Saturday, 26 January 2013

HAK ALLAH DAN HAK SESAMA HAMBA*

Tags



Bahkan satu bulan –di antara 12 bulan umur kita—yang dianugerahkan Tuhan, nyaris tidak kita gunakan sebagaimana mestinya. Rutinitas kesibukan yang tidak begitu jelas tetap saja berlangsung di bulan yang kita sebut-sebut sebagai bulan suci. Gegap gempita kita menyambut bulan Ramadan. Bahkan untuk lebih menunjukkan penghormatan kita kepada bulan istimewa itu, kita perlukan memasang sepanduk di jalan-jalan.” Marhaban Ya Ramadan. Selamat Datang, Bulan Ramadan. Hormatilah Bulan Ramadan!” Gegap gempita penyambutan yang kemudian disusul dengan gegap-gempita-gegap-gempita lainnya itu tak kunjung menjelaskan secara jelas: di mana letak kesucian atau keistimewaan bulan Ramadan yang kita hormati itu. Jangan-jangan sebutan kita kepada Ramadan “yang terhormat” itu hanyalah seperti tegur-sapa kita kepada para anggota DPR.



Mestinya, anugerah 1 bulan suci ini bisa kita gunakan untuk iktikaf, berakrab-akrab dengan diri sendiri; setelah 11 bulan lainnya kita hampir tidak sempat berdiam diri. Sibuk dengan berbagai kegiatan yang sering kali tidak jelas kaitannya terutama dengan urusan kehidupan abadi kita kelak. Tapi lagi-lagi kita lebih suka meneruskan kesibukan duniawi kita dan dari bulan Ramadan hanya kita ambil suasananya dengan mengubah gaya saja. Dengan kata lain, nuansa ukhrawi dalam kegiatan-kegiatan dan kesibukan-kesibukan itu, hanyalah kemasan . Sekedar menyesuaikan dengan timing Ramadan.



Pihak pengusaha dan industri yang naluri nawaitunya bermula dari kepentingan duniawi pun, seperti di hari-hari dan bulan-bulan lain, tetap lebih terasa mendominasi kegiatan-kegiatan ukhrawi kita. Lihatlah kekontrasan ini: harga bahan-bahan makanan naik menjelang bulan puasa. Ramainya pasar, mall-mall, dan supermarkets pada ‘asyrul-awaakhir , pada hari-hari penting ibadah Ramadan yang terakhir.

Lihatlah pula acara-acara di televisi-televisi. Semuanya, dengan sedikit sekali pengecualian, masih tetap seperti itu. Mengiklankan kehidupan mewah duniawi.

Kesibukan-kesibukan para politisi dan pengamat, sebagaimana diberitakan pers, pun masih kesibukan-kesibukan yang itu-itu saja. Pamer benar dan pamer pintar. Tetap tidak tergerak mempergunakan bulan perenungan ini bagi mereformasi diri sendiri.



Kaum muslimin sendiri, di bulan yang sering mereka sebut sebagai bulan perenungan, bulan beri’tikaf dan tafakkur itu, ternyata lebih mengekspresikan keIslaman mereka dengan kegaduhan-kegaduhan. Perhatian mereka terhadap diri sendiri dalam rangka perbaikan dan peningkatan kedekatan kepada Allah, masih kalah dengan perhatian mereka terhadap pihak lain yang mereka anggap keliru. Namun ketika mereka sedang ‘mensyiarkan’ agamanya, mereka justru seperti tidak memperhatikan pihak lain.



Kini bulan anugerah Allah --dengan suasana yang amat kondusif untuk merenung dan memikirkan peningkatan kualitas kehidupan kita sendiri—itu sudah beranjak pergi. Kita sudah akan merayakan hari yang sering kita sebut Hari Kemenangan. Idul Fitri. Hari Kemenangan? Kemenangan dari apa? Apakah kita kemarin baru saja berperang, berlaga, atau berlomba? Melawan siapa atau apa? Apakah karena kita telah berhasil sebulan menahan diri tidak makan-minum di siang hari? Bukankah itu telah kita balas dengan melipat-gandakan makan-minum di malam hari? Atau setidaknya itu hanya mengubah jadwal makan kita? Atau kita telah berhasil memperlihatkan kedekatan kita kepadaNya? Ataukah kita telah berhasil menang atas musuh kita yang terbesar: diri kita sendiri?



Apa pun dan bagaimana pun, kita –khususnya kaum muslimin—telah berhasil melaksanakan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan dan tentunya kita berharap Tuhan menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah bersabda, “Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddamaa min dzanbihi.” (Hadits sahih muttafaq ‘alaih dari shahabat Abu Hurairah) “ Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan semata-mata karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.”



Tuhan memang Maha Pengampun dan suka mengampuni. Lembaga pengampunannya banyak sekali. Enaklah kalau kita berhubungan dan bergaul denganNya. Di samping Pemurah, Pengasih, dan Penyayang, Ia juga Syakuur. Menerima amal ikhlas hamba-hambaNya seperti apa pun bentuknya dan mengampuni kekurang-kekurangan mereka.



Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Yaitu bahwa di hadapan kita ada dua hak. Hak Allah dan hak sesama hamba. Kemurahan Allah dan kemudahanNya mengampuni itu bila berkaitan dengan hakNya. Apabila menyangkut hak sesama hamba, keadilanNya menentukan: Ia tidak akan mengampuni sebelum di antara sesama hamba itu menyelesaikan urusan mereka. Artinya, apabila kita mempunya kesalahan kepada sesama hamba, Allah tidak akan mengampuni sebelum hamba yang bersangkutan memaafkan kesalahan kita itu.



Ada hadis sahih (riwayat imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah) yang menggambarkan kebangkrutan sementara umat Muhammad SAW kelak di Hari Kiamat. Mereka yang bangkrut itu ialah mereka yang datang di Hari Kemudian membawa sekian banyak amalan-amalan salat, puasa, dan zakat; namun semasa hidupnya di dunia suka melakukan perbuatan buruk kesana-kemari kepada sesama: mencaci ini, menuduh itu, memakan hartanya ini, melukai ini, memukul itu. Nanti pahala-pahala amal mereka diambil dan diberikan kepada orang-orang yang pernah mereka lalimi. Dan apabila pahala-pahala amal mereka habis, padahal masih banyak orang yang haknya belum terpenuhi, maka dosa orang-orang yang bersangkutan akan diambil dan ditimpukan kepada mereka. Akhirnya mereka pun dilemparkan ke neraka. Na’udzubillah.



Nah, kita sering kali berpikir terbalik. Terhadap Allah Yang Maha Pemurah, Penyayang, Pengampun, dan Syakuur, kita begitu bersitegang menyikapi hak-hakNya. Soal kiblat salat kurang miring sedikit, ribut. Soal wudhunya orang yang terlanjur bertatto, ribut. Soal beda awal Ramadan atau awal Ied, ribut. Dan sebagainya dan seterusnya. Sementara terhadap sesama manusia yang umumnya mudah kesal dan marah, pembenci, dan sulit memaafkan, kita malah sembrono. Menganggap ringan. Begitu gampangnya melukai dan menyakiti sesama. Begitu entengnya merampas hak dan memakan harta sesama. Dan sebagainya dan seterusnya. Bahkan ada yang karena bersitegang membela ‘hakNya’ , sampai harus menginjak-injak hak sesama. Seolah-olah tahu persis kehendak dan sikapNya.

Kalau pun kita tidak ekstra hati-hati terhadap sesama manusia yang perangainya relatif sulit, setidaknya sama hati-hatinya dengan sikap kita terhadap Tuhan kita yang Pemurah. Orang yang saleh ialah orang yang baik kepada Tuhannya dan sekaligus baik kepada sesama hambaNya.



Dari sini, kita tahu betapa arifnya para pendahulu kita yang mentradisikan tradisi khas kita. Tradisi halal-bi-halal. Saling meng-halal-kan antara sesama. Bagi para pemimpin dan tokoh-tokoh publik boleh jadi agak sulit untuk memohon maaf dan meminta halal, bila kesalahan dan perampasan hak dilakukan kepada banyak pihak. Namun , demi keselamatan di kemudian hari, kiranya sesulit apa pun perlu diupayakan. Pers dan media massa kiranya bisa membantu. Selebihnya dan selanjutnya diperlukan kehati-hatian . Wallahu a’lam.



Selamat Idul Fitri. Mohon maaf segala kesalahan lahir dan batin. Kullu ‘aamin wa Antum bikhair!



*Di muat Kompas Sabtu, tg 18 Agustus 2012


KH. Musthofa Bisri {GusMUs}