Friday, 18 January 2013

Senyawa Hujan, puisi Sitok Srengenge



SENYAWA HUJAN



Bila kau berkenan, bacalah sajak ini ketika turun hujan

akan kaudengar irama musik yang belum pernah dicipta

mengalun dari jauh, dari ruang semayam semua kenangan



Mungkin, jika kau beruntung, bisa juga kausaksikan

seorang penyair yang dilupakan berjalan menggigil

dan di langit gelap terdengar siul ganjil emprit ganthil



Seseorang yang ia cintai telah mati

lubang hitam dalam hati mustahil tertutup lagi

Ia simak seksama segala yang tak bertahan

angkasa yang mendadak angkuh, ruang mengelam

cahaya luruh, atau bayangan terkapar di jalan

Ia merasa tak sendiri, mereka pun kesepian



Bahkan hujan yang saat itu memeluknya

adalah rintik rindu segugus planet pada bunga

pada akar pada mata air pada sungai pada lautan

Ia merasa tak sendiri, setelah senyawa dengan hujan



Cinta hanya fantasi yang melayang di udara lembab

kadang membayang, sekejap, lalu lenyap

seperti bianglala melengkung di langit senja

: sihir warna, hadir sementara



Segala yang indah akan luruh bersama hujan

kecuali kelebat maut dalam sajak yang kaubaca

seperti irama musik yang belum pernah dicipta

selekas sang kala mengirim peluh lautan

ketika angkasa angkuh dan ruang mengelam

ke tubuh penyair yang menggigil di jalan

tapi merasa tak sendiri, setelah senyawa dengan hujan



1991

1 komentar so far

Hujan berturut mengalir jatuh di laut
Membawa berita dari sang petir untuk muara

Disana letih suara langit menjerit
Menangis meratapi rintih sang penyair

Berhambur di pelabuhan

Bianglala gugur dalam setitik kenang di angkasa

Berpijarlah lagi ...

Masih ada asamu untuk tenang menanti

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon