Sunday, 24 February 2013

SAJAK DARI PUNGGUNG BUKIT



Timur Sinar Suprabana:


sajak dari punggung bukit


dari punggung bukit di mana ketika itu aku berdiri dalam kegamangan

sembari mengenangkan engkau, o, yang makin berjarak dengan ingatan:

aku menyaksikan lingir langit berhimpit dengan akhir hamparan laut

yang kian menjauhkanku dari kemungkinan kembali berpaut.

barangkali itulah sebab mengapa aku seperti mengapung dan melayang

sebagai rasa bimbang yang kehilangan pegangan dan jalan terang.


mungkin benar, sebaiknya mulai sekarang kuklikop saja ingatan tentangmu

dan tak usah menjaga hurufhuruf yang selalu kupakai menuliskan namamu.

barangkali betul mesti begini: berkemas, pergi, menumpas segala peduli

meski hidup bakal pasi, basi dan tiada pernah lagi mencecap manis gelali.

seperti kesunyian ruang berudara kosong, berdebu, penuh bercak di dinding

di mana dulu kita melekapkan berkasberkas rencana dan harapan tak berdaging.


kekasihku, tanah air hatiku, tumpah darah kalbuku, pautan tulangtulang igaku

mengapa engkau kini menjadi muasal kemeranaan yang menestapakan hidupku?

aku merana kerna Cinta terbuktikan melalui ibu yang meracun anak-anaknya,

aku menestapa kerna makin banyak yang kehilangan keteguhan akal sehatnya,

aku merana dan menestapa kerna harapan kian kehilangan daya juang

dan juga kerna berbilang orang tak lagi punya peluang selain jadi pecundang.


kekasihku, tanah air hatiku, tumpah darah kalbuku, pautan tulangtulang igaku

mengapa engkau mempedayaiku lewat mitosmitos yang berumah di masa lalu?

mengapa engkau menipuku dengan undangundang, kepres dan perda

yang ternyata tak membuktikan apaapa dan tiada mengajak tiba ke manamana?

apakah kamu telah menjadi padang pembiakan yang melahirkan para pembual, makelar,

germo, penipu, maling, pemalsu, gangsir, begal dan tukang jagal?


kerna kamu selalu membisu dan meludahkan pertanyaanpertanyaanku

maka dengan sedihpilu dan tersedu kuputuskan menglikop kamu dari ingatanku

dan menghapusmu dari garismaris yang terpeta di telapaktanganku.

semarang. mei 2008


1 komentar so far

bahasa puisi yang saya suka..entah mengapa. mudah dimengerti dan tidak bertele-tele. tapi setiap orang berbeda mana sebuah puisi yang dia suka...Aku suka dengan penyair Timur Sinar Suprabana.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon