Wednesday, 30 January 2013

MALAM LARUT MEREMBULAN DI BAHUNYA


malam larut Merembulan di bahunya ~sajak: Timur Sinar Suprabana




malam larut Merembulan di kedua bahunya



: jilal, ah.., jilal



jakarta menggemerlap di matanya

bukubuku tertata rapi di benaknya

sajaksajak mengesumba di hatinya

lukisanlukisan mewarniwarna di dadanya

tarian dan jazz menjelita di langkahnya

aku, sepandangdua, membiar diri terpesona

mengiklaskan malam dan ruang

leleh riang berjarak dengan bimbang

sampai bahkan cahaya dan kesedihan

yang sebelum ini tak pernah bisa kusatukan

: tergelak berbarengan



tak ada kopi dalam tiap pertemuan kami

hanya air bening dalam botol

tapi itu sudah bikin semua njauh dari mimpi

dan terhindar dari gurauan tolol.

sesekali tiap seperempat jam

aku ingin merokok

tapi ia berkata, “jangan Kejam

tunggu sampai ayam berkokok.”

lalu ia terbatuk,

sentakan di bahu menghardik kantuk.



malam

makin malam.

benarbenar malam.

ia belum juga pejam.

bahkan tak tampak pengin diam.

oh, senan bisa bertabik

dengan orang baik

di kota yang penginnya mencabik.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon