Tuesday, 20 January 2015

RAHWANA DAN SINTA ~ Esai by margono dwi susilo

Tags

 https://kurfadotnet.files.wordpress.com/2012/11/banner.jpg


RAHWANA DAN SINTA

“Mencintai soal martabat. Menikah soal nasib…Aku pamit Shinta…” (Sujiwo Tedjo).

Rahwana lahir dengan watak yang tegas, keras dan cenderung berangasan. Dan dengan wataknya tersebut ia mewarisi kerajaan Alengka dari leluhurnya. Ternyata Rahwana bukan raja sembarangan. Alengka berkembang menjadi kerajaan yang disegani dunia. Bagi lelaki yang sudah mempunyai segalanya tentu ia butuh sesuatu yang berbeda, sesuatu yang menegaskan bahwa ia punya nilai lebih, bahwa ia betul-betul lelaki sejati. Ya, kini ia butuh pendamping yaitu seorang wanita yang sanggup membuat tidak penting semua yang telah ia punyai. Wanita yang membuat kerdil seluruh pencapaian duniawinya, membuat kerdil istana, pasukan perang, harta benda, luas wilayah dan seluruh kesaktiannya. Wanita yang sanggup menggiringnya ke ranjang dengan kebahagian seorang kanak-kanak.
Puluhan bahkan ratusan wanita cantik nan molek dari seluruh penjuru bumi dihadirkan di hadapan Rahwana. Tetapi tak satupun yang sanggup menulisi hatinya. Tak satupun. Apakah Rahwana kurang jantan? Tentu tidak.
Pada hari yang telah ditentukan dewa-dewa, Rahwana bersirobok dengan seorang wanita. Itulah hari yang membuat hati Rahwana terguncang keras. Ialah Dewi Widowati. Rahwana jatuh cinta pada pandangan pertama. Tetapi rupanya dunia wayang punya garis pembatas, takdir yang ditulis seenaknya oleh para dewa. “Wahai Rahwana, kamu tidak bisa memiliki Widowati, karena ia bukan dari golongan penduduk bumi, tetapi ia seorang bidadari yang kebetulan sedang beranjangsana ke marcapada. Satu hal yang pasti Widowati adalah istri Dewa Wisnu, penguasa jagat raya.”
Remuk hati Rahwana. Tetapi ia tidak putus asa. Dipikirkanlah cara untuk memiliki Widowati. Tak lain dan tak bukan ia harus menggempur khayangan untuk mendapatkan pujaan hatinya. Tetapi tunggu dulu. Mampukah ia menandingi kesaktian seluruh penghuni khayangan? Tentu sulit. Tetapi cintanya telah melampaui segalanya. Rahwana membuat keputusan untuk bertapa seribu tahun di Gunung Gohkarno. Dengan kesaktiannya kelak ia akan merebut Widowati dari khayangan. Adakah cinta sedahsyat itu?
Selepas bertapa Rahwana mengerahkan pasukannya menggempur khayangan Suralaya yang jebol pada gebrakan pertama. Para dewa kewalahan lalu menawarkan negosiasi. Rahwana diperkenankan menyimpang dari garis pepesthen, diperkenakan untuk memperistri seorang bidadari, namanya Dewi Tari. Sedangkan Widowati tetap tidak diperkenankan karena ia telah menjadi pasangan sejati Wisnu. Rahwana luluh, tetapi tetap meradang, “wahai para dewa jika cintaku ini terlarang mengapa kau terus tumbuh dan kembangkan dihatiku. Padamkan, padamkan!”
Para dewa yang mencoba berbuat adil menggariskan siasat “wahai Rahwana kau memang tidak diperkenankan untuk memperistri Widowati, itu bukan takdirmu, tetapi kau boleh memperistri titisannya, tentu jika kau mampu.” Rahwana mendengus, lalu menarik seluruh pasukannya dari Suralaya. Dihatinya tetaplah tertulis sebuah nama : Widowati.
Beredar sang bumi mengitari matahari. Merangkaikan waktu tahun-tahun berlalu. Sang Kala mencatat seluruh cerita. Dan benar, titisan Widowati hadir di marcapada, ialah Dewi Kusalya, lalu Dewi Citrawati. Rahwana berusaha merebutnya, tetapi selalu kandas karena para dewa telah memasang pelindung : menitiskan Wisnu pada lelaki pendamping dewi-dewi tersebut. “Wahai para dewa jika cintaku ini terlarang mengapa kau terus tumbuh dan kembangkan dihatiku. Padamkan, padamkan!” Begitu Rahwana meraung menyesali nasib hatinya.
Tetapi memang cinta Rahwana tidak pernah padam. Suatu ketika ditengah belantara terlihat olehnya tiga orang manusia: dua satria tampan dan satu gadis cantik nan anggun. Ialah kesatria Rama dan Laksmana serta istri Rama, Shinta. Sosok cantik ini yang kembali menggetarkan Rahwana, menggolakkan hatinya. Tidak salah lagi ialah titisan Widowati. Semua cirinya, tidak menyimpang. “Kalamarica, tangkap titisan Widowati itu untukku.” Yang diperintah, merubah dirinya menjadi kijang kencana dan berhasil memperdaya dan membawa kabur Shinta. Dunia geram oleh ulah Rahwana, tetapi juga kagum oleh dalamnya cinta Rahwana.
Segala bujuk rayu dikerahkan oleh Rahwana untuk meluluhkan hati Shinta. Tetapi belum berhasil. Berhari-hari, berbulan-bulan bahkan berbilang tahun ia lakukan. Tetapi tetap belum berhasil. Shinta demikian kukuh, tetapi Rahwana tak kalah kukuh. Waktupun bergeser 12 tahun. Tidak ada tanda-tanda Shinta akan menjadi milik Rahwana. Tetapi benarkah?
“Wahai paduka prabu, sebaiknya paduka lepaskan saja Shinta, ia bukan takdir anda. Lagi pula saya khawatir apa yang anda lakukan bukanlah cinta melainkan hanya nafsu dan egoisme laki-laki belaka.” Rahwana diam. Kali ini justru tidak marah. “Wibisana adikku, ketahuilah aku rela menukar seluruh yang aku miliki demi untuk Shinta.” Yang hadir diam, tidak percaya. Yang pasti janji Rahwana itu mengalir mengikuti arah angin dan sampailah ke Taman Asoka, tempat Shinta disekap. Shinta terperanjat, benarkah Rahwana setulus itu?
Pada sore hari, saat bumi Alengka menyajikan harum durian, saat balatentara kera Sri Rama telah berderap menyerbu perbatasan, Rahwana menghampiri Shinta, “Wahai pujaan hatiku telah 12 tahun dirimu dalam kuasaku. Tidak setitikpun aku menjamah dan melecehkan dirimu. Aku tidak menginginkan jasadmu tetapi cintamu. Jika tubuh dan kecantikanmu yang aku inginkan pastilah mudah aku dapatkan dalam 12 tahun ini. Tetapi tidak, aku hanya menginginkan cintamu.” Dan perangpun berkecamuk. Rahwana berlari menyerbu perusuh. Shinta menitikkan air mata. Ia mulai mengagumi sisi lain Rahwana.
Alengkapun kalah. Rahwana kini tinggalah seorang diri. “Prajuritku telah mati Shinta. Kau tak usah gunakan keris itu untuk bunuh diri. Aku hanya akan menyentuhmu kalau kau telah mencintaiku. Mencintai soal martabat. Menikah soal nasib…Aku pamit Shinta…” (dikutip dari Maha Cinta Rahwana oleh dalang Sujiwo Tedjo, resensi konser oleh Mawar Kusuma, Kompas 1 September 2013).
Saat panah Gowawijaya milik Sri Rama – titisan Wisnu – memenggal kepala ke-sepuluh Rahwana, sang pecinta itu tetap tegar, “Wahai para dewa jika cintaku ini terlarang mengapa kau terus tumbuh dan kembangkan dihatiku. Padamkan, padamkan!.” Tubuh Rahwana ambruk dan dipamungkasi timbunan Gunung oleh Hanoman. Perang usai. Pihak kebaikan – atau yang merasa dipihak kebaikan – bersorak kegirangan.
Shinta akhirnya bertemu Rama, suaminya. Perempuan malang itu menghambur ke suaminya. Tetapi stop, tunggu dulu, tangan kekasih dewa itu menampik Shinta, “Dinda harus membuktikan kesucian dinda terlebih dahulu, barulah kita bisa bersatu. Dua belas tahun adalah waktu yang lama bagi seonggok hati untuk bertahan. Apalagi Rahwana punya segalanya.”
Shinta terperangah. Inikah lelaki sejati? Yang memperlakukan wanita selayak benda. Yang menilai perempuan dari selangkangan. Tetapi Shinta hanyalah wanita. Ia telah dididik oleh alam untuk menuruti kehendak dan aturan yang dibuat oleh laki-laki. Shintapun akhirnya menurut digiring masuk api suci. Selepas api suci tubuh itu tetap utuh, bukan karena hati Shinta masih murni untuk Rama, bukan. Tubuh itu tetap utuh karena para dewa tidak ingin mempermalukan jagoannya, Rama. Kelak Shinta melahirkan anak, pada anak tersebut Shinta berpesan : “Jadilah laki-laki seperti Rahwana, ia tidak membutuhkan apapun kecuali cinta sejatinya.”
Ratusan bahkan ribuan manusia modern, yang telah memiliki segalanya, jabatan, jodoh, karier, pendidikan, status, kekayaan, anak yang sholeh, doa yang mengalir, tidak lagi menginginkan gemebyar dunia kecuali “keabadian”. Berbeda dengan Rahwana yang menisbatkan keabadian pada cinta sejati, manusia modern mentautkannya pada hobby yang unik, pengalaman yang menantang, komunitas eksklusif, guru tariqat, fundamentalisme agama, kesalehan ekstrim, sampai cinta menggetarkan seorang selingkuhan yang sanggup mengubah seseorang menjadi kanak-kanak lagi.
Pada titik ini siapakah kita?

oleh : margono dwi susilo

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon