Saturday, 2 March 2013

LELAKI API, puisi Sitok Srengenge




LELAKI API



Di atas lempeng-lempeng batu pinggir plaza

yang menghampar di depan pilar-pilar katedral tua

di jantung Concepcion yang berselimut kabut

seolah menyembunyikan endapan rasa takut

orang-orang takzim meletakkan kembang

menalkin doa, untuk nama yang dikenang



Nama itu, Sebastian Acevedo

bapak yang mencintai dua anaknya

seorang buruh tambang batu bara



Ia orang biasa, warna negeri yang dikangkangi tirani

: ke mana pun mata mengarah tertusuk pagar berduri

senjata bagai hantu haus darah mengintai di malam hari



Tak seorang pun tahu badai duka dalam diri Acevedo

ketika orang-orang yang ia cintai direnggut para carabinero

Kedua anaknya (jejaka 22 tahun dan gadis 20 tahun) ditangkap

dituduh menyimpan senjata gelap



Pun tak ada yang tahu dua bocah malang itu disekap di mana

tapi semua orang tahu, siapa yang dianggap musuh negara

disiksa, tak jarang hingga binasa



Mereka bertanya: jika hukum hanya berlaku bagi si melarat

sonder menyentuh kesewenangan si kuat

apa yang bisa kami perbuat?



Acevedo punya jawaban untuk pertanyaan itu

tak peduli benar atau keliru

Ia menuntut anak-anaknya dibebaskan

dan setelah tuntutan tak dipenuhi

dan nasib putra-putrinya tak diketahui

Acevedo tak memohon lagi



Ia melontarkan peringatan:

Bila kalian tak hentikan

kesewenangan ini,

aku bunuh diri!



Siapa tergerak

siapa berani bertindak

ketika tirani menebar rasa takut

lebih tebal ketimbang kabut

membuat nyali lebih beku

dibanding salju?



Tak seorang pun

Orang-orang justru sangsi

akankah Acevedo menepati sumbarnya sendiri

Tak seorang pun mampu mengukur

seberapa dalam duka diam-diam telah menggali kubur



Acevedo bukan tak takut

tapi tekatnya tak sudi surut

ia tentukan saat dan tempat paling patut



Ia pilih plaza di depan katedral tua

tempat yang tak hanya dekat rumah Tuhan

tapi juga jantung kota pergolakan dan perjuangan



Di sana pernah bangkit pergerakan mahasiswa dan pemuda

di sana Salvador Allende mendapat dukungan paling menentukan

di sana digelar kebrutalan diktator Gabriel Gonzalez Videla

sebelum ia membangun kamp konsetrasi di Pisagua

di sana bahkan Augusto Pinochet yang angkuh

digembleng demi menguasai secara penuh

seni meneror dan membunuh



Di sana pula, akhirnya, Acevedo

mengguyurkan seember minyak tanah ke tubuhnya sendiri

lalu, dalam sekejap, menjelmalah ia manusia api



Orang-orang tersentak dan tertegun

seakan menerima pesan agung: bukan kekuasaan tiran

melainkan kehendak diri sendiri yang menentukan kebebasan



Mereka lalu memberi nama baru bagi tempat itu: Plaza Acevedo

Banyak yang ziarah ke sana, membawa warna-warni bunga

memaknai pesan yang berharga



Dan bunga-bunga itu, lebih dari sekadar tanda simpati

telah menjadi lambang: betapa si lelaki api

hanya percik yang mudah mati

namun nun di uluhati bumi

tersimpan bara abadi



1998

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon