Thursday, 21 February 2013

MAHKOTA ZAITUN, puisi Sitok Srengenge




MAHKOTA ZAITUN



Memang, Creon namanya

tapi ia bukan paman sekaligus ipar Oedipus sang raja,

perwira tinggi yang mendaki Bukit Delphi, ketika

negerinya dikoyak wabah dan bencana,

untuk bertanya kepada dewa:

siapa pembunuh Raja Laius

putra kebanggaan Labdacus



Ia bukan Creon yang ksatria,

putra Menoeceus dan adik lelaki Jocasta,

bukan pula Creon penguasa Negeri Corintha

: ia hanya hamba sahaya



Diselubungi cahaya setengah gelap

di ruang bawah tanah yang pengap

tubuh dan ruhnya menyatu

dengan bebongkah batu

Tekun memahat dan mengamplas

meluweskan bentuk, mempercantik paras



Tapi, apa daya, di negeri itu manusia

merasa lebih kuasa dibanding dewa-dewa

mereka memaklumatkan sebuah postulat:

keindahan hanya milik kaum bermartabat

Para hamba sahaya

orang-orang tidak merdeka

dilarang mencipta karya seni

ancamannya: hukuman mati



Adakah yang mampu menghentikan

imajinasi dan arus kesadaran

getar hati dan pendar pikiran

geliat naluri dan hasrat menghayati keindahan?



Creon pernah percaya dewa-dewa akan menolongnya

Apollo akan membimbing tangannya yang seolah punya mata

Aphrodite akan meniupkan aura ke setiap patung

dan kelak karyanya disanjung Phidias yang agung

Namun ia sadar hidup di bawah kangkangan penguasa

baginya nasib bukan kemestian yang jatuh dari langit

tapi kemungkinan yang mesti direbut meski dengan sakit



“Creon, berhentilah berduka,” kata Cleone, adiknya

“Jangan putus asa, dewa-dewa akan melindungi kita.

Akan kubawakan makan dan minum untukmu,

selain doa tulus dan cintaku.”



Kemudian, pembukaan festival seni Athena pun tiba

khalayak berduyun ingin menyaksikan aneka karya

Kaisar Pericles bertindak sebagai ketua dewan juri

didampingi Aspasia, perempuan paling cendekia di seluruh negeri,

Phidias

Socrates

Sophocles



Di antara mahakarya para seniman terkemuka

tampak sekelompok patung yang memancarkan pesona

memancing rasa iri para maestro seni

memikat setiap hati



“Siapa pencipta karya gemilang ini?”

Pericles bertanya

Tak seorang pun menjawabnya

Para penjaga mengulang pertanyaan itu

tapi hadirin tetap bisu



“Gadis ini tahu pemahatnya,

tapi ia tak mau menyebutkan nama!”

Seorang petugas menghempaskan tubuh Cleone

orang-orang menghardik dan memaksanya bicara,

gadis itu tetap bungkam demi keselamatan kakaknya



“Biar undang-undang yang memutuskan,” Pericles berfatwa,

“dan saya akan melaksanakannya!”



Menyadari bahaya mengancam jiwa gadis itu

Creon meruyak maju dan berseru

“Wahai, Pericles yang mulia!

Ampuni dia. Sayalah yang salah.

Patung-patung itu buah tangan saya,

benar, tangan seorang hamba sahaya.”



Seketika, para pencari muka pun murka

mereka mendesak agar Creon dijebloskan ke panjara



“Demi kehormatan saya, tidak!”

Pericles berseru sambil berdiri

teriakan orang-orang serentak terhenti



“Pandanglah patung-patung itu dengan mata dan hatimu!

Apollo telah menunjukkan bahwa di Yunani ada yang lebih luhur

dibanding undang-undang yang tidak adil.

Camkanlah, jika kita ingin dihormati,

menjunjung seni akan membuat sebuah bangsa

dikenang lebih hormat dan lebih lama.”



Creon memeluk dan menciumi Cleone

Aspasia memasang mahkota daun zaitun di kepala Creon



1998