Thursday, 9 June 2016

20 Puisi Romantis Terbaru Untuk Seseorang Tercinta, Untuk Keluarga dan Tentang Hati

Tags

PUISI-PUISI MIFTAHUL JANNAH

20 Puisi Romantis Terbaru Untuk Seseorang Tercinta, Untuk Keluarga dan Tentang Hati


source image


DALAM BUKU 7HDBC
(7 Hati Dalam Balutan Cinta)

Kenanga

Kemarin, ketika mentari tersenyum bersama pengawalnya
Daun kenanga mengembang membentuk satu ikatan cinta
Ia seolah menari dengan elok dalam satu irama merdu
Menawarkan janji indah tanpa fase layu

Kau lipat satu kakimu mengulurkan sebuket bunga
Mempertontonkan keberanian pada setiap penikmatnya
Sungguh, aku percaya bahwa panah Dewa Eros menusuk punggungmu
Membuatku tersipu untuk mengambilnya dan menyimpannya dalam kalbuku

Sekarang, halilintar menggelegar
Awan berkelabu panjang mengantar
Setitik hujan mengerang meminta penjelasan
 Daun kenangan berguguran mengurat kesedihan

Dimanakah masa lampau dengan keindahannya
Dimanakah kamu dengan kemanisannya
Dimanakah daun kenanga dengan bentuk cintanya
Dimanakah janji tanpa menghisap pelatuk kasarnya

Temaram sudah
Menggeliat jatuh
Membawaku dalam kehampaan
Mengais dalam kesedihan

Tangerang, 21 juli 2015

Elegi


Ketika purnama menampakan cahaya hitamnya
Kau menghilang diantara dedaunan  patahnya
Kini hanya isak tangislah yang mengalun rintih
Menusuk beberapa kalbu, menggetarkan beberapa puih

Gelap menghatam
Menerbangkan kesedihan mendalam
Membawaku dalam nestapa cinta
Merenggut cerita klasikku dalam impiannya

Aku berdiri dalam pendar cahaya
Nyanyian elegi mengalun menghantam jeritan malam
Mengaisi setiap reruntuhannya
Menabrak gelombang peraduannya

Ia sudah pergi
Jauh melangkahkan kaki
Meninggalkan sebagian hati
Menaruh bekas cinta disini



Tangerang, 5 mei 2014






Rahasia Kepercayaan


Senja menggelantung anggun  diujung langit
Menampakan kesetiaannya pada sang surya
Aku menjelma bak Elisabeth
Dan kau tetap setia sebagai permaisuriku

Oh, sayang tak tahukah engkau
Ada berjuta mawar menghiasi hatiku
Kau bawa diri ini menuju jurang kesetiaanmu
Menapaki tanggga tanpa takut melihat tikungan diatas sana

Aku melihatnya
Ketika sakura buatanmu mengembang dengan bangganya
Aku menontonnya
Ketika kobaran semangatmu mengalun membentuk taman hati itu

Senja yang indah dengan sejuta maknanya
Menarikku dalam tarian letiknya
Layaknya setruman dua biola yang menyatu
Melahirkan anak not dengan melodi terbaik yang pernah kudengar

Saat ini hanya aku dan kamu yang dapat merasakannya


Tangerang, 22 juli 2015






Puzzle Kenangan


Aku tersesat
Melupakan arah panah
Terseok menghitung kenangan
Membawanya kembali menuju pangkuanku

Kesalahan terbesar dalam hidupku
Mempersilahkannya masuk kedalam ranah hidupku
Membiarkannya berputar dalam benakku
Menggandengnya melewati putaran angin

Berapa banyak lagikah puzzle kenangan yang harus kuhitung
Sungguh betapa aku tersesat
Jatuh kedalam lingkaran melodi lama
Terikat dengan jerat untaian ceritaku sendiri 

Kini terbakar sudah semuanya
Menuju perapian amarahku
Tak tahukah engkau
Wahai lelaki yang setiap malam hadir dalam mimpiku

aku merindukanmu
untuk kesekian kalinya
aku mengharapkanmu
dalam kesalahan alam bawah sadarku


Tangerang, 23 juli 2015




Tak Ada Artian untuk Kata Cinta


Jika cinta dikatakan matematika
Tentu ia dapat dihitung menggunakan kalkulator
Jika cinta diibaratkan biologi
Tentu telah lahirlah para dokter cinta pada abad ini

Jika cinta disamakan dengan kimia
Tentulah pakar farmasi berhasil membuat obat pelipur lara
Jika cinta tak lain dengan hukum fluida
Maka Ia akan mengambang diatas air dan terlihat oleh para penunggunya

Jika cinta tak urung berbeda dengan ppkn
Maka cinta mempunyai norma dan hukum pasal yang berlaku khusus
Jika cinta tak ayal dengan hukum atom
Maka akan selalu ada ledakan cinta setiap harinya

Pada hakikatnya
Cinta hanyalah cinta
Tak ada artian khusus untuk sebuah kata cinta
Karena ia dapat membuahkan pengertian tersendiri bagi para penikmatnya


Tangerang. 24 juli 2015







Lonceng Hati


Jingga berpendar
Mengundang senyuman pada setiap wajah
Cahayanya memikat
Jatuh menuju peradaban nun jauh disana

Kemarilah sayang
Akan kutunjukan sebuah keindahan hati
 Yang  tariannya dikhususkan untukmu
Karena anginnya selalu berhembus pelan menyambut kehadiran kita

Anak rumput bergoyang
mengikuti irama nyanyian langit
Gendangnya terdengar sehingga menghasilkan frekuensi cinta
Tak akan ada alunan lara pengantar mimpi buruk

Lonceng hati bergetar
Bersuara besar
Menarik yang lainnya
Untuk menonton cerita cinta ini



Tangerang, 13 februari 2014






Metamorfosis


Bintang bertaburan membentuk wajah bahagianya
Aku terpaku menatap sinarnya
Ada kenangan disana
Ada rahasia tersimpan didalamnya

Mawar itu akan selalu harum ditempatnya
Kelopak putihnyapun akan selalu bersemi anggun
Kau yang merawatnya
Dengan jemari manismu dan belaian lembutmu

Kali ini haruslah aku yang merawatnya
Seribu kali kubelai dengan anggun sepertimu
Namun selalu berakhir dengan guguran perlahan
Kelopaknya enggan bersemi dengan warna putih kembali

Aku merintih
Merasakan kehilangan yang amat mendalam
Ada jejak yang kian masih terpaut dalam hatiku
Lentera cinta itu belum berakhir

Tetap sajalah tak akan ada daya untuk menghidupkanmu
Selamat jalan cinta
Robeklah hati ini
Agar kelak akan kau bawa pergi bersama kenanganmu


Tangerang, 24 juli 2015




Hai Cinta


Hai cinta
Siapkah untuk kembali tersenyum
Siapkah untuk kembali melihat
Siapkah untuk kembali menulis dalam lembaran baru

Tak perlu cemas sayang
Karena denting waktu akan selalu bersama kita
Tak perlu ragu manis
Karena akan selalu ada kebahagiaan untukmu

Bukankah daun selalu bertengger bersama batangnya
Bukankah sepatu akan selalu digunakan bersama talinya
Bukankah angin akan selalu hadir dengan kesejukannya
Dan bukankah kau akan selalu ada bersama jiwaku

Maka raihlah jemariku sayang
Akan kita saksikan keelokan dunia
Akan kita cairkan kebekuan disebelah kutub utara
Karena kita selalu menyatukan kektuan terdahsyat milik cinta


Tangerang, 25 juli 2015







Tak Perlu Menggelap


Hitam menanti
Temaram mengganti
Mengayun pengharapan
Melepas kegamangan

Menapaki kelemahan
Sedikit pertimbangan
Biarlah menit berlalu
Meninggalkan bekas kacau

Tak perlu menggelap
Ketika paruh masih sanggup menghisap
Ketika mulut masih sanggup mengatakan
Ketika hati masih sanggup membenarkan

Teruslah berjalan tanpa tolehan
Menapaki sekian jalan bebatuan
Teruslah berdiri dengan tenang
Karna akan ada tanga lain yang menopang


Tangerang, 26 juli 2015







Pengagum Terbelakang


Aku mengagumimu
Dalam antrian panjang melelahkan
Tanpa tanda pengenal menjelaskan
Dengan hati kacau menyedihkan

Aku melihatmu
Dalam lorong kegelapan
Ketika insan berbahagian dengan pasangannya
Ketika mentari meghilang dengan jejaknya

Kau ulurkan tanganmu untuk sebuah bantuan
Yang menyayatkan hati
Tanpa kau tahu ada orang dibelakangmu
Yang selalu mengitaimu

Aku mengharapkanmu
Dalam awan hitam pekat
Dengan halilintar menggelegar
Diiringi sisaan tawa menyakitkan

Akankah kau lihat diri ini
Terjatuh mengharapkanmu
Menangis berharap dapat mengenalmu
Menanti dengan seluruh penantian tanpa ujung


Tangerang, 21 juli 2015




Cinta yang Terabaikan


Ketika cinta mulai terabaikan
Ketika hati enggan membalas
Ketika mata terasa buta
Ketika jiwa menapaki kejenuhan

Hanya satu yang dapat kuketahui
Jika cinta sudah tertolak
Jika cinta tak dapat dipertahakankan
Menjauhlah sayang

Karna mentari akan selalu tersenyum
Manakala ia mendapati bumi dihadapannya
Karna angin akan selalu berhembus
Manakala hujan akan mendampinginya untuk tetap berkerja

Aku bukanlah batu wahai kakandaku
Yang sama sekali tak berperasaan
Akupun bukanlah hantu wahai lelakiku
Yang bisa saja menghilang dengan seketika

Pejamkanlah matamu
Ketika hati dan jiwamu enggan menerima
Tutplah telingamu
Ketika kau dan nuranimu enggan mendengar


Tangerang, 26 juli 2015




Getaran Baru


Hitam putih dalam hidup
Terus membawaku dalam jerat waspda
Aku membungkam
Kali pertama melihatmu

Ada getar tak kumengerti
Getaran yang menghasilkan geli tek tertahan dalam perutku
Ia mengalir amat lambat
Seolah mempengaruhiku untuk menikmatinya

Kau mendongak 
Memperlihatkan wajah karismamu
Hanya untuk yang pertama
Dan aku meyakini kaulah lelaki yang selama ini dibanggakan Ayah

Sorotan cahaya terus berpendar kearahmu
Ini kalinya kau menjadi raja dalam istanaku
Melontarkan pena suci
Dalam kutipan lembaran baru

Selalu aku mengenangmu
Kala pekat mendekap
Kala senang menyapa
Karna kaulah prajurit cinta terhebatku


Tangerang, 23 juli 2015




Melodi Merdu


Barulah jingga itu menempel
Sedikit menggelantung pada langit langit
Menghilangkan kenestapaan
Memperbaiki karya lama

Wahai jiwa yang menaklukanku
Aku menulis dibawah lentera kuning
Sekedar sajak kecil dengan makna terdalam
Memberimu sedikit peluang

Kaukah lelaki pemberani itu
Yang dengan sengaja masuk kedalam prosa lamaku
Tanpa seizin dan sepengetahuanku
Merusak segala jalan ceritaku

Pengap selalu membiarkan
Mengendap-edap tanpa permisi
Meluluhkan segala ucapan
Mematahkan segala kata berinci

Peganglah erat tanganku
Akan kuajarkan kau
Untuk berdansa
Bersama melodi merdunya


Tangerang, 27 juli 2015




Kalaupun Aku


Kalau pun peperangan terjadi
Biarlah aku menjadi prajuritmu
Kalau pun perampokan terjadi
Biarkan aku menjadi polisimu

Tiada akan masalah
Jika kulit menggosong
Asal bidadariku menetap
Menempel pada rongga kosong hatiku

Tersenyumlah manis
Takan  kubiarkan
Mentari merenggut putihmu
Wewangiaan memusuhimu


Tangerang, 28 juli 2015
















Terabaikan


Aku pelangi
Namun enggan mewarnaimu
Akulah salju
Namun enggan memberi kesejukan padamu

Karna aku tahu
Tak secuilpun hatimu terbuka
Tak sekalipun tanganmu terenyuh
Hanya melongok siapakah gerangan aku

Kebal mengepal
Sudah sampai tahap akhir
Menghujam kebawah
Melontarkan tinju berat

Sampai mana aku
Ah, bahkan untuk mengingatpun
Aku harus rela berpura-pura
Bukankah begitu, cinta


Tangerang, 21 agustus 2014









Aku Salah, Cinta


Memang cinta selalu terlihat buta
Bahkan untuk kata penggelapan sekalipun
Siapa gerangankah ingin mempercayainya
Tak ada, tak akan ada

Lebat tak beraturan
Tertutupi keindahan luar
Menghijau begitu saja
Tak perdulikan bagaimana pertumbuhannya

Aku salah, cinta
Sangat salah mengenalmu
Bukankah yang terlihat hanya keindahanmu
Bukanah kau selalu terilhat elok

Entahlah, jangan tanyakan sebab padaku
Jangan biarkan itu merusak pemikiranku
Karna faktanya keindahan itu
Jauh menutupi kehitamanmu

Jangan butakan aku sayang
Tiada sanggup mata ini
Terbuka hanya untuk melihatmu
Hanya untuk memantaumu


Tangerang, 29 juli 2015




Seribu Rasa


Selalu hadir banyak rasa
Menyusunku menuju rasa terlezat
Dalam buaian nestapa
Dengan lingkaran merapuh

Jika saja durian mematahkan kaki
Maka cinta menghapuskan iman
Jika saja nanas memerahkan lidah
Maka cinta menggetarkan gelora dalam

Ingatan itu akan selalu terhapus
Jika jiwa ini mendekatimu
Kepercayaan itu akan menghilang
Kapankali diri ini mendekapmu

Oh pujangga
Jangan Jatuhkan penamu
Dengan coretan cinta menyedihkan
Yang membuat muak setiap insan


Tangerang, 29 juli 2015







Karna Kita


Kipas akan berlalu dengan balingnya
Lalu baling akan berpaling dengan debu
Sedangkan debu mengalihkannya bersama air
Berpencar tanpa mengingat masa lalunya

Gunung akan menghilang dengan awannya
Maka awan akan berdansa bersama angina
Setelahnya angin mengikat bersama halilintar
Berlalu begitu saja tanpa salam

Pohon selalu mendekap dedaunannya
Dan daun akan dengan tenang menuju tanah
Senyuman tanahpun tak urung menghilang
Kapan kali arus dapat membawanya pergi

Aku menyimpanmu jauh dalam lubuk
Meletakanmu hati-hati
Kau dengan senang menerimanya
Karna kita akan selalu seperti ini tanpa meningglkan bekas


Tangerang, 27 juli 2015







Pengharapan Sempit


Lama sudah
Aku menanti
Mengharapkan ketidak pastian
Menaruh harapan besar

Membalikan setiap kata
Agar tiada katalah
Penyebab kesedihan akut
Menjadi obat segala kebencian

Aku bersembunyi
Jauh didasar sana
Tak adalah yang melihatku
Bahkan untuk  satu cinta yang kupersembahkan

Jiwa ini memberontak
Meneriakan setiap kata cinta milikmu
Pengharapan sempit
Tiada jawaban mengalun

Hanya nyanyian hati pengobat duka
Mengalun lembut
Menghantarkan daya listrik
Menyetrumnya hingga kembali baru


Tangerang, 29 juli 2015




Sementara Tanpa Cerita


Kututup buku ini
Hanya sementara saja
Berharap kau mengerti
Memahami setiap lembarannya

Kini biarlah aku sendiri
Berharap satu penerang
Dalam lorong kegelapan
Juga kehampaan

Biarkan aku melangkah
Melawan arus
Menghindari kenyataan
Melupakan kejadian

Tak perlu ada yang kutulis ulang
Tak perlu kubenahi kembali
Tak perlu kuralat segala
Karna faktanya jalur kuning itu memang telah melengkung



Tangerang, 26 juli 2015





Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon