Sunday, 27 January 2013

MENGENANG KH ABDULLAH FAQIH

Tags








Ini tulisanku di Jawa Pos hari Jum'at, 2 Maret 2012, halaman 1-2:



In memoriam: KH Abdullah Faqih

HAMBA ALLAH DARI JAWA TIMUR



Oleh: A. Mustofa Bisri

Puluhan ribu orang datang melayat ke Langitan, Widang,Tuban. Entah berapa ribu lagi yang ingin datang tak kesampaian. Jalan raya pantura macet 5 km terhambat lautan manusia. Sehari sebelumnya, hari Rabu, 29 Februari 2012, para pelayat sudah mulai berdatangan. Sementara di gedung PBNU dan beberapa tempat lain, orang-orang berdzikir dan berdoa. Belum lagi mereka yang menyampaikan takziahnya melalui SMS, Facebook, dan Twitter. Pada hari Rabu itu, sekitar jam 18.30, tokoh spiritual kharismatik NU, pengasuh Pesantren Langitan: KH Abdullah Faqih dipanggil ke hadirat Ilahi. Innaa liLlaahi wainnaa ilaiHi raaji’uun.



Apabila ciri utama waliyullah, kekasih Allah, itu istiqamah dan dicintai orang banyak, maka pastilah Kiai Abdullah Faqih –seperti keyakinan saya— termasuk waliyullah. Saya kebetulan mendapat anugerah kenal secara pribadi dan sering menjadi ‘penderek’ kegiatan yang melibatkan kiai tawaduk berwajah manis ini. Saya termasuk yang bersaksi mengenahi keistiqamahan beliau; baik istiqamah secara bahasa (lughatan ) mau pun menurut istilah (isthilaahan).



Semua orang tahu belaka keistiqamahan beliau dalam menjunjung tinggi norma-norma dan ajaran Islam. Karena hal itu mewujud dalam sikap dan perilaku beliau sehari-hari. Beliau adalah jenis kiai yang sebenar-benar kiai. Kiai yang berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin mengikuti dan meniru jejak pemimpin agungnya, Nabi Muhammad SAW. Beliau lembut, penyayang, rendah hati, ikhlas, dan suka menolong. Mereka yang pernah bergaul dengan Kiai Abdullah Faqih pasti bisa bercerita banyak tentang kelembutan sikap maupun tutur kata beliau.

Catatan GusMus


Kiai Abdullah Faqih istiqamah mengayomi santri dan masyarakat. Bahkan mengayomi para kiai yang ‘berijtihad’ berjuang melalui politik praktis. Beliau mengayomi seraya mendidik. Beliau mengayomi dan mendidik –tidak hanya mengajar-- para santrinya. Beliau mengayomi dan mendidik masyarakat dengan sikap –tidak hanya dengan tutur kata. Ketika para kiai pendukung Gus Dur merasa kecewa, Kiai Faqih mengayomi mereka dengan menyediakan perhatian dan pemikiran –tidak hanya waktu dan tempatnya.



Saya menggunakan istilah mendidik, karena Kiai Abdullah Faqih memang tidak sekedar member nasihat dan bila beramar-makruf-nahi-munkar hampir tidak terasa ‘amar’ mau pun ‘nahi’-nya oleh sebab kelembutannya itu tadi . Menasehati pun, beliau tidak terasa menasehati, karena beliau menyampaikan dengan ikhlas dan tidak menggurui. Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana beliau ‘menasihati’ Gus Dur, Allahu yarhamuh, dan Gus Dur menerima dengan berterimakasih.



Kiai Abdullah Faqih dari Jawa Timur adalah satu dari tiga hamba Allah yang sempat disebut-sebut sebagai ‘Penyangga Tanah Jawa’. Beliau menyusul dua hamba Allah yang lain yang sudah lebih dahulu dipanggil ke hadiratNya ; yaitu dari Jawa Tengah: Kiai Abdullah Salam Kajen Pati, wafat 11 November 2001 dan dari Jawa Barat: Kiai Abdullah Abbas Buntet Cirebon, wafat 10 Agustu 2007. Rahimahumullah. 3 Abadilah, hamba-hamba Allah, inilah yang dulu mempelopori mendukung Gus Dur agar menjadi Kiai Bangsa saja, tidak menjadi – sekedar—presiden. Namun, ketika Gus Dur berijtihad menjadi presiden, mereka ini tidak menghalang-halangi.



3 tokoh Abdullah dari Jawa ini memang mempunyai banyak kemiripan. Mereka kiai pengasuh pesantren dengan ilmu keIslaman yang cukup dan akhlak yang mulia. ‘Mewakafkan’ diri mereka untuk masyarakat dan tidak pernah mementingkan diri sendiri. Menyintai dan peduli terhadap Indonesia dan rakyat Indonesia. Ikhlas berjuang untuk itu secara lahir dan batin. Beramal dan berdoa. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang indah di sisiNya.



Dengan wafatnya Kiai Abdullah Faqih, rahimahuLlah, habislah sudah ketiga Abdullah, hamba Allah yang disebut-sebut sebagai ‘Penyangga Tanah Jawa’ itu. Mereka diambil oleh Kekasih mereka berserta ilmu-ilmu dan akhlak mereka. Mudah-mudahan ini bukan pertanda Allah membiarkan negeri ini menjadi semakin terpuruk dengan banyaknya umara dan ulama suu’. Tapi semoga justru Allah akan menolong negeri dan bangsa ini dengan memunculkan lagi hamba-hamba teladan seperti 3 kiai Abdullah itu; seperti pepatah harapan: Gugur satu tumbuh seribu. Semoga.

CATATAN GUSMUS