Wednesday, 23 January 2013

Metamorfosis Kecemasan

Tags





Metamorfosis Kecemasan



“Jutaan orang hilang dan dihilangkan. Jutaan orang mati, dibunuh. Dan, celaka, kita begitu gampang melupakan mereka dan para pembunuh mereka.”





Aku harus membunuh dia. Aku tinggal menarik pelatuk dan terburailah isi kepalanya; mati seketika. Kematian yang praktis dan efisien. Tapi tidak! Itu terlampau enak buat dia. Setan! Dengkurnya makin keras dan tik-tak jam bersicepat dengan detak jantungku. Dengan nafas tertahan aku memurukkan diri ke sudut gelap, mengawasi tubuhnya yang berkeringat di pembaringan. Dia bergedabikan dan melenguh berkali-kali. Aku terdiam dan menggenggam pistol di pangkuan, mereka-reka kematian yang lebih mengasyikkan. Kematian yang bakal terus melekat di benak siapa pun yang mengenal dia atau siapa pun yang mengetahui bahwa dia pernah ada. Setidak-tidaknya kematian yang bakal mengundang berbagai pertanyaan atau penafsiran orang. Kematian yang bagaimana? Aku belum pernah membunuh. Aku belum pernah dibunuh. Aku juga belum pernah melihat seseorang dibunuh atau membunuh. Bahwa aku pernah melihat hasil pembunuhan, memang iya. Bahkan terlampau sering. Yang kuketahui bahwa orang mati sudah tak bisa makan dan minum dan tak bisa bermain-main lagi. Orang-orang menyebutnya sudah menjadi bangkai atau mayat dan karena itu mesti dikubur ke dalam tanah. Tetapi ketika aku bertanya kenapa ada bangkai, berpuluh-puluh bangkai, setiap hari, dan tidak dikuburkan, orang-orang dan kedua orang tuaku tidak pernah menjawab. Berpuluh-puluh bangkai itu timbul-tenggelam bersama rupa-rupa sampah terhanyut ke hilir dalam aliran air bengawan yang kuning kecokelatan dan berlumpur yang meluber melewati tanggul dan menggenangi lorong-lorong dan pekarangan rumah di kampung kami setiap kali sehabis hujan deras. Penduduk kampung kami, termasuk kedua orang tuaku dan aku dan kawan-kawan sepermainanku, saling bersicepat ke tempat lebih tinggi di sepanjang tepian bengawan dan menjublak diam menyaksikan berpuluh-puluh bangkai terseret arus air kuning kecokelatan dan berlumpur. Satu-dua bangkai tersangkut belukar bambu bercarang duri dan tertahan di sana setelah air bengawan surut. Tetapi toh ketika hujan berikutnya meluberkan air bengawan melewati tanggul dan menggenangi lorong-lorong dan pekarangan rumah di kampung kami tetap saja ada bangkai tersangkut belukar bambu dan tertahan di sana. Orang-orang hanya mengawasi dari kejauhan, seperti juga anjing-anjing di kampung kami yang menyalak-nyalak atau menggeram dengan air liur terus-menerus menetes dari moncong mereka. Tidak ada yang mengusik bangkai itu atau menurunkan dan menguburnya. Berpuluh-puluh bangkai tetap tinggal, tak terhanyutkan air bengawan yang setiap kali sehabis hujan deras meluber melewati tanggul, menggenangi lorong-lorong dan pekarangan rumah. Satu bangkai tergolek di dekat rumpun kembang ceplok piring di pekarangan rumah orang tuaku dan tetap ada di situ karena kemarau sudah tiba dan air bengawan menyurut berbulan-bulan. Bangkai itu tergolek tanpa pernah ada apa atau siapa pun yang mengusik. Anjing-anjing di kampungku hanya menyalak-nyalak atau menggeram dari kejauhan dengan air liur terus-menerus menetes dari moncong mereka. Tak ada yang mengenali wajahnya karena seolah-olah bangkai itu sebelumnya tak pernah memiliki wajah. Tak ada semut dan lalat atau serangga apa pun yang menggerumiti bangkai itu. Dan bangkai itu tidak berbau. Bapakku dan beberapa orang tetangga memagari bangkai itu dengan carang-carang bambu berduri membentuk lingkaran lonjong. Setiap hari selalu ada orang berdiri di sekeliling pagar menyaksikan bangkai itu. Aku dan kawan-kawan sepermainan selalu mencari tempat di sela-sela kaki mereka. Berangsur-angsur para penonton itu berkurang hingga tinggal aku dan beberapa kawan sepermainan yang menongkrongi dari luar pagar, sementara beberapa ekor anjing menyalak-nyalak atau menggeram dari kejauhan dengan air liur terus-menerus menetes dari moncong mereka. Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain-main atau sekadar berjongkok di luar pagar carang bambu melihat bangkai itu sembari berdebat atau menebak-nebak dari mana asalnya dan apa jenis kelaminnya. Sewaktu kawan-kawan pulang untuk makan, tinggallah aku sendirian seraya disuapi ibuku. Dan setiap kali aku bertanya apa saja mengenai bangkai itu, ibuku cuma tersenyum tanpa menjawab sampai aku bosan bertanya-tanya. Lama-lama kawan-kawan sepermainanku bosan bermain-main di pekarangan rumah orang tuaku. Tinggal aku yang masih sering berjongkok di luar pagar carang bambu memperhatikan bangkai itu; juga beberapa ekor anjing yang menyalak-nyalak atau menggeram dari kejauhan sembari meneteskan air liur terus-menerus dari moncong mereka. Suatu hari aku mendapati sekuntum kembang merah cemerlang tanpa daun tanpa batang menyeruak begitu saja dari pusar bangkai. Kembang itu meruapkan bau harum menyenangkan. Dengan ketakjuban tak habis-habis aku memberi tahu bapak dan ibuku yang segera berlari keluar rumah. Para tetangga dan kawan-kawan sepermainanku kembali berdatangan mengerumuni bangkai yang sekarang berkembang itu dari luar pagar carang bambu. Makin hari kerumunan orang di pekarangan rumah orang tuaku kian banyak. Dan kembang itu makin hari kian mekar sampai seukuran meja makan milik orang tuaku. Warna merahnya makin cemerlang. Bau harum menyenangkan meruap makin kuat. Berbagai jenis kupu-kupu beraneka warna dan corak berganti-ganti hinggap dan terbang. Orang-orang datang silih berganti, berdesakan, riuh bergeremang memenuhi pekarangan. Bapak dan ibuku mengeluarkan meja makan ke teras rumah untuk berjualan dawet dan sirop cao dan tebu dan gulali. Aku senang sekali bisa makan gulali setiap saat tanpa membeli. Kapan saja menginginkan aku tinggal mengambil. Kadang aku membaginya dengan kawan-kawanku. Tetapi kegembiraanku tak berlangsung lama. Suatu hari kerumunan di pekarangan tersibak buyar ketika serombongan serdadu merubuhkan pagar carang bambu dan mencungkil kembang merah cemerlang seukuran meja makan milik orang tuaku yang meruapkan bau harum menyenangkan itu dengan linggis, lantas menggotongnya ke atas truk dan pergi entah ke mana. Tinggal orang-orang riuh bergeremang. Saat itu aku tidak memperhatikan benar tindakan para serdadu itu. Aku lebih terpesona pada kegagahan mereka. Sayang mereka tidak membawa bedil atau senapan seperti pernah kusaksikan di alun-alun bersama bapak dan ibuku ketika ada serombongan serdadu berbaris berderap-derap memanggul senapan seraya menyanyi keras-keras. Aku baru merasa kehilangan sesuatu setelah pekarangan lengang; kulihat bapakku menumpuk carang-carang bambu bekas pagar bangkai berkembang merah cemerlang dan meruapkan bau harum menyenangkan itu di teritisan samping rumah kami, sedangkan ibuku tertatih-tatih mengangkat meja makan ke dalam rumah. Aku terduduk di bawah cucuran atap di depan rumah sembari menjilati gulali. Di lorong sudah tak ada lagi anjing yang menyalak-nyalak atau menggeram seraya meneteskan air liur dari moncongnya. Kawan-kawanku berkejaran dan makin jauh, bermain tembak-tembakan dengan senapan pelepah daun pisang. Keesokan harinya kulihat sekuntum kembang seperti kembang sebelumnya muncul dari tempat semula. Dari hari ke hari kembang merah cemerlang tanpa daun tanpa batang dan meruapkan bau harum yang menyenangkan itu mekar sampai seukuran meja makan orang tuaku. Lagi-lagi datang serombongan serdadu berseragam loreng mencungkil, lantas membawanya pergi entah ke mana. Tanah tempat kembang itu tumbuh mereka tutup dengan pasir dan batu dan semen. Keesokan harinya kulihat sekuntum kembang yang sama menyeruak begitu saja dari onggokan batu semen penutup. Namun beberapa hari kemudian, sebelum kembang itu seukuran meja makan milik orang tuaku, datanglah para serdadu menyemprotkan sesuatu dan membakarnya. Kembang itu jadi abu dan tempat bekas tempat tumbuhnya mereka timbuni batu hitam sebesar kerbau. Berhari-hari, berbulan-bulan kemudian tidak tampak sesuatu yang menunjukkan bahwa kembang itu bakal tumbuh lagi. Aku pun nyaris melupakannya sampai suatu pagi ketika aku sudah bersekolah kulihat sekuntum kembang merah cemerlang tanpa daun tanpa batang tumbuh menyeruak di atas batu hitam sebesar kerbau itu dan meruapkan bau harum yang menyenangkan. Begitu bapakku mengetahui dan sebelum orang-orang atau serdadu datang, kembang yang masih selebar telapak tanganku itu dia cungkil dan buang ke lubang kakus sembari berpesan agar aku tak menceritakan apa saja tentang kembang itu kepada siapa pun. Aku, yang terbiasa menghadapi kebungkaman sejak berpuluh-puluh bangkai terhanyut olakan air bengawan kuning kecokelatan yang berlumpur setiap kali sehabis hujan deras mengguyur dan air meluber melewati tanggul dan menggenangi lorong-lorong dan pekarangan rumah di kampung kami, cuma mengangguk-angguk seperti orang-orangan di sawah menjelang panen. Sejak saat itu pula aku terdidik untuk tidak banyak bertanya-tanya. Dan kami sekeluarga pun pindah ke kota lain. Kelak ketika dewasa, apalagi ketika mampu bepergian ke mana pun, aku mengetahui bahwa kembang-kembang merah cemerlang tanpa daun tanpa batang berbau harum menyenangkan menyeruak begitu saja dari tanah atau lantai semen, di atas batu gunung, marmer, pekarangan sekolah, kantor, pasar, alun-alun, trotoar, bantaran sungai, sepanjang rel kereta api, lapangan bola, sawah, lobi hotel, rumah sakit, atau di kamarku yang menggerahkan ketika serombongan serdadu berseragam loreng sekonyong-konyong muncul dari balik nisan-nisan yang bersembulan dan memberondongkan tembakan ke arahku. Aku terkapar dan melolong kesakitan. Tubuhku berdarah-darah. Susah payah aku bangkit dari tumpukan mayat, berpuluh-puluh, beratus-ratus mayat, di atas pembaringanku. Darah menggenangi lantai kamar, amis, anyir. Membarah. Aku terhoyong-hoyong menuju ke jendela dan membukanya. Sinar hangat matahari memasuki kamarku. Sewaktu berbalik kulihat tubuhku bersandar ke dinding di sudut kamar dengan dada telanjang dan keringat berleleran sembari menggenggam pistol. Siapa lagi yang kubunuh semalam? Peduli setan! Kuseret tubuhku memasuki kamar mandi. Aku toh harus segera membersihkan diri dan berangkat kerja.







Candisari, 29 Mei 1995 & 23 Desember 2001



* dari buku kumpulan cerpen Nyanyian Penggali Kubur (Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri, 2011)

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon