Friday, 1 February 2013

IBU DAN PUISI KEMATIAN

Tags






IBU dan Puisi Kematian





Hingga terdengar panggilan boarding, tak ada lagi berita tentang kondisi Ibu yang sedang terbaring di ruang ICU. “Masih koma”. Hanya itu SMS terakhir adikku. Singkat, menjawab pertanyaan saat sekalian kusampaikan pesan, sebentar lagi akan kunaiki pesawat tujuan Semarang.





Lepas landas, menembus jendela pesawat yang berembun dibasuh ka­but-kabut lembut cairan mengkristal, mataku menera­wang.

Berlatar awan-awan putih melapisi langit, lamunanku meng­hadirkan bayangan Ibu yang sedang kritis. Tiba-tiba, ter­ngiang kata-katanya setahun yang lalu, selesai menggulung ge­laran tikar, setelah para ulama dan ustaz beriringan pulang.

Ulama dan ustaz itu kawan-kawan Bapak, pengurus Mad­ra­sah Muhammadiyah Kampung Pendrikan. Mereka rajin mem­bacakan Surat Yasin dan mengalunkan zikir untuk men­doakan para sahabat yang telah lebih dahulu pergi. Wak­tu itu, kusaksikan mereka bertahlil khusyuk sekali saat mem­per­ingati kematian Bapak ke 1.000 hari.

”Kamu nggak usah sedih saat nanti aku menyusul bapakmu.”

”Kalau kamu sedang liburan atau bertugas ke luar negeri, aku mati, kamu tak perlu buru-buru pulang. Asal kamu jangan me­lupakan janjimu membuat syair untuk digubah menjadi lagu. Bukan aku yang minta lho, kan kamu sendiri yang janji,” kata Ibu.

Kalau janji mengenai pemberian, Ibu tak pernah mengingat-ingat, mungkin karena tak terlalu mengharapkan. Tetapi janji akan menggubah puisi, Ibu tak akan pernah lupa.

”Aku akan merasa bahagia di alam kematian mendengarkan nyanyian yang kamu ciptakan. Tapi jangan yang norak ah. Aku emoh. Nanti mendengarnya aku nggak nyenyak tidur di dalam ku­bur, bisa-bisa malah keliaran jadi leak atau kuntilanak.”

”Rasanya Ibu lebih cocok jadi Si Manis Jembatan Ancol deh, daripada kuntilanak,” adikku, perempuan paling kecil, menya­hut, membuat semua tertawa.

”Amit-amit!” Ibu mengucap sambil mengetuk-ngetuk ton­jol­an lekuk jarinya ke permukaan lantai.

Menghadapi kematian, Ibu menyambutnya dengan canda. Ka­rena itu, semua terbawa dan hanyut dalam kelakar menyi­kapi bayang-bayang yang menyeramkan.

”Umurku sudah 75 tahun. Tugas terakhir menyelenggarakan seluruh selamatan untuk Almarhum, yang menjadi tradisi, su­dah kupenuhi.”

Dari perkataan-perkatan yang terlontar, seakan beliau telah merasa menyelesaikan kewajiban menjalani kodrat sebagai se­orang perempuan. Menjadi ibu, sebagai istri.

”Akan kuusahakan, menjelang kematian aku tak menyu­sah­kan,” tutur Ibu.

Sepertinnya, menjemput kematian, Ibu serasa tak memiliki beban atau kekhawatiran sama sekali. Bahkan kelihatan sangat sumringah dan bergairah. Seolah akan bertemu kekasih, yang tak pernah lepas dari ingatan.

”Bapakmu itu orang yang paling beruntung. Mati tanpa seng­sara akibat sakit berlarut-larut. Tapi dasar pedagang, me­ninggal pun saat sedang mencari uang,” terlontar juga rasa iri yang menyelimuti.

Bapak memang wafat dengan cepat. Waktu itu, beliau be­rang­kat ke kantor ditemani salah seorang cucunya. Walaupun su­dah berusia 73 tahun, Bapak tidak pernah pensiun. Tetapi ti­dak seperti waktu muda ketika masih keranjingan kerja, meng­ha­biskan masa tua, Bapak bekerja seenaknya. Berangkat ke kan­tor pukul 10.00, pukul 14.00 sudah sampai di rumah lagi. Yang diurusi hanya perusahaan pribadi yang didirikan ber­sa­ma Koh Boen (baca: Koh Mbun), Tionghoa ”singkek”, sa­habat lamanya. Ke mana-mana mereka selalu berdua. Ibu bi­lang seperti ”benang dan la­yang-layang”. Kantornya mirip gu­dang, di daerah Pekojan, kawasan Pecinan. Sebagai pedagang gro­sir gula pasir, ruang-ruangnya dipenuhi tumpukan karung-ka­rung kosong.

Di tengah jalan, saat mengendarai mobil sendiri, Bapak ter­kena stroke. Mungkin akibat penyakit tekanan darah tinggi yang cukup lama kurang diopeni. Belum sampai di rumah sa­kit, saat dilarikan tukang becak langganan yang kebetulan me­mer­goki, Bapak sudah tak bernapas lagi. Menurut Tasya yang me­nemani, sebelumnya Bapak kejang-kejang sebentar. Sebuah ke­matian yang cukup menyenangkan, menurut pengamatan dan pemahaman Ibu.

***

DUA hari lalu Ibu dibawa ke rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi. 24 jam kemudian Ibu tak sadarkan diri. Se­ka­rang pasti Ibu sedang ditopang oleh berbagai peralatan me­dis. Bila dokter mengatakan itu jalan satu-satu­nya untuk mem­pertahankan hidup, yang tak mungkin lagi memperoleh kesembuhan, apakah maksud Ibu ’’tak ingin menyu­sah­kan’’ ber­arti aku harus mengizinkan selang-selang yang kubayang­kan malang-melintang kemudian dicabut dan se­ketika meng­hi­langkan nyawanya? Apakah dengan demikian Ibu merasa ”ber­untung”, kematiannya tidak ”sengsara” akibat sa­kit yang ber­larut-larut?

Sementara menurut agama, diajarkan agar kita tidak men­da­hului Sang Pencipta, yang hanya Dia, Penguasa yang berhak men­cabut nyawa manusia. Bukankah kewajiban seorang anak harus mengupayakan pengobatan dan memanjatkan doa ke­pa­da Yang Mahakuasa memohon diberi kesembuhan? Alang­kah jahat dan durhaka seorang anak menutup harapan hidup orangtua, yang telah melahirkan dan membesarkan dengan pe­nuh pengorbanan dan kasih sayang.

Di satu sisi aku menangkap sepenggal wasiat, sebuah per­min­taan. Tetapi di sisi lain aku harus menjalankan amanah dan ke­wajiban insan beriman.

***

SAAT dicekam kebimbangan, terbayang sosok Ibu dalam pe­nam­pilan seorang yang bersahaja penggemar sastra.

Ibu selalu memandang segala sesuatu yang terjadi sebagai hik­mah yang harus disyukuri. Pelajaran tentang cara mena­tap ke­hidupan banyak yang dia ajarkan. Hal-hal yang keli­ha­tannya se­pele tetapi digali dari lubuk yang paling dalam. Mur­ni dari ke­rinduan diri. Bukan mengungkap yang semu, apa­lagi palsu. Atau memaparkan kelebihan dan kemewahan.

”Biar orang lain memuji atau memperbincangkan, teta­pi ja­ngan sekali-kali kamu yang menceritakan tentang kehe­bat­an­mu atau keluargamu. Bahkan sebaliknya, kamu yang harus men­ceritakan kehebatan mereka,” Ibu selalu mengingatkan.

Ibu hanya bekas guru Sekolah Rakyat, yang sekarang nama­nya berubah menjadi Sekolah Dasar. Itu pun hanya sampai ke­tika Bapak telah sepenuhnya berdagang, melepas pekerjaan se­bagai karyawan PLN pengawas beberapa gardu di wilayah Se­la­tan. Hanya bahasa Belanda, bahasa asing yang dikuasai­nya. Itu karena Ibu pernah sekolah di H.I.S.

Ikut serta dalam organisasi massa, sangat-sangat dihindari. Pa­ling-paling selain rajin ikut pengajian, Ibu aktif di paguyuban aliran kebatinan dan membantu kakaknya menyiapkan kate­ring bila sedang mengadakan semadi bersama.

Mengajar untuk mandiri, membantu menyelesaikan peker­ja­an rumah, atau memecahkan soal-soal dari sekolah sedapat mung­kin beliau jauhi.

”Kalau kamu tak mampu jangan dipaksakan. Mungkin se­batas itu kapasitas yang menjadi suratan. Tetapi setiap orang, biar bodoh sekalipun, harus menggunakan kepintaran yang di­miliki untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tanpa ban­tu­an orang-orang yang semestinya tak dilibatkan. Jadi, kamu ha­rus berusaha sendiri. Harus mandiri!” Ibuku sering berkata be­gitu dan bapakku sangat setuju.

Saat kuceritakan banyak kawanku yang membanggakan ibu­nya dan kutanyakan apa sebetulnya kehebatan Ibu yang ha­rus kuceritakan, Ibu malah bilang, ”Mestinya aku yang ha­rus­nya nanti bangga pada kamu. Bilang saja ibumu hanya se­orang gu­ru sekolah rendah.”

”Boleh aku menceritakan Ibu sebagai seorang pengarang puisi?” pernah hal itu kutanyakan.

”Menceritakan aku gemar berpuisi boleh-boleh saja. Siapa tahu mereka menjadi terinspirasi mencintai sastra juga. Tetapi jangan kau banggakan aku sebagai penyair. Itu bukan profesi atau hobiku.

”Aku telah memilih pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Ke­senanganku hanya memasak dan bersih-bersih rumah. Sisa waktu paling kuhabiskan untuk membaca buku atau kadang-kadang menulis.

”Bapakmu yang meminta aku mengisi waktu bersama ke­luarga, sementara waktunya habis buat kerja.”

Memang aku dan adik-adikku sangat merasakan, di rumah se­lalu ada seseorang tempat berkeluh dan sosok tumpuan menyi­bak kebuntuan. Tidak hanya muncul secara fisik, tetapi juga meng­hadirkan jiwanya, tiang kelana kehidupan, yang me­mo­tivasi untuk terus berprestasi.

Memberi inspirasi, Ibu sering membacakan puisi. Baik karya sendiri atau cuplikan dari sebuah antologi. Ibu bilang, untuk meng­gugah perasaan agar lebih peka menerima pesan-pesan mengandung arti yang perlu dipahami. Kemudian bersama-sama membangun ruang komunikasi, dengan pengantar ba­ha­sa-bahasa samar. Rasanya dengan menggunakan ungkapan meta­foris, tali rasa lebih lekat terjalin dan maknanya lebih merasuk ke da­lam perasaan.

”Karena, puisi itu juga merupakan kelembutan ekspresi ke­ber­adaan jiwa. Kehadiran roh kita yang selalu ingin menyatu dalam jalinan keluarga.

”Tubuh kita bisa mati. Fisik kita bisa sirna. Tetapi roh kita akan tetap hidup. Antara lain ya dalam puisi itu.” Begitu, dulu Ibu menggambarkan.

”Jadi kalau aku mati, itu hanya kematian jasadku, yang akhir­nya dengan tanah lebur menyatu.

”Saat kamu baca puisi yang lahir dari tanganku, rohku akan ada di situ. Begitu pula saat kamu baca puisimu, aku pasti akan tergugah menyimak.

”Kita usahakan dapat terus berkomunikasi lewat puisi.”

Itulah keyakinan dan harapan Ibu.

***

SAAT menuruni tangga pesawat, kebimbangan yang menye­li­muti kupendam dulu dalam-dalam. Biarlah nanti kuputuskan se­telah melihat dan memahami situasi. Tetapi tanpa sebuah ke­putusan yang kuyakini, tetap saja keraguanku menempatkan pe­rasaan mengambang tak menentu. Bila keadaan Ibu seperti yang kubayangkan, betul-betul aku akan dihadapkan pada po­sisi yang amat sangat sulit.

Saat HP kubuka kembali, membaca pesan adikku, aku ter­se­nyum. Ternyata Ibu benar-benar tak ingin menyusahkan. Be­liau wafat saat pesawat telah mengudara. Dan air mataku seketika deras mengalir. Apakah itu tangis sedih, lega, atau haru, terasa berbaur hingga tak dapat dengan mudah dipilah-pilah. Mungkin Ibu mangkat setelah beliau yakin benar, se­ben­tar lagi aku pasti akan datang.

Ketika adikku menyampaikan bahwa jenazah menungguku untuk dimandikan, langsung kupesan taksi menuju RS Eli­sa­beth. Menurut kebiasaan, semua anak-anak harus ikut meng­gu­yur jenazah sebelum dibungkus kain kafan. Walau lengan baju sudah kusingkap, niat memandikan kuurungkan setelah adik­ku menyampaikan titipan Ibu, sebelum beliau kehilangan kesadaran.

Kudapati tulisan terselip dalam amplop, sebuah pesan menye­rupai puisi.

Tak usah kau ikut memandikan

Jasadku yang dingin profan

Singkaplah kain kafan

Pandang wajahku dalam senyuman

Lalu bacakan puisi-puisi

Mengiring hidup di alam kematian

Selesai dimandikan, kupandangi wajah Ibu yang ce­rah se­dang pulas tidur sambil tersenyum. Memenuhi permintaan­nya, kubacakan puisi-puisi dalam berbagai bahasa yang Ibu menger­ti: Jawa, Melayu, Belanda, dan satu puisi indah berbahasa Arab yang pada waktu malam sering Ibu melafalkan; Surat Yasin.

Selamat jalan, Ibu. Pasti, akan kugubah sebuah lagu, meng­iringi melepas rindu saat engkau bertemu kekasihmu.



Dicopas dari Novel Lauh Mahfuz Karya Nugroho Suksmanto