Tuesday, 19 February 2013

KAN? #3 END - cerbung Rini Purnomo

Tags




aku



berjalan mendekat kearahnya sembari menarik keluar pisau yang dari tadi
mengaso dibalik jaket hitamku. kuangkat tanganku tinggi tinggi dengah
harapan sekali tusuk saja maka mampuslah dia.

" siapa kau! ", tiba tiba dia terbangun dari tidurnya, mendorong badanku
sampai punggungku mencium lantai. dia kemudian berdiri dan mencoba
berlari keluar dari kamar tapi tanganku berhasil memegang kakinya dengan
kuat, dia terjerembab, dan tanpa rasa kasihan dia kuhujani dengan
tikaman. dia mengerang kesakitan tapi aku tidak perduli, aku berdiri
dengan wajah sadis yang kubuang kearahnya.

dia terus mengerang kesakitan dan aku masih dengan wajah sadis
menatapnya, aku betul betul kehilangan rasa kasihan yang tadi sempat
menyusup dalam pikiranku. tiba tiba dia berusaha berdiri, merayap
berpegangan pada dinding, aku tak memperdulikannya. kubiarkan saja dia
berlaku sesukanya, toh sebentar juga akan mati.

kamar menjadi terang, rupanya dia sengaja memencet saklar listirnya. aku
menatapnya dalam dalam dan tampak jelas oleh mataku kalau dia sudah
bermandikan darah, wajahnya pucat sudah. tidak sampai semenit dia pun
jatuh, tanpa erangan apalagi dengkur yang tadi sempat kudengar diawal
masuk rumah.

aku mengabaikannya, kubiarkan dia telungkup lelap dalam tidurnya yang
tanpa bangun lagi. mataku berpindah darinya kepada seisi kamar, mencoba
mencari cari apakah ada apa apa yang bisa kubawa pergi. lalu ... mataku
melihat lemari model kuno yang terbuka, aku bergegas mendekat. aku
menggerayangi semua isi lemari tapi tetap tidak ada yang berharga selain
pakaian si empunya kamar. aku tidak menyerah, mataku kembali menyapu
isi kamar dan akhirnya kutemukan meja rias yang mematung di dekat lemari
kuno, lacinya terkunci pasti, kubuka dengan paksa dan aku hampir
berteriak kegirangan karena menemukan setumpuk perhiasan yang berkilau
yang diantaranya terselip sembar foto, dimana salah satu wajah yang ada
di foto begitu akrab dimataku. tanganku makin menggigil saat melihat wajah yang ada disampingnya, seorang wanita yang tengah duduk manis memangku seorang bayi. dan hatiku makin berdebar, lebih gemuruh dari pecahnya gelombang kala dilintasi kapal tapi sedetik kemudian semua terasa hening dan ngilu saat aku membaca sebait kalimat dibalik foto.

; pengisi dadaku, Mada.