Tuesday, 19 February 2013

Cerbung CULDESAC Bagian 7

Tags




Chapter 2



Cilacap, 15 April 2012 10.30

Kesugihan. Aku tak tahu arti nama tempat itu. Mungkin semua penduduknya kaya, yang dalam bahasa jawa, sugih. Atau mendekati pesugihan yang berarti, memperkaya diri dengan jalan bersekutu dengan iblis? Yang jelas, menjelang siang ini, aku sudah berada di tempat ini. Mencari alamat PJTKI yang Abby berikan.



Boeng tak mengantarku seperti rencana Abby. Dia gagal kuhubungi pagi tadi. Hapenya mail box. Sementara teman Abby yang tugas di polsek Ajibarang juga gagal kuhubungi. Aku sempat mencari informasi. Ternyata nama itu fiktif. Mungkin dia memakai nama palsu ketika berkenalan dengan Abby. Atau Abby sengaja tak membubuhi nama aslinya.



Tapi tak mengapa. Selama mulut masih bisa bertanya, tempat sesublim apapun akan ketemu juga. Apalagi ini tempat yang umum. PT Alfa. Katanya terkenal di daerah ini. Dan tak sia-sia tukang becak masih diijinkan menarik penumpang. Karena infonya begitu penting. Tak cuma lokasi yang dituju, namun dunia sosial wilayah itu.



“Dulu tempat itu dijadikan tempat pelacuran.” kata Pak Bendo.



“Sekarang masih?”



“Sudah tak ada lah, Mbak. Orang di sini semua pada ndak suka.” katanya dengan bahasa Indonesia yang medok. Pengucapan ‘K’ di akhir kata Mbak begitu jelas. Sama kedengarannya ketika bilang tembak! “Dulu ramai lho, mbak. Orang-orang dari gunung pada turun. Mereka menjual tempe di sini.”



“Tempe?”



“Itu kata lain dari menjual diri, mbak.”



“Terus katanya ada banyak PJTKI di wilayah Cilacap ini ya?”



“Banyak, Mbak. Dulu ramai sekali. Tahun sembilan puluhan, jumlah TKWnya mencapai ratusan. Sekarang tak adalah, Mbak. Teman saya yang dulu jadi sponsor juga pada buka usaha sendiri.”



“Bapak punya teman sponsor?”



“Iya. Namanya Rusdi. Rumahnya tak jauh dari kantor itu, Mbak.”



“Sponsor itu orang yang punya PT?”



“Bukan, Mbak. Dia orang yang membawa TKW ke PT. Seperti calo-calo itu lho, Mbak. Bayarannya juga tinggi lho, Mbak. Satu orang bisa sampai lima juta. Itu tergantung PTnya bagus atau tidak.”



“PT Alfa juga bagus?”



“Wah, saya ndak tahu, Mbak. Semua PT sama sajalah. Bagi masyarakat awam seperti saya, PT ya… cuma bisa menyalurkan saja. Soal tanggung jawab sedikit, Mbak. Tetangga saya yang gajinya tak dibayar sampai dua tahun juga tak dibantu ngurus.”



“Teman Bapak itu dekat dari sini?”



“Dekat mbak. Itu di lorong depan.”



“Bapak bisa antar saya ke sana?”



****



Rumah Pak Rusdi, 11:15



Lelaki itu sedang duduk sambil merokok di teras depan rumahnya. Satu set kursi teras yang unik. Terbuat dari akar kayu jati bermotif lilitan naga. Di tempat terpisah, anak-anak sedang bermain playstation di ruang sempit berukuran tiga kali tiga meter.



Setelah mengorek info dari pak Bendo, aku memutuskan tak datang langsung ke PJTKI. Aku akan menggunakan sponsor. Itu jalan mudah untuk mengetahui seluk beluk PJTKI yang akan aku masuki. Aku tak memberi tahu Abby. Perubahan rencana ini aku simpan sendiri.



“Siang, Bapak!” sapaku ramah.



“Siang. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Ah, tembak lagi! Apa aksen bahasa orang Cilacap memang begitu? Berat dan tebal!



“Saya direkomendasikan teman saya untuk menghubungi Bapak. Saya mau kerja di luar negri. Tapi tak tahu PJTKI apa yang bagus. Bapak punya saran?”



Lelaki itu mengerutkan kening. Sebentar kemudian tersenyum lebar. Aku mulai menganalisa jalan pikirannya. Dan aku menempatkan diriku sebagai anak kijang yang masuk ke kandang macan. Dari cerita pak Bendo tadi, aku tahu bagaimana liciknya sponsor. Aku tahu bagaimana mereka menguras uang calon TKW dan mengkadali mereka. Tapi aku sengaja memerangkapkan diri. Ini demi….. ah, entahlah. Sepertinya aku observator saja. Atau lebih tepatnya, perempuan dalam bahaya yang sengaja menambah bahaya! Tidak! Aku hanya ingin tahu. Ketika kau masuk ke suatu medan, kau harus tahu peta, bukan? Agar nantinya tak terlalu tersesat. Atau yang lebih parah, teperangkap!



“Oh, masuk mbak. Mari masuk.” Pak Rusdi mempersilahkan aku masuk. “Kita ngobrol di dalam saja. Oh, maaf berantakan. Biasa Mbak, kalau punya anak, ruangan tak bisa bersih. Mainan tercecer di mana-mana.” curhatnya. Dalam hati aku berkata: keadaan rumahku jauh lebih parah, meski tanpa anak-anak!



“Yang bagus itu petenya pak Handoko. Prosesnya cepat. Pintar mencarikan majikan. Gajinya juga lebih tinggi dari pete-pete lain, mbak.”

Aku tersenyum masam. Mungkin ada baiknya aku mendengarkan ocehannya.



“Kalau mbak mau, saya antar ke sana.”



“Nama PT-nya?”



“PT Anugrah.”



“Bagaimana dengan PT Alfa?” tanyaku. Pak Rusdi sedikit terperanjat. Tapi kemudian tersenyum lebar kembali.



“Itu miliknya pak Agung. Bagus juga, Mbak. Malah koneksi dengan agen negara tujuan bagus.”



Aku tersenyum. Beruntung dia mengenal PT yang hendak aku tuju!



“Bapak bisa antar saya ke sana?”



****



13.00



Dia menyetarter motor bebeknya. Menyuruhku membonceng. Sebentar kemudian kami telah melaju ke PT Alfa. Namun perutku tak bisa dikompromi. Aku kelaparan. Sepertinya lelaki itu pengertian juga. Dia membelokkan ke warung tenda.



“Kita makan siang dulu ya, Mbak.”



Aku mengangguk dan tersenyum. Kami masuk ke warung sederhana dibelakang pertokoan pasar Cilacap. Tak terlalu ramai meski di waktu jam makan siang. Hanya ada dua orang yang sedang menikmati baksonya dan perempuan penjaga warung bergincu tebal.



Tak melesat dari apa yang aku rencanakan! Lelaki itu sangat informatif.



“Banyak PJTKI yang kolaps karena rugi, Mbak.” Ceritanya saat kami makan mie ayam di warung tenda. “Ya begitulah, Mbak. Sekarang sangat susah mencari TKW. Dulu, tahun sembilan puluhan, TKW yang berbondong-bondong mencari sponsor. Sekarag berbalik. Sponsor yang datang ke rumah-rumah. Dulu yang namanya sponsor, penghasilannya berkali lipat dibanding pegawai negri, Mbak. Sekarang semuanya sulit. Saya juga tak berniat mencari lagi seperti dulu. Makanya saya buka playstation. Buat usaha sampingan saya, Mbak.”



“Persaingan antar sponsor juga kali ya pak?”



“Iya itu sudah hal umum, Mbak. Banyak yang sampai berantem lho Mbak. Dulu pas jaman saya, sponsor itu cuma tahu untungnya saja. Asal bawa orang ke PT. Setelah TKW dititipin ke PT, mereka kabur. Tak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa.”



“Bapak juga?”



“Haha… kalau saya lain lah, Mbak. Percayalah, saya akan membawa Mbak ke tempat yang benar.”



“Bapak jamin itu?”



Lelaki itu mengangguk. Tapi wajahnya seperti menunjukkan kalau….



****



14.30

Pak Agung menyalamiku, tersenyum lebar dan mempersilahkanku duduk di kursi plastik depan meja administrasi. Sebentar kemudian, wanita berambut pendek membawa nampan berisi teh manis. Satu untukku. Satu untuk Pak Rusdi.



“Lho kok bisa ketemu Pak Rusdi?” tanya Pak Agung setelah memperkenalkan diri bahwa aku Ester. Teman baik Abby. Dan tentu saja dia sudah mengenalku –secara tak langsung!



“Saya minta antar Pak Rusdi kok, Pak. Saya tak pandai mencari alamat.” jawabku. Pak Agung mengerling ke arah Pak Rusdi. Aku melihat ada sesuatu yang dia sembunyikan. Mungkin perseteruan masa lalu yang membuat hubungan baik mereka terganggu. Kulihat wajah Pak Agung tak senang. Pak Rusdi juga sepertinya tak terlalu akrab dengannya. Ah, entahlah. Itu cuma analisa. Bisa saja aku salah!



“Boeng tidak mengantarmu?” tanya Pak Agung lagi.



“Saya gagal menghubunginya pagi tadi, Pak.”



Pak Agung mengangkat alis. Aku melihat raut mukanya berubah. Sepertinya ada sesuatu dengan Boeng. Tapi apa?



“Kenapa. Pak? Ada masalah?”



“Oh, tidak. tidak apa-apa kok, Es.” Pak Agung berpikir sejenak. Lalu… ”Apakah kamu menerima sejumlah uang dari Boeng? Atau dari Albert?”



“Uang apa?” tanyaku kaget. Aku menoleh pada Pak Rusdi. Lelaki itu mengelus-ngelus dagunya yang kelihatan baru dicukur. Dia melirik diriku dengan pandangan aneh. Khas lelaki yang menginginkan sesuatu pada perempuan. Aku tak peduli. Kali ini, aku tak mau bermain-main dengan hal semacam itu.



“Uang pesangon. Dan sedikit tips dari Mr. Tan. Majikanmu di Singapura.”



Aku bertambah kaget. Pesangon? Tips majikan? Oho, kalau begitu majikanku baik seperti malaikat. Belum bekerja saja sudah memberi tips segala.



“Tidak. Aku tidak tahu tentang uang itu.” jawabku apa adanya.



Perubahan wajahnya kian kentara. Giginya sedikit gemeletuk. Tangannya mengepal. Amarah itu jelas terpendam. Namun dia masih kelihatan tenang di depanku. Dia memintaku menyerahkan dokumen untuk proses pemberangkatan. Foto kopi KTP, Ijazah SMA dan kartu keluarga itu dia taruh di dalam map.



Pak Agung lantas memanggil salah satu calon TKW untuk mengantarku ke kamar. Tak ada pembicaraan lebih lanjut. Bahkan hal penting yang menyangkut keberangkatanku ke Singapura.



Kesimpulan: semuanya telah diatur!

----------

Aku tak bisa menyebut ini sebagai perusahaan jasa. Ini cuma rumah biasa yang dikondisikan menjadi kantor sekaligus penampungan. Ruang administrasi ditempatkan di ruang tamu. Ruang tengah sebagi tempat belajar, satu kamar tidur untuk Pak Agung dan istrinya, satu kamar anak-anak dan nenek, dua kamar lagi untuk para TKW. Di belakang, ada bangunan terpisah. Terdiri dari tiga kamar. Satu untuk dapur dan dua kamar untuk TKW. Kondisi kamar yang aku tempati juga agak mengerikan. Cuma matras bekas dan satu rak untuk menaruh tas milik TKW.



Aku sempat meragukan keresmian PT ini. Tadinya kukira PT Alfa memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) sendiri, bangunannya besar dan menampung ratusan para calon buruh migran. Dari informasi Pak Bendo kemarin, banyak PJTKI serupa di wilayah ini. Mereka hanya menampung sedikit TKW, tempatnya tertutup, pagarnya selalu digembok rapat, para calon TKW dijaga ketat dan tak diijinkan keluar. Orang asing tak akan mengira kalau tempat itu PJTKI karena papan namanya saja ditaruh di dalam.



PJTKI semacam ini memiliki pelindung yang kuat. Biasanya ada ‘oknum’ yang melindungi keberadaan mereka. Oknum ini tentu saja mendapat bagian. Tadi, saat aku masuk ke PT ini, di luar ada seorang oknum aparat yang bertengkar dengan Pak Agung. Dia minta jatah uang keamanan lebih.Tapi Pak Agung sepertinya tak menanggapi. Pak Agung buru-buru masuk ke dalam ketika mengetahui aku datang. Sementara si oknum masih menunggu. Mengobrol dengan salah satu sponsor di teras rumah.



Pak Bendo juga memberi informasi, ada beberapa PJTKI yang tak benefit. Biasanya mereka cuma menampung beberapa hari. Lalu anak buahnya dilempar ke PT lain. PT lain membayar ganti rugi selama masa perekrutan: bayar sponsor dan sebagainya. Tapi pihak yang membayar tak rugi karena dia akan mendapatkan komisi dari Agen di luar negri.



Ada beberapa PJTKI yang cuma menerima TKW yang sudah pernah bekerja ke luar negri. Mereka tak mau menanggung resiko terlalu banyak. Mereka percaya kalau TKW yang sudah berpengalaman lebih mudah diproses. Tak perlu UJK, tak perlu entry test, cuma mengurus perpanjangan passport dan pembuatan KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negri).

------



Aku meletakan backpacker-ku di atas lantai. Dua orang yang sedang terbaring di atas matras terbangun dan menyapaku. Berbasa basi sejenak, kemudian kembali melanjutkan obrolan mereka tentang pengalamannya di luar negri. Dari caranya bercerita, aku tahu dia TKW yang sudah berpengalaman. Tapi sekali lagi pikiranku masih terpaut pada ‘uang’ yang tadi ditanyakan Pak Agung. Uang itu ke mana? Di tempat Abby atau Boeng? Apakah Abby tahu tentang uang itu? Apakah Boeng justru yang tak tahu menahu? Lalu kenapa mereka berdua tiba-tiba menghilang seperti hantu.

Dan lagi, bagaimana aku sudah mendapat majikan sedangkan aku belum interview? Aneh! Aku merasa aneh. Rasa aneh ini membuatku bangkit dari matras. Aku keluar kamar. Aku berniat menanyakan itu pada Pak Agung. Namun langkahku terhenti ketika mendengar pembicaraan serius antara Pak Rusdi dan Pak Agung di ruang administrasi. Aku memutuskan bersembunyi di balik tembok yang memisahkan ruang administrasi dengan ruang tengah.



“Siapa suruh kamu membawa dia ke sini. Perjanjian itu sudah jelas. Kamu tak berhak mendapat komisi karena kamu tak terlibat dalam transaksi ini.” kata Pak Agung dengan suara berat, sedikit ditekan namun sarat amarah.



“Dia yang datang padaku. Aku yang mengantarnya. Kalau dia tak bisa sampai ke PTmu, bisa jadi kamu didamprat habis-habisan oleh Mr. Aljuneid.”



“Tapi aku tak bisa memberimu sebanyak itu! Kamu bukan sponsornya.”



“Tapi aku yang menangkap dia!”



Ketegangan itu berjeda sejenak. Kulihat wajah mereka dipenuhi kelicikan. Sementara aku masih sembunyi. Aku harus benar-benar tahu apa yang terjadi.



“Aku tetap minta bagian 10 persen!”



“Tidak bisa!”



“Kalau begitu, siap-siap saja PTmu digrebek aparat!”



Wajah Pak Agung memerah. Sepertinya dia tak suka dengan ancaman lelaki itu. Dia membuka laci meja. Mengeluarkan selembar cek, menuliskan sederet angka, menandatanganinya lalu menyerahkan cek itu ke tangan Pak Rusdi. Pak Rusdi terkekeh. Dia menepuk pundak Pak Agung.



“Aku cuma bisa memberimu lima juta.”



“Seharusnya 10 persen. Tapi tak apalah. Lima persen juga boleh. Kita masih bisa bermitra, bukan?”



“Aku temasuk rugi. Transaksi itu jelas. Aku dapat empat puluh persen. Abby dan Boeng masing-masing 30 persen. Tapi karenamu, bagianku jadi sama dengan mereka.”



“Kamu cuma kehilangan lima persen dari uang itu, bukan? Kamu tidak berpikir kamu telah terlibat dalam perdagangan manusia. Kalau masalah ini sampai bocor ke telinga aparat, kamu pasti tak akan selamat.”



Aku membelalakkan mata. Perdagangan manusia? Jadi aku…..



Tiba-tiba seorang menepuk pundakku dari belakang. Aku terperajat. Aku merasakan tangan itu semakin berat. Jari-jari lelaki.



“Masuk ke kamarmu, Ester!” perintah lelaki itu dengan suara menyeramkan. Aku terkejut ketika melihat wajah lelaki itu. Dia…



*****



....bersambung :)