Tuesday, 19 February 2013

Albicocca, puisi Sitok Srengenge





ALBICOCCA



Di tanah asing berangin

di angin kering dan dingin

cuma kau yang paling kuingin



Di rentang jarak begini jauh

kenangan padamu saling piuh

antara luruh dan tumbuh



Kuandaikan kau peri aprikot anggun

seusai mandi sebelum lengkap bergaun

cahaya dan salju bercinta di bening tubuh

sampai lelah, lalu leleh, bebutir garnet peluh

tergelincir ke riap rumput, lesap ke celah tanah

kembali hadir di lembab selimut: mimpi basah



Pesonamu menjalar menembus batas taman yang hening

bayangmu mengambang datar, jatuh ringan di air bening

bau peluhmu meresapi malam

dan gaun terawang rembulan



Belibis liar berenangan di sungai yang menolak beku

batang oak bergoyangan bagai penyair pemabuk

dan, lihatlah, bangku kayu di sudut taman itu

ia gemetar membayangkan kita berpeluk



Jika suatu hari gairahmu menggelepar

seperti asam lambung dalam perut lapar

sampai pucuk puting berdenyut dan merona

remaslah payudaramu di bawah sikamor tua



Ia pohon yang datang dari gerbang timur surga

tulus meggugurkan helai-helai alum mahkotanya

demi memberi makan-minum arwah para pencinta



Wahai bulan yang setia mengerami

telur-telur jingga matahari

di bawah pohon itu rinduku berbaring tenang

menunggumu di antara luruh dan tumbuh kenangan



2001