Wednesday, 10 June 2015

Kepada Kamu, Sebuah Nama di Lubuk Hati ~ Puisi Aral

Kepada Kamu, Sebuah Nama di Lubuk Hati





Kepada kamu, yang sibuk mencari cara untuk mengobati rindu sepanjang hari, membongkar-bongkar buku kenangan demi sekadar menatap rupa wajah saya. Atau untuk sekadar mengingat-ingat baju warna apa yang saya kenakan saat pertemuan terakhir kali. Ah, apakah kita terlampau jauh untuk saling bertatatap muka? Dan ketika menemukan kenangan-kenangan yang yang kamu cari pada salah satu lembarannya, ada sesak di hatimu, pun juga rasa sesal yang kamu tidak tahu harus berikan kepada siapa.

dan saya, selalu menjadi lelaki paling tak berdaya saban melihat kamu menangis….

Bila sudah begini, kamu tak akan beranjak dari tempat dudukmu, juga dari hadapan buku kenangan yang saya tinggalkan dan – rupanya– hingga saat ini masih kamu simpan. Dalam kebersamaan yang maha singkat itu, saya berusaha mengabadikan sebanyak mungkin kenangan, sebab saya tahu, kamu begitu mencintai kenangan, saya kumpulkan semuanya di dalam buku itu agar suatu kali, ada cerita yang bisa kamu baca lagi, sebab hidup adalah perihal mengumpulkan kenangan,katamu.

Dan entah bagaimana, kamu masih ingat pesan saya waktu itu: bila kamu rindu, temukan aku dalam buku kenangan ini.

Apakah kita terlampau jauh untuk sekadar melepas rindu?

Kepada kamu, yang menjaga cinta dalam kerontangnya kemarau penantian dan tak pernah beranjak dari pengharapan bahwa saya –seseorang yang kamu tunggu sepanjang waktu –akan kembali. Pada kebersamaan yang maha singkat itu, saya telah menjadi lelaki paling bahagia, sebab memilikimu. Entah itu siang atau pun malam, yang ada di kepala saya adalah wajahmu, yang ada di hati saya adalah namamu. Kamu telah menjadi sesuatu dalam hidup saya yang orang lain tak akan bisa memiliki.

Pahamilah, bahwa cinta adalah suatu hal yang abadi, dan kebersamaan akan menemukan pengakhiran yang menutup segala cerita. Saya sudah begitu bahagia bisa memilikimu, meski mungkin tak akan selamanya. Tetapi percayalah, cintamu akan selalu berada di dalam genggaman tangan saya. Kamu tetap akan menjadi milik saya, dan saya akan tetap menjadi milik kamu.

Ah, cinta, apakah saya terlampau jauh darimu, untuk sekadar berkata bahwa saya tidak akan bisa lagi kembali padamu?

Kepada kamu, yang saban hari menjenguk saya di tempat peristirahatan maha sunyi.



Kotakukotamu | Kamis, 28 Mei 2015


4 komentar

Betul Gan.Puisi Kang Aral memang Top.

hmmm... betul. Thanks sudah berkunjung ke blog ini Mas Chandra.

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon