Tuesday, 19 April 2016

Sepuluh

Sepuluh
Puisi by Mieft Aenzeish

telah kukata pada benak, tentang angka sepuluh
yang menyatukan dua jarak, melekap bagai peluh
seperti telapak tanganku yang kanan
erat menggenggam telapak tanganmu yang kiri
bergandengan, menuju ke tempat impian
bulan yang terangnya tak kenal tsabit lagi
lalu disana Aku Kau bagai raja dan permaisuri
meski rakyatnya adalah diri kita sendiri
tetapi tak pernah kubiar Kau merasa sunyi atau terlebih sampai sepi
tak pernah! karena Kau tahu, Aku terlahir untuk melengkapi
Kau, sayang…
Kau yang hendak kemana jika tanpa Aku
begitu pun Aku yang hilang arah jika tidak denganmu
maka kemarilah, mendekatlah…
bulan kita semakin terang
hati kita semakin cerlang
tinggal menunggu waktu
halalku bersamamu
20:24
26.02.2016
Bandung

1 komentar so far

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon