Friday, 24 June 2016

Bunuh Diri Rasionalisme

Tags

Bunuh Diri Rasionalisme

Cerpen oleh S. Aji



Raisa menyadari betul bahwa ia mulai terbenam dalam pertentangan diri yang melelahkan. Sebagai mahasiswi filsafat tingkat empat, seharusnya kondisi seperti ini sudah lama dihancurkannya. Tapi sampai detik dimana ia mempelajari kritisisme filsafat Modern, pada hatinya S Aji tidak pernah benar-benar pergi. S Aji, mahasiswa sosiologi yang seperti Ang dalam kartun Avatar, sang penguasa angin: datang meneduhkan gerah lalu tetiba pergi tanpa pesan. Sesekali seperti puting beliung, sekejap sepoi-sepoi selembut teduh yang membelai dedaunan nyiur. 

“Kau terlalu tunduk pada rasiomu, Raisa,” ledek S Aji suatu waktu. Di perpustakaan kampus. Raisa makin kesal. Mahasiswi filsafat kok gak rasional, malu sama Hannah Arend, batinnya lagi. “Kenapa? Malu sama Hannah Arendt? Wakakaka, Arendt bertekuk lutut pada pesona tua Heiddeger,”ledek Aji bersama tawa yang memecah langit. “Sialan. Gak lucu!” maki Raisa setengah mendesis. “Huahahahaha.”

Begitulah S Aji, selalu bisa meremuk dirinya. Menjengkelkan tapi ngangeni. Bikin keki tapi menikam rindu. Celakanya, S Aji seolah tahu ia berada dalam posisi itu. Bukan saja memahami jika memiliki kuasa, ia juga mahir mempermainkan suasana hati Raisa seringan pendulum. Sialan, serapah Raisa jika terkenang posisinya yang seolah tunduk dan taat tak berdaya.

Mengapa kita tidak menyepakati hubungan yang khusus saja? Sepasang kekasih?

Pertanyaan ini ganti mengganggu benak Raisa. Menimbulkan desir aneh dan keringat dingin yang bukan karena penyakit. Hati memang memiliki kuasanya sendiri bahkan tak jarang membunuh rasio yang kaku, dingin dan berjarak. Aku jatuh cinta pada lelaki aneh itu? Tidak, tidak boleh, yakin Raisa berusaha menjaga posisi rasionalnya.

“Aku tidak jatuh cinta. Aku hanya tidak bisa menjelaskan sensasi yang berkembang dari kehadiran rasa tertentu. Sesederhana itu kok,” tegas Raisa kepada Maudy suatu ketika. Berbeda dengan sikapnya, Maudy, sahabatnya yang kuliah di fakultas Sastra. Maudy sering menyerang sengit sikapnya yang serba rasional. 

“Tidak semua hal harus dimengerti secara rasional, Sa. Apa yang tampak irrasional adalah apa yang makin kau lawan, makin kau akan diremukkannya,” kritik Maudy. Gantian kesal. 

“Bebaskan segala penilai abstrak di kepalamu. Kau hanya perlu membuka diri dan membiarkan gejolak rasa itu bersenandung seperti tembang Sandhy Sandhoro. Mungkinkah ini yang namanya gejolak cinta..ahaaai, cuuit, cuuuiiitt,” ledek Maudy. Lantas pergi. Kencan dengan pemujanya yang baru.

Dasar mahasiswi Sastra, seolah saja semua hal bermakna puitis! Apa bedanya dengan mahasiswa filsafat? kutuk Raisa dalam hati. 
  
 ***   
Tahun ke tiga perkuliahan. 

Raisa sedang sibuk menyiapkan barang-barang pribadinya. Sebentar lagi ia harus berkumpul bersama teman-teman seangkatan untuk memulai program KKN selama tiga bulan. Ia memang telah menjadi mahasiswi yang sebentar lagi berhak memperoleh gelar strata satu. 

Selama setahun, Raisa memang fokus pada aktifitas perkuliahan saja. Ia benar-benar melahap habis seluruh kesadaran filosofis Barat seperti makan nasi dan meminum air setiap hari. Selama setahun ini juga, ia tumbuh menjadi perempuan manis yang filosofis. Menjadi jijik pada sikap yang cengeng dan emosif. Dan sangat dingin ketika menghadapi benturan dalam ruang batinnya sendiri. Tak ada lelaki yang berani mendekatinya.

Setahun ini S Aji juga entah berada dimana. Tak pernah lagi muncul di kampus. Tak pernah meledeknya di perpustakaan. Raisa juga tak pernah ambil peduli. Tak pernah pergi mencari. Lelaki yang seperti pengendali angin, buat apa dicari? Lagi pula, antara dirinya dengan S Aji tidak memiliki konsensus rasa bukan? Dan yang paling penting, ketiadaan S Aji adalah bantuan yang dibutuhkan dalam memperkukuh sikap-sikap rasionalnya. 

“Ayo berangkat,”teriak Maudy memecah kesibukan Raisa. Maka berangkatlah mereka.

 ***

Pukul empat sore, rombongan tiba di lokasi KKN. Raisa langsung menuju posko. Ia selalu lekas muak dengan sambutan basa-basi pemerintah desa juga dosen pembimbing. Lebih baik aku berkeliling desa ini, batinnya. 

Lima belas menit kemudian, langkah ringan Raisa mulai menelusuri tepian sungai yang tenang. Dengan tas punggung kecil, Raisa sengaja mencari tempat yang teduh untuk menghabiskan satu teks karangan Siẑek yang membahas filsafat subyek. Raisa menemukan sebuah dermaga yang sepi. Ada beberapa bangku panjang yang mulai berdebu. Ia mendudukan tubuhnya lalu berkonsentrasi penuh. Terbenam dalam keheningan sungai.

Sepuluh menit berlalu. 

“Hoooooi, Hanah Arendt.....” 

Raisa yang belum lama terbenam dalam teks Siẑek terkejut bukan main. Hanya satu manusia yang memanggilnya dengan nama filsuf perempuan yang menulis asal usul totalitarianisme itu. 

Di pinggir sungai itu, sesosok laki-laki sedang berdiri memegang dayung. Tubuhnya tampak lebih kurus dan rambutnya lebih panjang. Dengan kemeja flanel, ia seperti pendaki yang tersesat.

“Aji?” 

“Hahahaha. Ketemu lagi. Masih serba rasional?” 

Raisa mendadak kesal. Setahun tak jumpa, kelakuan tengilnya tak juga musnah. Sialan! 

“Kamu sejujurnya lebih manis kalau sedang tersinggung. Ketersinggungan rasional membuatmu lebih manis dipandang. Wakakaka,” sindir S Aji sesudah menambat perahunya di tiang dermaga. 

Tetiba saja Raisa merasa mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Perdebatannya dengan Maudy kembali terbayang. Ia lalu diingatkan pembelaan dirinya sendiri: aku tidak jatuh cinta. Aku hanya tidak bisa menjelaskan sensasi yang berkembang dari kehadiran rasa tertentu. Sesederhana itu kok.

“Woooi, kenapa diam saja? 

Sedang menafsir mengapa kita berjumpa lagi sesudah setahun tak ada kabar? 

Sedang memikirkan hukum-hukum logis dari pertemuan ini?” ledek S Aji lagi. 

Kampret betul orang ini, setahun tidak ketemu ternyata lebih tengil, maki Raisa lagi dalam hatinya. 

“Ngapain kamu disini?” tanya dingin Raisa setelah mengendalikan emosinya. Setelah merasa kembali rasional. 

“Aku? Aku datang untuk menyerang sikap rasionalmu, seperti biasa. Huahahaha.” 

“Dasar gilaaa!”

“Kau tidak rindu padaku?” 

“Apaaaa? Kamu sakit, Ji. Asli sakit. Baru ketemu terus nanya kangen. Emang kamu siapa?” serang Raisa balik. 

“Lhooo, selow Manis. Tetap dingin dan berjarak...Weeekkkss,” ledek S Aji lagi sembari julurkan lidahnya. 

“Okelah, jadi kamu gak kangen lelaki pengendali angin ini?” Raisa diam saja, matanya dibenamkan kedalam teks yang belum lagi beranjak dari pengantar.

“Saya ke sini untuk melamar kamu, bukan mengajak kamu pacaran. Tapi saya batalkan. Saya menjadi yakin bukan kamu. Rasionalisme-mu yang sombong ternyata belum berubah. Setahun ini aku menghindarimu untuk membiarkan rasionalismemu berdialog dengan sisi dirimu yang emosional. Ternyata, malah makin mengerikan,” terang S Aji kemudian. 

“Saya memutuskan akan melamar Maudy saja. Sikapnya yang emosif dan puitis jauh lebih bisa menahan angin seperti saya, Raisa.” 

“Apaa? Tapi kau dan Maudy tidak pernah pacaran. Bagaimana bisa?” 

“Saya tidak butuh pacaran untuk membentuk kesesuaian juga merasionalisasi kedalaman rasa. Saya hanya perlu tahu pada jiwa seperti apa angin rindu selalu menuntun saya pulang, merawat emosi dan meledakkan passion menjalani hidup.” 

“Jiiiiiiiiii....sejak kapan di sini? Kamu ngapain disini, Ji?”

Suara Maudy mendadak hadir di dermaga sepi. 

S Aji tersenyum. Ia mendengar panggilan rindu yang emosional dari Maudy, panggilan yang dinantinya dari Raisa setahun terakhir. “Saya datang untuk melamarmu, Dy.” 

Maudy dan Raisa saling menatap. Maudy tertawa terbahak-bahak. Raisa terperangah tiada menyangka. 

“Kamu memang tak terduga. Pacaran tidak, tiba-tiba melamar,” kata Maudy masih dengan tertawa. 

Sementara Raisa masih tidak percaya. Ia merasa ini bukan bercanda. Atau sejenis taktik ledekan untuk meremukkan sikapnya yang rasional. 

Tiba-tiba ia merasa kosong, ada yang hilang dan meruntuhkan rasionalitasnya.


Sumber : Fiksiana - Kompasiana - Akun S. Aji



Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon