Monday, 18 February 2013

KETIKA ANESTESI MEREBUT NAFASKU





KETIKA ANESTESI MEREBUT NAFASKU

gelang karet hijau itu
tertera sebaris namaku
ia pakaikan di lengan kiriku
sebagai tanda pengenalku
:kali saja nyawa meregangmu
begitu ia berujar padaku

aku kalut
aku takut
aku sedih
aku perih

tiada siapa, tiada
hanya bersama denganNya
air mata yang tertahan
tulang yang lemas menyangga badan
mengiringiku masuk ke ruang hijau
:Tuhan ku pasrahkan diri kepada engkau

sedetik-dua hitunganku
'anestesi' merebut nafasku
hilang kini kesadaranku
:Tuhan aku berlindung padaMu

entah bagaimana mulanya
mimpi datang menyela
suara keras membahana
tak ku dengar jelas kalamnya
namun tak bisa ku lupa
getarannya guncangkan raga
:Tuhan beri aku kesempatan
doa'ku di alam ketidaksadaran

tiba-tiba kerling cahaya menyilaukan mata
suara lirih berulang memanggil dan berkata
:Tuhan telah memberi kesempatan padamu
berlinang air mataku bertakbir mengagungkanMU
:Tuhan dengan namaMu kan ku patuhi perintahMu
doa'ku di penghujung rahmatMu

18-02-2013

Mieft Aenzeish