Friday, 1 February 2013

KETIKA IBLIS MENIKAHI SEORANG PEREMPUAN

Tags






Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan


Oleh: A.S. Laksana

Niccolo Machiavelli

------------------------------

Machiavelli dikenal luas dengan karyanya Il Principe (Sang Pangeran), yang berisi nasihat kepada penguasa baru tentang bagaimana cara memperoleh kekuasaan dan mempertahankannya—dengan asumsi setiap manusia adalah jahat. Di samping buku itu, ia juga melahirkan banyak tulisan tentang politik dan sejarah, dua buah lakon, dan sebuah novela. Cerita berikut ini menunjukkan gaya khas Machiavelli, sebuah satir yang terasa simplistik, dan gaya bertutur yang otoritatif. Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari versi bahasa Inggris "The Devil Takes a Wife", dalam Great Italian Short Story susunan P.M. Pasinetti, Del Publishing Co. Inc., 750 Third Avenue, New York, 1959.

------------------------------

Pada cerita-cerita lama dalam sejarah Florentine, kau mungkin pernah membaca riwayat orang suci (yang mula-mula dituturkan dari mulut ke mulut), yang perangainya sangat dihormati siapa pun pada saat itu. Karena kekhusyukan doa-doanya, ia mampu melihat jiwa orang-orang yang mati tanpa ridlo Tuhan dan tercampak ke neraka. Semua atau sebagian besar dari mereka memaki diri sendiri karena telah menghadirkan kesengsaraan bagi diri sendiri, ialah dengan mengambil seorang perempuan sebagai istri.

Di antara para hakim di neraka, ada dua yang tak segera percaya pada hujatan para lelaki penghuni neraka itu. Mereka adalah Minos dan Rhadamantus. Mereka tidak pernah yakin bahwa seluruh hujatan terus-menerus terhadap perempuan ini adalah sesuatu yang dapat dipercaya. Namun hari demi hari hujatan makin meningkat. Kemudian mereka menyampaikan persoalan ini, dengan tutur kata yang mengesankan, kepada Pluto, dan Pluto memutuskan untuk melakukan penyelidikan secara saksama. Ia mengumpulkan para pangeran di neraka dalam sebuah forum besar. Di forum itu, Pluto meminta nasihat bagaimana cara mengadili yang seadil-adilnya, cara mengungkap kebohongan, atau cara menemukan kebenaran dalam persoalan tersebut. Maka, ketika anggota dewan yang terdiri dari pada bangsawan neraka berkumpul, Pluto memulai pidatonya:

“Para penghuni neraka yang terkasih. Meskipun aku menguasai kerajaan ini dengan seluruh kekuasaan dan dengan kehendak takdir yang tak bisa diubah (dan karena itulah aku tidak bisa ditundukkan oleh sidang pengadilan mana pun, baik di langit maupun di bumi), namun, karena pihak yang sangat berkuasa harus menunjukkan kebijaksanaan paling agung dalam ketaatannya terhadap hukum dan dalam menghargai pendapat pihak lain, maka kuputuskan untuk minta pendapat kalian semua tentang bagaimana aku harus mengambil tindakan. Sebab tujuan hujatan para lelaki yang datang ke kerajaan kita ini dapat menjadi persoalan yang memalukan kerajaan kita.

“Kenapa setiap lelaki yang datang ke kerajaan kita menyatakan bahwa penyebabnya adalah karena mereka punya istri? Hal itu bagiku tampak tidak masuk akal. Kita takut dalam proses pengambilan keputusan di depan pengadilan nanti kita akan dicela karena terlalu naif, mudah percaya, atau sebaliknya kurang tegas dan kurang mencintai hukum. Melihat bahwa kesalahan pertama dari setiap pengambilan keputusan adalah kesembronoan dan yang lainnya adalah ketidakadilan, dan berharap agar kita bisa terbebas dari tuduhan yang datang dari seseorang atau lainnya, dan kita tidak bisa menemukan pemecahannya, maka kukumpulkan kalian untuk mengakhiri persoalan ini. Kalian bisa membantuku dengan nasihat sehingga kerajaan kita ini akan berjalan tenteram, sebagaimana yang sudah-sudah, tanpa hujatan.”

Semua pangeran memikirkan persoalan yang begitu penting dan sangat pelik ini, semuanya sependapat bahwa penting sekali untuk menguak kebenaran, namun mereka tidak menemukan kata sepakat tentang bagaimana cara melakukannya. Sebagian berpikir bahwa salah satu dari mereka (dan sebagian yang lain menganggap perlu lebih dari satu) harus dikirimkan ke bumi, dan menyamar sebagai manusia untuk mempelajari fakta tentang manusia. Tiba-tiba mereka sadar bahwa itulah cara paling mudah, yakni menurunkan wakil-wakil dari neraka ke dunia, memerosokkan mereka ke dalam penderitaan, dan mereka kelak akan mengungkapkan pengalaman mereka di depan forum. Tapi ketika mayoritas menyarankan bahwa hanya satu di antara mereka yang harus dikirimkan, semuanya saling pandang. Undian terpaksa dilakukan karena tak satu pun bisa menemukan siapa yang paling tepat untuk menjalankan tugas ini Yang kalah adalah Belfagor, iblis terbesar (sebelum dikirimkan ke neraka, ia adalah malaikat terbesar). Meskipun sesungguhnya malas mengerjakan tugas tersebut, namun, di bawah tekanan kekuasaan Pluto, ia menyanggupi keputusan dewan dan Berfagor meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sanggup menjalankan ketetapan itu.

Aturan segera dibuat dengan sungguh-sungguh: yakni, sesiapa yang mengemban tugas akan dibekali saat itu juga dengan dana sebesar 100.000 ducat. Dengan bekal itu ia dilepas ke bumi, dalam wujud manusia, untuk menikahi seorang perempuan dan hidup dengannya dalam waktu sepuluh tahun. Kemudian ia harus pura-pura mati dan kembali ke neraka untuk memberi laporan kepada anggota dewan neraka tentang beban dan cobaan dalam perkawinan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa selama kurun waktu tertentu ia harus menjalani kesengsaraan dan rasa sakit yang menimpa manusia yang disebabkan oleh kemiskinan, keterkungkungan, penyakit, dan semua penderitaan yang terjadi pada manusia, dan hanya dengan keculasan atau kecerdikan ia dapat membebaskan diri dari semua itu. Berfagor tak mau berlama-lama mendengar instruksi tersebut, secepatnya ia mengambil uangnya, dan turun ke bumi.

Kepada iblis-iblis kawannya ia meminta disiapkan sejumlah kuda dan para pelayan. Lalu dalam wujud sebagai seorang bangsawan yang berpenampilan mewah, ia bersama para pelayannya memasuki Florence. Dipilihnya kota ini, dan bukan kota lain, karena ia melihat peluang besar di sini untuk mengupah orang yang dapat menangani uangnya dengan seluruh kecakapan menjalankan riba. Dengan nama baru sebagai Roderick de Castile, ia menyewa rumah di kawasan Ognissanti. Dan untuk menjaga diri dari syak-wasangka orang-orang di sekitarnya, Roderick bilang kepada mereka bahwa ia baru saja meninggalkan Spanyol dan pergi ke Syria, dan di Aleppo ia beroleh rezeki. Dari sana ia berangkat ke Italia untuk mengambil seorang istri dengan pertimbangan bahwa negeri ini lebih beradab dan orang lebih menjaga kesantunan, dan itu sesuai dengan seleranya.

Roderick sangat tampan dan kira-kira berusia tiga puluh tahun. Dalam beberapa hari saja ia sudah menunjukkan diri sebagai orang yang sangat kaya dan, dengan memamerkan kemurahan hati serta keramahannya, banyak bangsawan setempat, yang memiliki banyak anak gadis dan sedikit uang, menawarkan anak mereka kepadanya. Dari semua yang ditawarkan kepadanya, Roderick memilih satu orang yang sangat cantik bernama Honesta, anak perempuan Amerigo Donati. Sang ayah memiliki tiga anak perempuan yang sudah memasuki usia perkawinan dan tiga anak lelaki yang sedang tumbuh. Meskipun Amerigo Donati seorang keturunan bangsawan yang terhormat di Florence, namun jika kau membandingkan isi rumah dengan derajat kebangsawanannya, ia tergolong melarat.

Roderick menanggung sendiri biaya pesta perkawinannya dengan Honesta. Begitu mewah, begitu megah, segala yang didambakan orang dalam kemeriahan pesta tersedia. Tunduk kepada seluruh nafsu manusia, sebagaimana tugas yang diberikan kepadanya ketika meninggalkan neraka, suatu hari ia mulai menikmati kekayaan dan pesta-pesta duniawi. Ia sangat menyukai pemujaan dari orang-orang di sekitarnya, dan ia sanggup mengeluarkan biaya besar untuk itu.

Namun, di luar semua itu, kebahagiaan perkawinannya dengan Honesta runtuh sebelum ia benar-benar mencintai istrinya itu. Ia tidak tahan melihat kemurungan dan kekasarannya. Honesta masuk ke rumah Roderick tidak hanya membawa serta kebangsawanan dan kecantikannya, tetapi juga setiap bentuk keangkuhan yang bahkan setan pun tidak memilikinya. Dan Roderick, yang memiliki pengalaman baik sebagai iblis maupun sebagai manusia, membisiki istrinya agar lebih memperbesar keangkuhannya.

Apa yang diinginkan oleh suaminya benar-benar dijalankan oleh Honesta sehingga rasa cinta sang suami pun menjadi berlipat-lipat. Ketika perempuan itu sadar bahwa ia bisa melakukan segala sesuatu seolah-olah sangat berkuasa atas suaminya, ia mulai memerintah-merintah suaminya dengan kasar dan tanpa rasa hormat sedikit pun. Jika suaminya menolak permintaannya, tanpa ragu-ragu ia akan mencaci maki dengan kata-kata yang kasar dan hina. Semua itu membuat Roderick merasa sangat tertekan. Namun ayah Honesta, adik-adik lelakinya, kerabat-kerabatnya, ikatan abadi perkawinan, dan di atas segalanya adalah rasa kasihnya kepada perempuan itu, mengharap Roderick agar menghadapinya dengan sabar.

Bersambung ke bagian 2