Thursday, 14 February 2013

Cerbung CULDESAC Bagian 6

Tags





Magelang, 09.00 AM



Aku sama sekali tak menikmati perjalanan ini, meski pemandangan di Ambarawa, Magelang, Purwokerto dan kota-kota sepanjang jalur selatan begitu mempesona bagi orang yang hidup berdesakan di rumah petak penduduk padat kota Semarang Bawah. Aku sama sekali tak merasakan semilir angin yang berdesakan masuk ke jendela bus ekonomi yang aku naiki. Pikiranku masih berbalik ke belakang. Menyusuri jejak yang aku rasa semakin menyakitkan.



Seandainya mafia itu tak membunuh ibuku….



Seandainya bandit itu tak memenjarakan ayahku…



Mungkin aku masih bisa hidup normal!



Tapi tentu saja aku tak boleh berandai-andai. Karena mungkin, aku akan menjadi mahkluk pemimpi yang tolol. Kini aku kembali pada realitas. Semua orang punya masalah. Dan masalah selalu punya jalan keluar!



Gigiku gemeletuk. Mungkin pengaruh dingin setelah hujan yang mengguyur perjalananku. Atau karena amarah tertahan? Komplikasi rasa. Antara jalan hidup, usaha, rencana, dan takdir Tuhan! Aku sudah menempuh jalan hidup, sudah berusaha dan membuat rencana besar untuk meninggalkan tanah air. Sekarang aku menunggu takdir Tuhan. Aku pasrah….

***



13.45



Purwodadi macet.



Total tal!!!!



Kecelakaan lalu lintas.



Dua pengendara sepeda motor tewas.



Menghambat perjalananku. Menguras energiku. Tambah lagi di sebelahku, lelaki sekitar tujuh puluh tahun merokok tembakau klinthing. Aku sesak nafas.



Aku memutuskan untuk turun. Berjeda. Mencari makan. Perutku sudah lapar sejak tadi. Aku musti menyeberang jalan dan menyusuri trotoar sepanjang lima puluh meter untuk mendapatkan warung sederhana. Makan sederhana. Minum seadanya. Aku sempat berfikir untuk pingsan dan berhenti melakukan trip bodoh ini lalu pergi ke tempat yang lebih nyaman. Kenapa tadi tak pake jasa travel saja? Kenapa Abby justru membelikanku tiket bus ekonomi yang membuatku harus tutup hidung karena bau kampas terbakar!



Setelah makan, aku kembali berjalan menyusuri daerah yang sama sekali asing bagiku. Sebenarnya lalu lintas sudah mendekati lancar. Tapi aku tak mungkin kembali ke bus yang tadi. Mungkin busnya sudah pergi tanpa harus menunggu penumpang bandel sepertiku.



Di depan sebuah hotel, aku berhenti. Aku memutuskan untuk mengambil sorth time. Aku ngantuk dan lelah. Toh aku tak dikejar siapa-siapa. Kalaupun si Boeng menungguku di terminal Purwokerto, biarkan saja. Aku tak akan lari ke mana….



20.50



Cukup mudah mengenalinya. Tahi lalat besar di dagunya dan rambut panjang keriting itu membuatku langsung bisa menebak: dia Boeng!

Abby cukup jenius mengirim lelaki ini padaku. Dia tak banyak mulut. Begitu aku turun dari bus, dia langsung memberiku kode: lirikan mata dan gerakan jari agar aku membuntutinya.



Kami berjalan melewati pedagang asongan. Meski mendekati jam Sembilan malam, terminal Purwokerto ini begitu ramai. Calon penumpang berjejalan mengantri karcis. Sebagian duduk-duduk menunggu jam keberangkatan bus. Calo karcis berseliweran mencari penumpang.



Teriakan yang beradu dengan bising suara mesin membuatku merasa benar-benar berada di dunia yang dinamis. Membuatku sadar akan kerasnya hidup. Bukan sekedar kalimat sarkastis yang antar sopir terikan ketika berebut penumpang. Tapi juga kerasnya persaingan: mencari penumpang, mencari lebih banyak uang untuk keluarga dan mungkin, sedikit membeli congyang.



Boeng masih terus berjalan di depanku. Beberapa preman menyapanya. Berkelakar sejenak. Lalu kami kembali berjalan seperti orang yang tak saling kenal. Baru setelah melewati pemberhentian bus jurusan Jakarta dan Bandung dia berbalik badan. “Abby melarangku membawamu ke kantor. Dia takut kamu dikerjai.” katanya menekan tombol open. Alarm berbunyi. Dia membukakan pintu kiri kemudi untukku. “Hotel di sekitar sini juga tak terlalu bagus.” Dia menutup pintu setelah seluruh badanku masuk ke mobil pengapnya. “Akan aku carikan tempat yang sedikit nyaman untukmu.” lanjutnya sambil menghidupkan mesin mobil.



Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Terminal Purwokerto yang semakin bertambah krodit. Berbanding denganku yang sedari tadi memilih bungkam.



“Kamu lapar?” tanya Boeng tanpa menoleh. Aku masih diam. Sekali lagi dia mengajukan pertanyaan yang sama. Tapi aku masih diam. Baru ke tiga kalinya dia menoleh padaku dan bertanya hal yang sama dengan suara yang lebih keras.



Lelaki itu sepertinya bukan tipe lelaki kurang ajar. Tatapan matanya cuma focus ke satu titik. Mataku. Lalu kembali lurus ke depan. Konsen di tempat kemudianya. Dia tak menelanjangiku dengan cara menyusuri bagian tubuhku dengan ekor matanya. Pembawaannya tenang. Suaranya tegas tapi lembut. Dia masih sabar dengan keterdiamanku. Dia bersiul seenaknya. Sejurus kemudian dia menoleh padaku lagi.



“Hohoho… Kenapa aku musti bertanya? Jelas saja kamu lapar. Wajahmu mengatakan itu. Bahkan aku mendengar suara cacing protes di perutmu.” kelakarnya.



Aku tersenyum.



“Ada nasi pecel?”



“Jangan bandingkan dengan Simpang Lima, Non! Ajibarang cuma kota kecil. Jam sepuluh, semua warung telah tutup. Kecuali warung tenda di pertigaan.”



“Tak apa. Bata tumbuk juga aku makan.”



Boeng menoleh. Dia terbahak-bahak. Namun bahak itu menyetir ingatanku pada lelaki itu. Lelaki yang sering mengajakku minum wiski hingga mabuk. Lalu berceloteh seperti orang gila di dalam mobil Inovanya yang wangi. Lelaki yang….tergeletak dengan pecahan botol Red label menancap di perutnya! Entah beritanya berkembang sampai mana. Sejak semalam, aku tak mengikuti berita pembunuhan itu. I-phoneku aku tinggal dirumah. Sementara aku cuma menggunakan hape jadul yang hanya bisa menerima telpon dan SMS. Abby melarangku untuk membawa peralatan mewah. Barang elektronik yang mempermudah akses. Dia bilang demi keamananku. Entahlah. Kali ini aku seperti keledai yang hanya bisa menuruti semua instruksi. Tanpa interupsi!

Aku memejamkan mata. Penat sekali rasanya. Pantatku seperti menipis beberapa centi. Pinggangku serasa mau patah saja. Dan yang paling menyebalkan, aku pengen muntah. Muntah darah, mungkin.



Darah!



Aku benci darah.



Aku benci pertumpahan darah!



****



Ajibarang 11.23 PM



Jipnya berhenti di pelataran yang cukup luas. Hotel ‘Melati Merekah’. Aku sempat tersenyum membaca papan yang disoroti lampu neon itu. Hotel itu terletak tak jauh dari pertigaan Ajibarang. Bersebelahan dengan pom bensin. Kata Boeng, itu murni tempat penginapan. Dan letaknya aman karena dibelakang pos polisi. Ah, sampai lupa. Abby memberiku kontak temannya yang tugas di polsek ini. Mungkin nanti bisa aku hubungi kalau-kalau terjadi sesuatu di hotel ini.



Seorang lelaki sekitar lima puluhan menghampiriku. Menawarkan beberapa kamar. Tapi sama saja. Kamar yang dia tawarkan……mengenaskan!

Aku bahkan tak mengira kalau kamar itu dirawat dengan baik oleh pengelolanya. Dari pertama kali Pak Abdul – penjaga hotel itu – memberikan kunci, aku sudah merasakan perutku mual-mual. Aku lantas menyemprot parfum ke sembarang tempat untuk mengurangi bau odor yang….



“Tak ada tempat yang lebih baik dari ini?”



“Yang teraman di sini.” jawab Boeng. “Sudahlah… hotel di sini memang keadaannya seperti ini semua. Anggap saja sedang tidur di hutan.”



Boeng duduk di kursi kayu. Sementara aku masih mengamati ruangan dengan ornament sarang laba-laba di pojok-pojok ruangan. Lampu yang tak begitu terang. Kran di kamar mandi yang bocor. Dan kasur yang tebalnya tak lebih dari lima centi. Yang menyedihkan, sprei itu telah berlubang. Kena abu rokok. Dan pihak pengelola tak punya hati untuk mengganti!



Tak masalah. Aku cuma membayar empat puluh ribu rupiah!



“Katanya, dulu begitu ramai, banyak dikunjungi orang. Baik yang shorttime atau fulltime. Biasanya para sopir yang mengantar barang lewat jalur selatan. Tapi beberapa tahun ini, jarang sekali ada yang menginap. Paling-paling orang lokal yang membawa perempuan nakal. Atau pengendara kelelahan yang tak punya alternative tempat menginap lain.”



Seperti diriku, batinku.



“Orang local menjadikan tempat ini semi lokalisasi. Ada perempuan panggilan di sini. Biasanya Pak Abdul akan menawari. Sewanya juga murah. Lima puluh ribu rupiah. Jadi…” Boeng bangkit dari kursi itu. menyalakan rokoknya sambil menyandarkan tubuhnya yang semi-gendut itu di kusen pintu. “mereka cuma mengeluarkan uang seratus ribu. Lima puluh sewa lonthe, empat puluh buat sewa kamar dan sepuluh ribu tips buat Pak Abdul.”



“Perempuannya orang local juga?”



“Tentu saja. Mereka tak nampak lah kalau pelacur. Mereka biasanya para janda atau perempuan yang suaminya tak kerja.”



“Alasan ekonomi?”



“Yang jelas itu.” Boeng menoleh padaku. “Bagaimana kalau di kotamu? Semarang?”



Aku tersenyum. Aku tak berselera cerita tentang hal itu. Apalagi menceritakan siapa diriku. Juga tak mau membuka sedikitpun pembicaraan yang menjurus tentang itu.



“Aku tak tertarik dengan dunia social mereka. Aku punya ruang sendiri. Hidupku lurus dan terarah. Jadi…. tak penting mengamati hal-hal nonsense seperti itu.” kataku sinis.



“Aku tahu.” Boeng tersenyum sinis. “Perempuan baik-baik atau tidak, pernah dijamah banyak orang atau tidak, sangat kelihatan. Kau mungkin kategori yang ke dua: kau tampak tenang berhadapan dengan lelaki. Bahkan kau tak takut meski berduaan dengan lelaki asing di kamar hotel!”



“Aku tak salah, bukan? Kenapa musti takut?” aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil handuk yang disediakan pengelola hotel. Awalnya aku berniat mencuci muka. Namun Boeng mencegahku.



“Aku tak tinggal lama. Sebentar lagi aku mau cabut.” katanya. “Aku cuma menginformasikan kepadamu. Di dunia ini, banyak sekali yang terselubung. Sesuatu yang kamu anggap baik dan malaikat, kadang berbalik menjadi iblis. Berhati-hatilah!”



“Maksud kamu?”



“Ester, aku memang tak mengenalmu secara baik. Tapi aku bisa membaca pikiran orang yang sedang dikerubuti masalah. Baik-baiklah, Es. Ada banyak buaya di luar sana. Tak cuma mengincar tubuhmu, tapi uangmu!”



“Siapa? Kamu mengenalnya? Ah, jangan membuatku takut.”



Aku mendekati Boeng. Lelaki itu kelihatan semakin menarik. Tapi, aku musti menjaga jarak. Aku mengerti karakter orang seperti dia: bahaya, punya sebelas muka dan menggunakan lima indra sekaligus ketika berhadapan dengan lawan bicara.



“Good luck, Ester!”



Segalanya semakin membingungkan. Maksud dia apa? Siapa pula yang dia maksud? Paranormalkah dia hingga tahu apa yang terjadi padaku meskipun baru pertama kali bertemu? Tapi ketika aku ingin mengajukan pertanyaan, dia telah melangkahkan kaki meninggalan koridor hotel yang sunyi.



*****



bersambung...