Saturday, 18 June 2016

Di Punggung Bumi Bersama Gerimis




Di Punggung Bumi Bersama Gerimis

Puisi oleh Mieft Aenzeish


duduk aku, bersama angin yang terus mendesir dari arah kiri
telah hilang dingin, sebab kalah oleh kehangatan rindu pada suatu hari
saat dimana kau aku, bercakap hingga larut malam menjelma waktu pagi
dan fajar, kemudian menyadarkan kita dari indahnya pejam dalam elegi

cahaya terang yang berjejer dari dalam rumah yang tergantung tiang
seolah ingin berkata kepadaku, tentang ketulusan ia yang kusayang
mataku menyelisik tepat ke titik sempurnanya, kemudian lama kupandang
dan ada yang berucap pada diri,"ketulusan kasihnya, selalu jadi pemenang".

wahai gerimis, yang belum henti ceriwis
bisakah engkau menjelma sebagai Bilqis?
yang mengubah sedihku menjadi tawa
yang mengubah benciku menjadi cinta

bisakah?.. o.. gerimis, cukup sekali
karena, ia tak kan memberimu kesempatan yang kedua
sebagaimana malam ini,
dan aku masih bersamamu tanpa nada

: sedang ia, kan bersamaku dipertemuan kita berikutnya

lalu, apakah kau memilih untuk terus ceriwis tanpa ingin menjelma Bilqis? ... o, gerimis...


18.06.2016
Bandung





Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon