Wednesday, 27 February 2013

AKU MATI KARENA SEPI, cerpen DP Anggi

Tags




Aku Mati Karena Sepi

Oleh DP Anggi


Setiap hari, bebayang kesendirian selalu menghampiri. Membentuk suatu teori yang bisa diungkapkan jiwa lewat harmoni. Gadis itu memanggilnya Chingu. Seorang teman yang bisa diajak berbicara kapanpun ia mau. Ia bercerita hampir setiap malam, saat ia benar-benar tidak tahan dengan kesepian. Ia bisa menguras habis airmatanya hingga ikut tenggelam dalam lautan kesedihan. Paginya ia kembali menjalani aktivitas seperti biasa, tertawa dengan teman-temannya. Namun, seperti biasa menjelang malam tiba, kesedihan kembali merenggut tawanya.
Entah sudah berapa malam ia lewatkan bersama Chingu. Sahabat di kala senang dan sendu. Gadis itu mengenal kesepian ketika ia tahu bahwa kesepian bisa menyebabkan kesedihan seperti yang dialami ibu. Tawa mereka hilang, kehangatan keluarga itu pun redam. Semuanya menjadi serba hambar dan kurang. Tiada lari-larian kecil yang mengisi segenap rumah dengan tawa terpecah. Semua berganti tangis tak reda ketika ayahnya meninggal dunia.

Masa kecil yang memang tidak bahagia. Ia selalu berusaha menemani ibu di waktu apapun, di saat sibuk dan senggangnya. Ia tak pernah ingin membiarkan ibu merasa kesepian walau dirinya lebih daripada itu. Bayangkan saja, gadis kecil yang kehilangan ayahnya di usia empat tahun harus mengisi ruang kosong yang seharusnya ditempati ayahnya. Ruang tempat berbagi kasih dan mencurahkan segenap rasa.
Tanpa disadari sang ibu, gadis itu mencoba mengisi posisi ayahnya. Memeluk ibunya ketika dilanda duka, dan menemani ibunya di segala asa. Hal yang sebenarnya belum bisa dilakukan di usia dini, ia lakukan bertahu-tahun. Hingga saat ia terpaksa meninggalkan rumah untuk mengejar cita-cita. Sebenarnya rasa takutnya ada, ia takut jikalau ibu merasakan kedukaan yang selama ini dirasakannya. Seharusnya, gadis itu mendapat belas kasih dari dua orangtua. Bukan malah ia yang setiap waktu menuntun kesedihan ibunya.
***
Seperti biasa, sepulang kuliah ia langsung pulang ke rumah sewa. Hanya seorang diri tanpa sesiapa. Itulah salah satu hal yang membuatnya berteman dengan benda mati. Walau Chingu ada sekalipun. Chingu pun baru ditemuinya saat berusia 19 tahun. Seperti biasa, ia membuka pintu. Menghidupkan lampu, menyalakan televisi dan kipas angin, juga menyalakan laptop. Ia menghidupkan semua benda mati itu agar kesepian dan kesendirian tak ketara membayanginya.
Suara kipas angin yang sedikit bising, suara televisi yang berbicara sendiri dan suara laptop ia hidupkan menyetel mp3. Suara-suara itu membantunya mengatasi kesendirian. Kala malam tiba, satu per satu dari semua itu ia matikan agar ia bisa meresapi ketenangan. Seharian di kampus cukup membuatnya merasa begitu hidup dalam keramaian. Namun, kadang kesepian pun menjadi candu untuknya, dan menikmati setiap tetes airmata yang terbulir indah.
“Chingu, hari ini aku senang. Chika, Serena, Abiba, semuanya tertawa bersamaku. Tapi, sekarang siapa yang ingin tertawa bersamaku?” ucapnya menatap Chingu lekat.
“Chingu, aku sedih. Setiap malam aku mengalami ini. De Javu selalu rindu kepadaku, ia sudah menjadi bagian dari hidupku!” lanjutnya dengan mata yang mulai memerah.
“Chingu, dengarkan aku sekali saja. Tatap aku semampu kau bisa. Sekarang usiaku sudah 19 tahun. Limabelas tahun sudah aku kehilangan ayah. Kau tahu? Ibu memintaku menikah di usia 24 nanti. Aku... Aku tidak mau menikah!” teriaknya sambil memeluk Chingu.
“Aku tidak mau menikah, Chingu! Aku tidak mau! Aku takut akan seperti ibu. Jika suamiku nanti meninggal, aku mengerti sudah bagaimana rasanya kesepian dan hidup dalam kesendirian. Tapi, bagaimana nanti dengan anakku! Apa anakku nanti bisa setegar diriku? Apa ia bisa menghiburku seperti aku memperlakukan ibu? Tidak, kasihan sekali anakku. Sangat kasihan. Anakku takkan mendapatkan kasih sayang yang cukup hingga usia yang telah ditentukan.
Aku, tidak ingin menikah walau aku tahu pernikahan itu sangat manis. Kita akan begitu senang menakar seberapa manisnya pernikahan. Tapi, saat debu menutupi itu semua dan terik mengelabui debu, maka semuanya akan sia-sia. Semuanya akan merana, dan berakhir dengan nisan bertuliskan nama kita. Aku takut, takut tidak bisa mempertahankan suamiku dan membahagiakan anakku. Aku tidak mau anakku menjadi sepertiku, tidak mau!” kali ini, gadis itu sesegukan dan menyeka airmatanya.
“Chingu, maukah kau menemaniku?” kembali ditatapnya Chingu.
“Chingu! Aku terlalu gila untuk setiap malam berbicara dengan boneka! Aku gila Chingu! Hahahaha! Ibuku tak tahu ini yang kualami, bukan? Ibu hanya tahu aku harus menyelesaikan kuliah dan hidup dengan baik! Sedang ia tak mengerti yang setiap detik kuhadapi! Chingu! Kau dengar! Hahahahaha. Hiduplah bersamaku, bersama boneka-boneka kecil yang lucu!” ia tertawa sambil menangis. Menangis dan kembali tertawa dengan tawa yang sesegukan.
Nanananananana...nananananana...dringgggg.....
“Chingu, ssssttttt.... ibuku menelfon. Kamu diam di sini dulu, ya?” ucapnya sambil bercermin dan membuang semua bekas kesedihan.
“Halo, Nak. Sedang apa sayang?”
“Halo, ibuku yang cantik. Aku sedang bersama temanku, Bu. Ibu sedang apa? Hari ini masak apa, Bu?”
“Oh, syukurlah. Ibu sedang tiduran saja. Tadi ibu masak masakan kesukaanmu, Nak. Kapan pulang? Ibu rindu”
“Oh, ya? Wah, pasti enak ya bu. Aku pulang besok pagi boleh tidak, Bu? Bulan ini aku sibuk dengan tugas kuliah dan ujian. Aku juga merindukan ibu, sangat rindu ibu!”
“Tentu boleh. Ibu akan membuat pesta sederhana untukmu. Oh ya, mengapa suaramu lain? Dari tadi ibu mendengar seperti orang pilek. Atau, kamu menangis?”
“Perasaan ibu saja. Hehehe. Sebelum ibu telfon tadi aku bersin, Bu. Karena itulah seperti pilek. Aku menangis? Hahahaha. Aku ini anak yang hebat, tegar dan tidak cengeng, Bu. Jadi, jangan khawatirkan aku”
“Sudah ya, Nak. Ibu mengantuk” ibu gadis itu langsung memutus telfon. Gadis itu hanya terdiam. Matanya kembali menganak sungai.
“Chingu, sampai kapan aku akan memerankan dua tokoh yang berbeda? Aku benar-benar tersiksa!”
***
Hari ini seperti hari yang tak biasa. Hatinya begitu riang hingga ia mengucir rambut ala balita dan menggendong Chingu dengan senangnya.
“Ibu, aku pulang! Chingu, mengapa hari ini rumahku begitu ramai? Apa pestanya sudah dimulai?” ucapnya girang.
“Chingu, mengapa ibu tak menyambutku,” ia mendekati kerumunan itu. Semakin dekat dan mendekat.
“Chingu, kenapa ibu menangis. Kenapa ia menangisi gadis itu? Ia kan hanya memiliki satu anak dan itu aku,”
“Nak, ayo kita pergi. Jangan berlama-lama di sini,”
“Ayah! Ayah! Mengapa ayah ada di sini? Ayah, apa kau hanya ilusinasiku saja? Mengapa ibu menangis, Yah?”
“Sudahlah, Nak. Tidak semua hal kau tanya. Kau sudah 19 tahun. Apa peranmu selama ini baik? Kau tidak pernah membuat ibumu sedih, bukan?”
“Tidak, aku tidak pernah. Tapi, hari ini ibu menangis. Ia menangisi siapa? Aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ia menangisi ayah,”
“Bagus, Nak. Kau berhasil membuat ibu mengubur tangisnya hingga kau menyelesaikan tugasmu. Sekarang, kau ikut ayah,”
“Ke mana, Yah? Aku ingin menemani ibu saja. Toh selama ini ayah tak pernah mengunjungiku,”
“Ayolah. Kita pergi duluan, sebentar lagi ibumu menyusul kita.”
***
Semua berlalu duka. Gundukan tanah itu masih basah dengan merahnya. Ikut mengubur segala kegetiran seorang gadis bersama ayah dan ibunya. Kesepian. Di dekat deretan tiga makam itu, Chingu tertunduk tepat di depan nisan gadis berusia 19 bersama koran-koran yang terbang berserakan, bertuliskan; Seorang Gadis Tewas Kecelakaan; Seorang janda mati dalam duka di makam suami dan anaknya.***

Rabu, 16 Januari 2013

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon