Thursday, 9 June 2016

20 Puisi Cinta Teruntuk Tuhan, Tentang Kerinduan dan Tentang Wanita Dalam Kecintaan TerhadapNya

Tags

PUISI-PUISI SITI RAHAYU

20 Puisi Cinta Teruntuk Tuhan, Tentang Kerinduan dan Tentang Wanita Dalam Kecintaan TerhadapNya

 
source image
DALAM BUKU 7HDBC
(7 Hati Dalam Balutan Cinta) 

Kecemburuan-Nya

Ketika pintu hati  ada yang mengetuk
Tak sopan jika kita tak membukanya
Tanpa menerka siapa yang ingin jumpa
Dan tanpa ada rasa curiga

Bukan berarti harus berburuk sangka
Namun harus berjaga-jaga
Bisa jadi ia membawa petaka
Bisa pula membawa kabar bahagia

Ku buka dengan rasa penasaran
Dan ternyata ia adalah Cinta
Yang aku tak tahu apa itu Cinta
Dan kurasa asing di hadapannya

Ia datang dengan mengejutkan
Membawa sejuta kata indah
Sikap yang membuatku tak tentu arah
Kemana diri ini harus melangkah

Waktu membawa larut rasa
Rasa yang tak ku inginkan kehadirannya
Yang berujung pada sebuah harapan
Ketika ku tergoda akan kenyamanan
Namun nyatanya ada yang cemburu
Di atas langit-langit nan biru
Hingga datang sebuah pilu
Pada sebuah penantian yang tak tentu waktu

Dan ternyata itu adalah Kecemburuan-Nya
Terhadap pengharapan yang dilakukan oleh hambanya
Yang tak seharusnya di tujukan pada sesama manusia
Yang tak akan pernah memberikan nyata penantiannya
Selamanya….

Cikampek, 1 Agustus 2015

Sunyi di atas Arsy

Berjalan menelusuri keramaian
Berputar-putar mencari rasa sadar
Akankah kesepian ini terus menghampiri
Hingga ku lambaikan bendera putih

Kesepian dalam keramaian begitu menyakitkan
Bisakah ku lalui ini semua sendiri
Tanpa tahu harus bagaimana
Tuk menerjang semua rasa ini

Waktu berlalu begitu cepat
Hingga ku hampir sekarat
Akan sakit yang menjerat
Bagai besi yang berkarat

Ya Rabb, mengapa kau pertemukanku dengannya kembali
Yang hanya membawa sakit hati ini
Kembali terasa hingga hampir mati
Yang berujung pada waktu yang tak pasti

Apakah ini ujian untukku ?
Ataukah bukti sebuah kasih sayangmu ?
Aku mohon tunjukkan padaku
Apa arti diriku dalam hidupku

Hingga ku bisa berlari bukan berjalan lagi
Bahkan terbang ke atas Arsy dengan rasa sepi
Karena ku tahu akan ku hampiri
Sebuah arti dalam sunyi bersamamu ya Rabbi….

Cikampek, 1 Agustus 2015


Perjuangan Cinta bersama Sahabat

Hadirmu bagaikan pelangi
Membawa warna-warni dalam hidup
Tak perlu menunggu hujan berhenti
Karena sinarmu tak akan pernah redup

Wahai insan yang ku tunggu
Marilah sama-sama belajar tawadhu
Berkelana ke semua penjuru
Agar semua ini tak menjadi semu

Waktu berjalan menelusuri setapak perjuangan
Yang tak henti walau badai menerjang
Karena kita tak pernah berhenti untuk berjalan
Menjemput cahaya yang terang benderang

Kuatkan langkah kami ya Rabb
Lindungi setiap jejak ini
Hingga kami menjadi sahabat sejati
Yang akan kekal abadi di atas Arsy


Cikampek, 1 Agustus 2015



Bukan Dalam Diam

Ketika usia menyambut dewasa
Ada hasrat untuk bertanya
Bolehkah aku hidup berdua ?
Dengan orang yang ku cinta tentunya

Bagaimana ku bisa menghadirkan cinta ?
Bagaimana ku dapat bersamanya ?
Bagaimana oh bagaimana ?
Aku dapat mewujudkannya

Saat aku telah tahu arti cinta
Apa yang harus aku lakukan ?
Mengharapkan kehadiranmu
Akan membuat-Nya cemburu

Wahai ilalang yang menjulang tinggi
Temani aku dalam mencari arti
Sebuah penantian bukan dalam diam
Akan tetapi dalam sebuah perjuangan

Cikampek, 1 Agustus 2015

Cinta dalam Kepingan Mimpi

Rumput yang bergoyang
Embun pagi yang menyapa
Bersama mentari yang periang
Dengan awan yang bergelombang
                       
                                                Wahai pelangi
                                                Datanglah bersama mentari
Agar ujung negeri ini berseri
Sebagai denyut nadi para pemimpi

Kepingan mimpiku di balut  rindu
Kan ku ukir bersama cinta yang ku tunggu
Cinta yang akan kau hadirkan di masa depanku
Yang di tuntun oleh yang maha membolak-balikan qolbu

                                                Panggil aku dalam do’amu
                                                Jemput aku dalam khitbahmu
                                                Tuntun aku menggapai ridho-Nya
                                                Hingga kekal bahagia di dalam surga-Nya

            Cikampek, 1 Agustus 2015

Mencari Cinta di Negeri Tercinta

Wahai pujangga yang berkelana mencari cinta
Tak perlu jauh-jauh kau mengejar cinta ke negeri Cina
Sudahkah kau berpetuang di negeri ini ?
Untuk mencari cinta yang hakiki

Wahai bunga di tepi jurang
Masih sanggupkah kau menunggunya ?
Menunggu sang pujangga hati
Dengan gagah berani untuk menjemputmu sang cinta sejati

Serambi mekah dan serambi madinah ada di negeri ini
Yang di dalamnya ada sesosok bidadari berkalam ilahi
Yang sedang di nanti oleh para pejuang cinta
Yang akan membawamu menuju surga-Nya

Dengarkanlah para pejuang cinta
Panggilan hati dalam rintihan do’a
Agar kau mau mencari cinta
Di jalan setapak negeri tercinta

                                                                                    Cikampek, 1 Agustus 2015

Harapan Cinta dalam Do’a

Dalam balutan tangisan yang ku teteskan
Sekeping duri yang tertancap dalam hati
Meretakkan semua asa yang ku jaga
Dan hampir sirna karena kepedihannya

Merangkak perlahan bagai orang yang lumpuh
Aku ingin pergi jauh
Mencari naungan yang teduh
Yang tak akan pernah ada gemuruh di dalamnya

Oh ayah, oh ibu….
Sampai kapan ku harus bersabar
Apakah sampai racun ini perlahan mematikan
Karena ego kalian yang belum bisa terkalahkan

Hanya sebuah penantian dalam harapan
Yang ku gantungkan pada sang pencipta alam
Dalam untaian do’a yang tak terhentikan
Hingga kalian tahu arti cinta yang terdalam
                                   
Cikampek, 1 Agustus 2015

Bidadari Ilahi

Ku berkelana di dalam perut ibunda
Menunggu cahaya yang kan menyinari hidupku
Memberi arti sebuah waktu yang mereka tunggu
Ketika ku lahir sebagai warna baru

Ku lihat dunia melalui perjuangannya
Dalam balutan kasih dan sayang
Ku berkembang dengan indah dalam dekapannya
Yang tak terkalahkan oleh kelelahannya

Bisikannya membawa bahagia
Senyumnya membawa gembira
Pelukannya berisi  cinta
Yang tak akan pernah sirna walau usia telah tua renta

Ibundaku, bolehkah aku bilang berhenti ?
Berhenti untuk tak membuatmu letih karenaku
Agar aku bisa berbakti padamu sang bidadari ilahi
Yang akan ku dudukan di singgah sana surgawi yang abadi

                                    Cikampek, 1 Agutus 2015

Sahabat Fillah

Ia bagai air yang mengalir
Namun bermuara pada lautan indah
Ia bagai pelangi yang hadir setelah hujan
Walau hujan itu di penuhi petir dan gemuruh

Dalam setiap langkah
Ia selalu hadirkan hikmah
Dalam setiap genggaman
Ia hadirkan kekutan

Ketika aku kehilangan arah
Ia datang membawa berkah
Ketika aku lemah tak berdaya
Ia datang membawa bahagia

Engkaulah sejatinya arti setia
Yang menguatkanku dalam dekapan ukhuwah
Yang senantiasa menuntunku dalam ridho-Nya
Wahai engkau sahabat fillah

Cikampek, 1 Agustus 2015
Aku ingin di Surga, Bukan di Dunia

Ijab qobul menjadi kunci yang menyatukan
Dua hati yang saling merindukan
Dalam setiap do’a di sepertiga malam
Ketika mata yang lain sedang terpejam

Wahai imamku, balutlah pernikahan ini dengan keimanan
Dan tuntunlah aku dalam genggaman
Karena semua itu akan menjadi jalan
Yang meringankan setiap langkah menuju kebahagiaan

Wahai imamku, janganlah kau tawarkan kenikmatan dunia
Yang kita butuhkan hanya iman dan taqwa
Agar senantiasa ada dalam ridho-Nya
Menitih jalan ke surganya

Pintaku dalam setiaku hanya Satu
Bangunkan sebuah istana di surga-Nya
Dengan keimanan dan taqwamu pada-Nya
Agar kelak cinta kita abadi di dalamnya
           
Cikampek, 1 Agustus 2015

Cintailah Alam

Aku lahir bagai anak rimba
Yang berkelana bersama flora dan fauna
Petualangan menjadi sebuah perjuangan
Dan tantangan adalah keceriaan dalam sebuah perjalanan

                                    Tak pernah ada rasa malu untuk tetap bertahan
                                    Taka ada kata ragu untuk tetap berjalan
Menapaki sebuah arti kehidupan
Di alam bebas yang tiada kepalsuan

Udara dingin menjadi kawan
Hamparan tanah menjadi alas dalam kedinginan
Dedaunan yang menghangatkan
Ditemani kabut malam yang menutupi awan

                                    Cintailah alam dan bersahabatlah dengannya
Karena disana akan kau temukan arti kejujuran
                                    Tanpa ada kepalsuan
Hingga kau menemukan arti sebuah kehidupan
                                   

                                                Cikampek, 1 Agustus 2015


Rintihan rindu kan Cintamu

Rintik hujan membasahi tubuh
Membalut pilu dalam duka
Membuat cahaya hilang sirna
Dan menghentikan asa dalam cita

Langkah tertunduk agar air tak mengalir
Sedih tak terlihat
Duka tak terbendung
Dan wajah yang redup akan kepahitan hidup

Kehilangan ibunda bagai kehilangan separuh nyawaku
Tanpanya bisa apa aku ?
Hanya manusia kecil yang kesepian
Tanpa punya teman bahkan sahabat

Hari berlalu hingga waktu membuat tubuhku mengecil
Membuat wajahku semakin layu
Membuat hatiku bertambah pilu
Dengan hari-hari yang tak menentu

Ya Allah, begitu sayangkah kau pada ibuku ?
Sehingga kau panggil ia ketika aku belum siap
Kehilangan permata cinta dalam hidupku
Yang menjadi kekuatan dalam bathinku

Berat hati ini untuk menerima ya Rabb
Sesosok malaikat tanpa sayapku pergi
Dengan senyuman terindah
Serta pelukan hangat terakhirnya

Ya Rabb, sampaikanlah rindu yang menggebu
Pada bidadari hidupku
Yang telah ada dalam pangkuanmu
Sampai engkau menjemputku, untuk bertemu denganmu
Wahai bidadariku….

Cikampek, 1 Agustus 2015


Cinta Yang Hakiki

Sinar yang benderang bukan dari bintang
Awan yang berkabut bukan hanya ada di langit
Rintikan air pun tak hanya ada ketika hujan
Begitupun pelangi yang tak selamanya hadir setelah hujan

Ku temukan sinar ada padanya
Bahkan awan berkabut datang pada sendunya
Air juga ada dalam tangisnya
Namun pelangi bersarang pada wajah teduhnya

Wahai insan yang baik hati
Izinkan aku hidup untuk berbakti
Padamu yang tanpa henti
Berjuang tanpa letih bahkan rela mati

Karena ku ingin hidup ini lebih berarti
Karena baktiku pada cinta yang hakiki
Yang menuntunku ke dalam surgawi
Yang kekal abdi bersama para bidadari ilahi

Cikampek, 2 Agustus 2015


Cerita Cinta dalam Kereta

Langkah kaki menuju stasiun di ujung tepi
Menahan lirih hati yang merintih
Semerbak duka yang tak henti menerjang
Jalan setapak menuju kesempurnaan diri

Hai kaca yang menempel di pipi
Ketika aku melihat semua sisi
Pemandangan yang tak ku jejaki
Namun ku lewati bersama sejuta mimpi

Sekerjap cahaya berbisik indah
Janganlah kau tangisi hidup ini
Akan ada setetes rindu yang baru
Yang akan menyempurnakan jati dirimu

Lembaran kertas yang kau beri
Berisi bait puisi penyejuk hati
Memberikan sebingkai senyuman dalam tatapan mata ini
Dan meyakinkan hati bahwa kau lah belahan jiwa ini

Besi-besi yang di rangkai bersama kobaran api
Membawa suasana hangat ketika ku ratapi
Kata indah dari laki-laki tadi
Yang memberi semangat baru dalam hidup ini
Wahai akhi….
Apakah kau yang akan menyempurnakan diri ini
Melalui janji pasti puisi yang kau beri
Bersama keyakinan yang di amanahkan oleh-Nya

Semoga besi berapi ini menjadi saksi abadi
Ketika dua hati saling mencintai
Bersama ketaatan pada ilahi
Hingga kau jadikan ku bidadari berkalam ilahi

Cikampek, 2 Agustus 2015

Cinta Wanita Sederhana

Aku bukanlah wanita istimewa
Yang berbalut indah gaun beragam warna
Yang tinggal dalam istana
Bersama segala kemewahan di dalamnya

Aku bukan pula wanita berparas menawan
Dari keturunan para bangsawan
Yang banyak di sukai lelaki tampan
Dari keturunan para dermawan

Aku hanyalah wanita akhir zaman
Yang menetap pada peraduan sunyi ketaatan
Bersama sejuta impian dalam angan
Yang ingin hidup dalam keistiqomahan

Harapku hanya ingin menjadi yang sederhana
Menjalani hidup penuh makna
Bersama seseorang yang ku cinta
Yang akan membawaku ke surga-Nya

                                                                                    Cikampek, 2 Agustus 2015



Aku mencintaimu karena-Nya

Ku jumpaimu bersama rindu
Rindu yang tak menentu dalam sujudku
Bersama do’a di sepertiga malamku
Yang berharap kehadiranmu

Aku tak tahu rindu ini tertuju padamu
Yang belum ku tahu siapa kah kamu
Yang belum pernah menemuiku
Di sekeliling jalan penantianku

Ku berharap rindu ini mengetuk pintu hatimu
Yang membukakan jalan dalam penantian panjangku
Dengan langkah pasti menemui orang tuaku
Untuk segera mengkhitbahku

Walau ku tahu kau asing bagiku
Ku hanya ingin cinta mengalir deras atas kehendak-Nya
Agar kelak ku bahagia
Karena aku mencintaimu karena-Nya

Cikampek, 2 Agustus 2015

Ku tak mengerti Cinta

Banyak orang yang bertanya
Apakah kau cinta ?
Namun aku bingung harus jawab apa
Karena aku tak mengenal apa itu cinta

Ilalang berkabut asap
Dari lembah di ujung pandang
Tertutup gelapnya malam
Yang membuatku sulit mencari jawaban

Aku bingung harus jawab apa
Karena ku buta akan kata-kata
Yang membuatku bisu untuk berbicara
Untuk menerangkan apa itu cinta

Wahai pencipta alam semesta
Bisikkanlah arti cinta di dalam jiwa
Agar aku merasakannya
Apa itu cinta…

Cikampek, 2 Agustus 2015


Kenyataan yang tak ku duga

Engkau hadir secaratiba-tiba
Seraya berkata aku ingin bersama
Ketika usia ku sama sepertinya
Yang sama-sam ingin berkeluarga

Lewat sebuah pesan kau berbicara
Tunggu aku di ujung senja
Kan ku jemput kau dengan cinta-Nya
Akan ku bahagiakan kau selamanya

Detik berlalu melewati senja
Hingga matahari hilang sirna
Tak kunjung berita datang tuk jumpa
Dan akhirnya membua ku gundah gulana

Wahai pujangga
Mengapa kau hadirkan duka
Dengan sejuta kata-kata cinta
Yang membuatku sakit dan kecewa

Dan akhirnya…
Ku tahu kau telah bersamanya
Membangun mahligai cinta
Dibalik derita dalam jiwa
Walau pahit yang ku rasa
Walau nyata yang tak ku duga
Jangan kau buat Arsy bergetar lagi
Karena janji palsu yang pernah menghampiri hati ini

Cikampek, 2 Agustus 2015

Membalut luka oleh cinta-Nya

Kenyataan pahit yang pernah ku alami
Membuka mata hati yang penah tertutupi
Akan jalan menuju cinta sejati
Yang telah Allah siapkan untuk diri ini

Ombak lautan menerjang batu karang
Yang ku teriakkan rasa sakit yang mendalam
Akan janji yang hilang kelam
Bersama rindu yang seharusnya tak pernah ada

Angin berhembus menyelimuti tubuh
Dan membukakan lembaran-lembaran kalam ilahi
Dan tepat pada kata “La Tahzan!”
Debu pesisir beterbangan menutupi mata

Seketika qolbuku  menggeretak
Dan berteriak bersama deburan ombak
Balutlah lukamu bersama-Ku
Yang kan selalu mencintaimu


Cikampek, 2 Agustus 2015

Cinta dalam genggaman-Nya

Walau baru ku temukan obat
Penawar luka yang membara
Jangan sampai membuatku sirna
Siapa yang membalikkan senyum dalam duka

Ya ilahi rabbi tuntunlah aku dalam ridho-Mu
Agar hidup dalam taat padamu
Menjauhi segala yang membuatmu cemburu
Agar hidup ini tak berliku-liku

Aku ingin menjadi cahaya cinta bagi mereka
Yang menyala di kegelapan malam
Yang menjadi petunjuk jalan
Ketika jiwa mereka diisi oleh keteguhan

Marilah bergandengan tangan
Menjemput bahagia bersama genggaman
Hingga Tuhan mengulurkan tangan
Bagi para pejuang yang berpegang pada kalam-Nya


Cikampek, 2 Agustus 2015

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon