Saturday, 2 February 2013

KETIKA IBLIS MENIKAHI SEORANG PEREMPUAN 4

Tags





Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan (4-TAMAT)


Oleh: A.S. Laksana

Niccolo Machiavelli

Dengan perasaan yang sangat tertekan, petani dari Florence itu mencoba melakukan yang terbaik. Dibisikkannya permintaan kepada Roderick ke telinga putri raja. Ia memohon agar Roderick tidak mengganggu ketenangannya dan menghentikan saja kesukaannya menyusup-nyusup ke tubuh perempuan, apalagi putri raja, agar ia tidak mendapatkan kesulitan di masa datang. Terhadap permintaan ini, Roderick menjawab: “Ah, pengkhianat murahan, kau datang tanpa izinku dan mengganggu kehadiranku. Tidak cukupkah kekayaan yang sekarang ada di tanganmu? Baiklah, aku akan tunjukkan kepada setiap orang bahwa aku bisa membuat kaya siapa saja dan bisa mengambilnya kembali jika aku mau.”

Dengan jawaban seperti itu, Gianmatteo—yang tak melihat jalan lain untuk berdamai dengan Roderick—memutuskan untuk menempuh cara lain. Ia datang kepada raja. “Tuanku,” katanya, “sebagaimana yang saya haturkan kepada Paduka sebelumnya, rupanya tak hanya satu setan yang menyusup ke tubuh putri Paduka, sehingga tak banyak yang bisa saya lakukan. Karena itu saya ingin mencoba cara terakhir. Jika berhasil, itu yang kita inginkan, tapi jika gagal saya akan sangat sedih dan silakan Paduka melakukan apa pun terhadap saya.

“Untuk cara terakhir ini saya minta dibangunkan sebuah panggung yang cukup besar di Lapangan Bunda Suci, yang cukup untuk menampung semua bangsawan dan pejabat di kota ini. Saya minta panggung dilapis dengan sutera dan emas. Di tengah-tengahnya saya akan membangun altar. Minggu pagi mendatang saya harap Paduka beserta seluruh pangeran dan bangsawan berkumpul di sana, dengan gemerlap pakaian yang menunjukkan kekayaan masing-masing. Setelah upacara bersama yang khusyuk, saya akan meminta putri Paduka yang kerasukan dibawa ke depan. Di samping itu saya minta di salah satu sudut laoangan disediakan paling tidak dua puluh orang dengan terompet, tamborin, simbal, dan segala macam alat musik. Jika nanti saya mengangkat topi saya, itulah aba-aba bagi mereka untuk memainkan alat musik mereka dan masuk ke panggung. Semua ini, bersama mantra-mantra dan doa saya, saya pikir akan bisa mengusir setan dari tubuh putri Paduka.”

Raja memerintahkan semua yang diminta Gianmatteo segera disediakan. Minggu pagi tiba. Upacara dan doa-doa yang khusyuk dilakukan. Setelah itu putri yang kesurupan dibawa ke panggung oleh dua orang uskup dan dua orang bangsawan. Ketika Roderick melihat para pembesar istana dan pejabat kota berkumpul dengan pakaian kebesaran mereka di satu panggung, ia menggumam, “Apa yang akan dilakukan si bangsat murahan itu? Dia pikir akan akan gemetar ketakutan menghadapi pameran seperti ini? Tidakkah dia tahu bahwa aku sudah terbiasa melihat gemerlap surga dan karut marut neraka?”

Ketika Gianmatteo datang kepadanya dan memintanya agar pergi dari tubuh putri raja, Roderick menjawab: “Oh, bedebah yang manis, kaupikir kau bisa berbuat banyak dengan kerumunan orang seperti ini? Kaupikir kau bisa lepas dari kekuasaanku dan bebas dari cengkeraman amarah raja? Kau pengkhianat murahan, aku ingin melihatmu digantung.”

Mendengar kutuk dan sumpah serapah seperti itu, Gianmatteo tahu, tak ada waktu lagi baginya untuk memohon belas kasih Roderick. Lalu diangkatnya topinya dan para pemain musik segera memainkan instrumen di tangan mereka dan berjalan masuk ke panggung. Tak jelas mereka memainkan irama apa, Roderick menutup telinganya karena permainan mereka sedemikian bising. Tak tahu apa lagi yang akan terjadi, dengan gelisah ia menanyakan ke Gianmatteo apa yang akan menyusul setelah ini. Gianmatteo menjawab dengan nada orang bingung, “Celaka, Roderick yang baik. Istrimulah yang akan datang kemari menemuimu.”

Sungguh mencengangkan pengaruh kata “istri” bagi Roderick. Ia sangat gelisah. Tanpa berpikir apakah benar atau tidak yang dinyatakan oleh Gianmatteo bahwa istrinya akan datang, ia segera keluar dari tubuh putri raja. Saat itu juga ia berkemas pulang ke neraka. Rasanya tak sanggup lagi ia melanjutkan pembuktiannya dengan menjalani lagi hidup berkeluarga dengan perempuan itu dan merasakan pedihnya.

Maka, begitulah, Roderick—iblis terbesar yang sebelum dicampakkan dari sorga adalah malaikat terbesar—pulang ke neraka dan memberi laporan tentang istrinya dan segala macam penderitaan yang dibawa perempuan itu ke rumah mereka selama mereka menjadi suami istri. Dan Gianmatteo, yang jauh lebih tahu tentang kehidupan berumah tangga ketimbang para iblis, pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.***