai

aneh…, hujan pun lerai



tinggal kami. tiada sanggup cerai

….



22.09. 14.12.2012. semarang.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon