Wednesday, 23 January 2013

di sinilah Kini aku ketika kau




Timur Sinar Suprabana:



di sinilah Kini aku ketika kau



di sinilah Kini aku ketika kau seolah kelopak bunga

asyik mewarniwarna helaihelainya

untuk ke pesta, nanti, di selepas lewat tiba senja

ialah ketika malam mulai kembali mendendangkan lagu lama



baru saja kuusaikan menata meja,

menggelarinya dengan taplak kotakkotak yang tak kusuka,

dan kucari lagi bijibiji catur yang dulu kaucuri

kerna kuingin bisa membiarkan masingmasing berdiri di tiap kotak sepi



”bisa tolong kauambilkan maskara itu,” katamu, seperti biasa, tanpa menoleh,

dan selalu tiap kuberi yang kaumau senantiasa kaukata, “bukan yang itu.

melainkan Itu.” maka kuambil Itu dan tetap ternyata beda dengan yang kaumau

hingga malam pun tiba, setelah senja lewat, dan di udara bertebar ribu maskara.



di sinilah Kini aku ketika kau, sendiri, pada sangkamu menujuku

yang tapi menjauh bahkan dari ujung terjauh bayang tubuhku.

”peta ini keliru,” katamu. “tidak memuat satu noktah pun yang mengisyaratkan padaku

di mana aku Bisa kembali mengingatmu. terlebih sampai dapat menjumpaimu.”



oh, peta yang keliru. cara berpikir yang juga klentu.

tentu, membuat langkah membawa dirimu ke jalan buntu.

alangkah aneh, baru kausadari, bahkan helaihelai dedaun dari pang mangklung itu

bukankah entah bagaimana mulanya selalu menutupi nama jalan dan nomor rumah diriku?



ya. di sinilah Kini aku ketika kau dipedaya anak kunci itu.



22.49. 20.01.2012. semarang.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon