Tuesday, 26 February 2013

Cerbung CULDESAC Bagian 8

Tags



01.15

Lewat pembicaraan tadi siang, aku mengambil kesimpulan. Aku dikirim ke Singapura bukan sebagai TKW. Tapi barang komoditas lain. Kasus:



- Eksploitasi wanita



- Woman trafficking

- Penipuan berkedok teman



Aku merasakan air mata jatuh di lenganku. Ini sudah terlalu. Tega benar orang yang memanfaakan posisiku untuk meraup keuntungan pribadi. Aku yang mencari perlindungan karena tak mau terlibat dengan kasus pembunuhan itu justru terjebak dalam sindikat perdagangan manusia!



Aku menjadi korban. Ironisnya si pelaku adalah pacarku sendiri: Abby!



Kalau saja dulu aku mengindahkan ucapan Berly agar aku tak berdekatan dengan lelaki itu, mungkin semua ini tak akan terjadi. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan menuruti nasehat ayah untuk menunda atau lebih tepatnya membatalkan pemberangkatanku ke Singapura. Ada baiknya aku menerima tawaran Laksmi untuk bergabung dengan LSM: menjadi volunter untuk kasus perdagangan perempuan di Asia Selatan. Itu akan memperkaya pengetahuanku tentang bagaimana mereka terjerat hutang para rentainer. Menjadikan anak perempuannya sebagai jaminan, lalu ketika tak bisa bayar hutang, anak perempuannya diambil dan dijadikan pelacur!



Bukan malah menempatkan diriku sebagai korban!



Pantas saja kalau Abby melarangku membawa I-Phone. Artinya aku masih bisa terhubung dengan dunia luar lewat internet. Artinya, aku masih punya akses untuk lari dari sindikat ini!



Pantas saja kalau hape Abby dan Boeng seketika mati. Itu artinya, mereka sengaja cuci tangan dan tak mau terlibat urusan denganku lagi!



Andai aku tahu: aku akan kabur ketika Boeng dengan bodoh meninggalkanku di hotel murahan itu!



Aku masih ragu, apakah Abby melakukan konspirasi dengan pembunuh jahanam itu? Sengaja membuang jauh dan mencari keuntungan dengan cara menjualku? Mungkin dia berpikir aku cuma pelacur. Menjual pelacur bukanlah dosa besar karena, bila nantinya dijadikan pelacur, itu juga akan menjadi hal yang biasa.



Tapi aku mencintainya. Aku mencintai Abby sejak pertemuan pertamaku di Jakarta. Lalu berlanjujt saat awal-awal dia tugas di Semarang. Aku begitu mengagumi fisiknya: tinggi, tegap, kekar, dan menggairahkan dalam hal apapun! Hingga, ketika Berly melarangku berhubungan dengannya, aku justru menudingnya cemburu. Aku menuding Berly tak punya rasa hanya karena dia tak mengerti bahwa aku telah jatuh cinta: jatuh cinta dengan polisi mafia!



Apakah rasa sayang dan kasih tulus ini tak menyentuh perasaan Abby sama sekali? Bukankah pelacur berhak mendapat cinta juga. Memiliki sesuatu yang benar-benar bergetar dan terasa. Bukan cuma sekedar persenggamaan badani semata?



Aku kembali merasakan air mata itu jatuh di lenganku. Ini sama dengan penjara. Lebih kejam karena aku akan terpisah jauh dari orang yang aku sayangi: Ayah! Ah, bagaimana kabar dia di penjara sana? Apakah dia akan mendapatkan remisi karena perlakuan baik? Apakah Ayah cukup makan?



Aku menutup mata. Isakku semakin kencang. Membuat perempuan yang tidur di sebelahku terbangun. “Mbak, kenapa menangis? Ingat keluarga ya?” tanyanya setengah berbisik. Dia mengelus-elus pundakku. “Sudahlah, Mbak. Kita kan, sudah niat kerja, jadi kita harus berani ambil risiko.” lanjut perempuan itu.



Dalam remang sinar dari layar display hape jadulku, aku mengangguk: aku harus berani ambil risiko!



****



17 April 2012 9.20



- Medical check up di klinik Bina Sehat.

Hasil : fit!



- Foto biodata di studio foto ‘Fujiana’

Deskripsi: senyum manis, tangan dilipat manis di depan perut, mengenakan seragam berwarna pink (warna yang paling kubenci), syarat agar kelihatan smart dan professional di depan majikan!



- Pembuatan passport.



20 April 2012 19.30



Aku mendapatkan perlakuan istimewa. Pak Agung begitu baik padaku. Ketika para calon TKW makan nasi dan sayur peria, aku duduk satu meja makan opor ayam bersama keluarganya. Sikapnya padaku sangat lembut dan penuh perhatian.



Tapi peduli apa? Pembicaraan dengan Pak Rusdi kemarin telah merubah respektifitas menjadi kebencian yang melimpah ruah. Transaksi itu membuatku kehilangan gairah untuk menyusun masa depan. Tapi aku memilih diam. Aku menikmati segala fasilitas yang Pak Agung berikan. Sebenarnya ini tak adil. Ini tak lebih dari jebakan tikus. Keju bertebaran, tapi jeruji besi telah siap mengurung!



Malam sedikit gerimis. Dingin menyergap tubuhku sejak tadi. Tapi aku tak bergeming. Aku masih duduk dengan nyaman di bangku kayu depan kamar TKW bagian belakang. Menikmati cipratan air yang makin lama makin membekukan!



Tiba-tiba, lelaki yang menepuk pundakku tadi siang duduk di sebelahku. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. Menghebuskannya ke udara lalu menoleh padaku.



“Aku pastikan Pak Agung tidak tahu kalau kamu telah mendengar pembicaraan itu, Es.” katanya lalu membuang muka.



Dia menatap langit yang masih digayut mendung. Sinar lampu neon yang dipasang di pojok rumah utama membuatku mampu melihat dengan jelas rintik air yang jatuh. Aku merasa hujan di dalam mataku juga akan jatuh. Tapi tak sekarang. Karena kemarin malam aku telah menumpahkannya sampai habis.



“Bukannya Bapak juga masuk dalam ‘penerima komisi’ itu?” tanyaku tajam.



Lelaki itu menghempaskan nafas. Rambut keriting sebatas bahu itu diterbangkan angin. Menyapu sebagian wajahnya yang berjerawat. Bibirnya bergerak-gerak. Tapi sampai beberapa menit menunggu tak ada satu patah katapun yang keluar.



“Aku cuma supir, Es.” kata lelaki itu kemudian. “Tapi aku tahu siapa kamu dan mengapa kamu sampai ‘dijual’ oleh orang busuk seperti Agung. Aku juga tahu bahwa sebenarnya Boeng tak terlibat!”



Aku menoleh mendengar nama Boeng disebut. “Tak terlibat? Tapi menerima 30 persen, bukan?”



“Kamu salah, Es.”



“Lalu kebenarannya seperti apa?”



“Parjo. Namaku Parjo.” dia menghisap rokoknya lagi. Aku tersenyum mendengar jawabannya yang tak mutu. Yang aku tanyakan kebenaran. Bukan namanya! Peduli apa namanya Parjo atau Paijo.



“Kebenarannya seperti apa?” ulangku lagi.



Suasana kembali hening. Para calon TKW yang tadi diceramahi Pak Agung sudah pada bubar. Sebagian masuk ke kamar dalam. Sebagian lagi duduk-duduk di sebelahku. Aku sedikit tak nyaman karena terlihat berduaan dengan Pak Parjo. Asumsi ‘ganjen’ pada TKW yang dekat dengan staf atau orang dalam PJTKI sudah menjadi hal yang lumrah. Selama beberapa hari di sini, aku sering mendengar mereka membicarakan perempuan lain yang terlihat akrab dengan Pak Agung dan beberapa stafnya. Mungkin besok akan tersebar aku punya affair dengan Pak Parjo. Tapi…peduli hantu!

Perempuan memang sulit dimengerti. Kadang mereka tak bisa diajak berpikir logis. Apa yang terlihat dibicarakan berdasar asumsi umum. Begitu lurus. Jarang sekali melihat dari empat sudut sekaligus! Aku juga perempuan. Aku sama dengan mereka: jarang melihat dari keempat sudut! Konteksnya kali ini, Abby. Begitu lurusnya aku mempercayainya. Begitu lurus hingga aku tak tahu bahwa belokan kadang justru menjadi jalan yang benar!



“Sulit menceritakan secara detail, Es. Aku juga tak tahu pasti apa yang terjadi. Aku cuma pendengar.”



”Poin pentingnya saja, Pak.”



Pak Parjo menghela nafas. “Semua bermula ketika Abby minta Boeng mencarikan persembunyian untukmu. Bersamaan dengan itu, Boeng diminta Pak Agung mencari seorang wanita cantik untuk menjadi pembantu Mr. Tan. Majikanmu.”



“Lalu?”



“Kamu cantik, Ester. Kamu memenuhi kriteria yang Mr. Tan inginkan. Boeng mengira itu murni perekrutan TKW. Makanya dia menyarankan Abby untuk mengirimmu ke Singapura. Transaksi itu cuma antara Abby dan Pak Agung. Dia tak tahu menahu tentang transaksi itu. Hingga saat dia menjemputmu di terminal Purwokerto, Abby menelpon untuk memberinya uang 30 persen. Dia menolak. Dia tak mau terlibat dengan sindikat itu.



Setelah mengantarmu ke hotel, dia pergi ke rumahku. Menceritakan semua. Aku menyuruhnya untuk meninggalkanmu di hotel itu. Tak datang menjemput dan mengantarmu ke sini seperti yang direncanakan Abby. Niatku, agar kamu tak menemukan alamat ini dan pulang ke Semarang.”



“Aku bodoh karena tetap bandel mencari alamat ini, kan?”



“Kamu justru pintar, Es. Kamu hanya tak mengerti kepintaranmu justru membuatmu celaka.”



Gerimis tinggal satu dua. Tapi langit masih mendung. Kilat menyambar. Tapi tak ada guntur yang menggelegar. Guntur itu terdengar sayup-sayup di kejauhan. Mungkin di tempat lain hujan lebat.



“Bagaimana dengan Abby? Apakah Bapak mengenalnya dengan baik?”



“Aku kenal Abby ketika dia tugas di Purwokerto tiga tahun yang lalu. Aku tak begitu akrab dengannya. Cuma dulu sering ketemu kalau Pak Komandan mengajakku melakukan penggerebekan di lokalisasi. Hubunganmu dengan Abby sendiri?”



“Aku mencintainya. Dan kupikir, dia sama.”



Pak Parjo tertawa. Dia menggelengkan kepala berkali-kali. “Bagaimana mungkin dia bisa mencintai satu wanita? Selama dia tugas di Purwokerto, puluhan kali dia berganti wanita.”



“Mungkin saat di Semarang dia berubah. Buktinya dia baik denganku.”



“Kalau dia baik, kenapa sampai menjualmu?”



Dadaku tertohok. Sakit sekali rasanya mendengar pertanyaan retoris Pak Parjo. Nyerinya sampai ke sekujur badan. Benar juga: kenapa dia tega menjualku? Apakah benar yang Boeng katakan sebelum meninggalkanku di hotel murahan itu bahwa di luar sana, ada buaya yang tak cuma mengejar tubuhku saja. Tapi uangku. Sekarang aku tahu siapa yang dia maksud. Dia Abby! Aku memang telah beberapa kali tidur dengannya. Beberapa kali juga….ini kesadaran terlambat! Beberapa kali dia meminta uang padaku dan aku meluluskannya begitu mudah. Jadi….



Aku mengetuk jidadku sendiri.



Aku tolol!



Idiot!



Tuna otak!



“Kalau Bapak dan Boeng?” tanyaku sengaja mengalihkan pemikiranku yang semakin liar.



“Kami teman lama. Teman sepermainan. Ketika kecil kami tinggal di kampong yang sama. Boeng pindah ke Purwokerto ikut neneknya.”



“Bapak asli sini.”



“Ya.”



“Bapak tahu kerjaan Boeng?”



“Dia…kepala preman se-Purwokerto!”



“Bukan polisi?”



“Cuma sering membantu polisi kalau ada kasus berat terjadi.”



“Jadi….dia bisa membawaku keluar dari tempat ini?”



Sebelum Pak Parjo menjawab, Pak Agung lebih dulu memanggilku masuk. Aku melihat mata dua lelaki itu saling pandang tak senang. Keduanya tersenyum sinis.



***



“Jangan dekat-dekat dengan dia, Es.” kata Pak Agung saat kami duduk di ruang administrasi.



“Kenapa?”



“Dia buaya.”



“Maksud Bapak?”



“Dia suka mengerjai calon TKW. Beberapa tahun yang lalu dia pernah menghamili calon TKW yang ditampung di sini. Itu kasus terberat yang pernah dia perbuat. Tapi saya memaafkannya dan kembali mempekerjakan dia sebagai sopir PT ini.” jelas Pak Agug. “Sudahlah. Pokoknya saya tak senang kamu berdekatan dengan dia. Aku tak mau kamu menjadi korban berikutnya.”



Aku tersenyum. Lelaki ini sebenarnya tak pantas menjadi mafia. Dari permukaan wajahnya, dia tak tampak sebagai pelaku woman trafficking. Dia lebih pantas menjadi orang baik-baik yang bekerja di jalan yang lurus.



“Dengan sponsor juga kamu jangan dekat-dekat.” kata Pak Agung lagi. “Mereka juga sama. Suka memperalat wanita. Ada satu sponsorku yang suka membawa calon TKW ke hotel. Diajak bersenggama sebelum diantar ke penampungan. Rawan sekali, Es. Menjadi pemilik PT itu tanggung jawabnya besar. Kadang anak buahnya yang nakal, tapi saya sendiri yang kena. Masalah denda juga saya yang kena.”



“Tapi keuntungan bapak besar juga, kan? Dari perdagangan perempuan ini. Oh maaf, maksud saya, dari usaha pengiriman jasa TKW ini.”



Wajah Pak Agung sedikit berubah mendengar perkataanku barusan. Tapi aku masih tenang saja. Aku pastikan mulutku masih bisa dikontrol untuk tidak mengucapkan hal-hal yang membuat Pak Agung curiga.



“Ya… namanya usaha ada pasang surutnya lah, Es.” kata Pak Agung sambil tersenyum lebar. “Sudah, kamu masuk kamar sana. Kamu harus istirahat yang cukup.” lanjutnya tersenyum semakin lebar. Aku semakin tak nyaman dengan senyuman itu. Bagiku, itu seringai serigala. Kelicikan dan kebuasan yang tersembunyi dengan sempurna!



****

bersambung.....

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon