Wednesday, 23 January 2013

pauk ~sajak: Timur Sinar Suprabana




Timur Sinar Suprabana:



pauk





seperti angin ketika mendesau

ke jauh dengan risau,

angina njojoh merata

mengacaukan pandang mata,

rasa pegal di tengkuk

bikin nyeri teraduk.



hendak ke manakah aku

jika ragu menuju ke kau?

rasa bosan menunggu

bikin segala sewarna sagu,

begitu gelap

begitu lengket dan senyap.



aku butuh datang

namun bagaimana bisa jika tak kauundang?

aku rindu memeluk

tapi kau tahu tiada itu bisa jika tak kaujaluk.

maka aku pergi

ini kali mencari ketela rebus buat kuragi.



di banyak titik pada ribu lajur jalan

bertebar dan mengapung kesunyian,

kerna orangorang

bahkan untuk berangan telah pula gamang,

dan burungburung sudah lama tak terbang melintas

hingga udara pun terhampar pias dan kebas.



ingin kembali bisa kudengar

pernyataanpernyataan yang tak mengandung gentar,

amarah, harapan berlebihan, atau pun rasa getir

yang cuma bikin mandeg segala yang dulu mengalir,

dan kupisah diri sejauh yang kubisa dari koran,

televisi, desasdesus dan tudingan yang berbau selokan.



ada kalanya, kadang dengan telapak tangan berkeringat,

aku menemu diri sedang berurusan dengan entah berapa banyak jerat,

seperti menempuh jalan ratusan kilometer penuh lubang dalam

hingga perjalanan pun tak bisa bebas dari waswas dan kelam.

ketika itu orangorang justru berpesta tiap jam

tanpa peduli hari telah jauh melampaui malam.



pauk

saling memeluk

....

pagut memagut,

renggut merenggut

....





12.25

30 oktober 2012

semarang.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon