Saturday, 25 June 2016

Sajak Sajak yang Akan Membuatmu Tersenyum Bahagia oleh Nizar Tawfiq Qabbani

Tags

Sajak Sajak yang Akan Membuatmu Tersenyum Bahagia

Terjemahan Bebas SajakSajak Nizar Tawfiq Qabbani


*

Aku Tidak Memiliki Kekuatan

Aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubahmu — atau mengerti dan mengikuti keinginan dan caramu. Jangan pernah percaya seorang pria bisa mengubah perempuan. Para pria berpura-pura telah mencipta perempuan dari sebatang tulang rusuk mereka. Para perempuan tidak datang dari tulang rusuk pria atau tulang siapa-siapa. Para pria lahir dari rahim perempuan, seperti seekor anak ikan berenang lepas dari kedalaman air. Seperti cabang-cabang sungai melepaskan diri dari arus. Para pria berputar mengelilingi poros matahari di mata perempuan dan mereka menganggap telah menciptakan semesta.
Aku tidak memiliki kekuatan menanammu seperti bunga atau menjinakkanmu seperti anak kucing atau meredam naluri purbamu. Oh, sungguh, mustahil mampu kulakukan! Aku telah menguji ketumpulan pikiran dan ketajaman kebodohanku. Tidak ada, tidak ada yang mampu menaklukkanmu.
Tidak ada kekuatan yang mampu memecahkanmu selama tiga ratus tahun. Engkau akan tetap utuh seperti ini selama tiga ratus tahun, selalu begitu seperti sejak mula. Seperti badai yang berdiam di dalam botol dan mengenal dengan amat baik aroma tubuh pria. Engkau serbuk alami yang lahir untuk menyerbu dan menaklukkan para pria.
Jangan percaya para pria ketika bicara tentang diri mereka, bahwa dari diri mereka lahir bayi-bayi mungil, bahwa dari jari-jari mereka mengalir puisi-puisi. Para perempuanlah yang menulis puisi dan pria menerakan nama mereka di kakinya. Dari para perempuanlah tawa dan tangis anak kecil pecah dan pria datang ke rumah sakit bersalin menyebut nama mereka sebagai ayah.
Aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubah sifatmu. Buku-buku yang kubaca tidak ada gunanya bagimu dan kepercayaan yang kupeluk tidak punya lengan yang mampu memeluk dan meyakinkanmu. Aku, di dalam diriku, adalah ruang kosong. Aku tidak memiliki kekuasaan. Engkau adalah ratu dan dunia tidak memiliki raja. Engkau kegilaan dan milik siapa saja. Tetaplah seperti itu. Engkau adalah pohon yang tumbuh dalam gelap. Tidak butuh matahari atau mata air. Engkau putri laut yang dikasihi semua orang dan mengasihi semua orang. Engkau tidur dengan seluruh pria dan tidur tidak dengan siapa pun. Engkau perempuan dari Badui yang menjelajahi seluruh suku di dunia dan kembali sebagai perawan suci. Tetaplah seperti itu.

*

Apabila Aku Mencintaimu

Apabila aku mencintaimu, bahasa baru terbit seperti mata air, kota-kota baru dan negara-negara baru lahir. Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing. Kebun gandum tumbuh di halaman-halaman buku. Burung-burung berlepasan seperti lelehan madu dari sepasang matamu. Serombongan kafilah datang dari belahan dadamu membawa bermacam-macam ramuan India. Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan, hutan-hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia tidak henti menyeru para penari.
Apabila aku mencintaimu, sepasang payudaramu melepaskan rasa malu, bergetar, berubah jadi petir dan gelegar guntur, sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .
Apabila aku mencintaimu, kota-kota Arab bangkit meneriakkan perlawanan terhadap zaman penindasan, menumpahkan kemarahan kepada hukum yang menganiaya suku-suku tertentu.
Dan aku, apabila aku mencintaimu, aku ikut berbaris melawan semua kejahatan. Melawan pengusaha yang menimbun garam. Melawan penguasa yang mengubah gurun jadi petak-petak kebun sendiri.
Dan aku, aku akan terus mencintaimu hingga banjir bandang itu datang. Aku akan terus mencintaimu hingga banjir bandang itu datang menghapus dunia.

*

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan seperti kawanan domba yang hendak disembelih. Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium sol sepatu para pembunuh.
Mereka menculik anak Maryam, padahal ia masih bayi. Mereka mencuri dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk, aprikot, dan rimbun semak mint, pula nyala lilin dari masjid-masjid.
Mereka meletakkan di tangan kita sekaleng ikan sarden bernama Gaza dan sepotong tulang kering bernama Yerikho. Mereka membiarkan kita tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang, sepasang lengan tanpa jemari.
Setelah perselingkuhan rahasia yang basah di Oslo, hidup kita dilanda kekeringan. Mereka memberi kita tanah air yang lebih kecil dari sebiji gandum. Tanah air yang akan kita telan tanpa air, seperti sebutir aspirin.
Kita memimpikan perdamaian hijau dan bulan sabit putih dan laut biru. Namun, kini, kita menemukan diri kita cuma seonggok tinja.

*

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta, kenapa ia harus memakai kata-kata? Apakah para wanita mendambakan kekasih mereka berbaring di dekatnya sebagai ahli bahasa?
Aku tidak mengucapkan apa pun kepada wanita yang aku cintai. Aku memasukkan kamus-kamus ke koper dan melarikan diri dari semua bahasa.

*

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku: “Apa bedanya aku dengan langit?”
Perbedaannya, Sayang, adalah jika kau tertawa, aku lupa apa itu langit.

*

Percakapan

Jangan kausebut cintaku seikat cincin atau gelang. Cintaku adalah pengepungan. Keberanian dan kemauan keras yang bangkit dari kematian mereka.
Jangan kausebut cintaku sebagai semata bulan. Cintaku lebih hebat dari ledakan cahaya.

*

Surat dari Bawah Laut

Jika engkau sahabatku, bantu aku menanggalkanmu. Atau, jika engkau kekasihku, bantu aku menyembuhkan diri darimu.
Andai aku tahu lautan sedalam ini, aku tidak akan menceburkan diri. Andai aku tahu bagaimana aku berakhir, aku tidak akan pernah memulai.
Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan. Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman. Ajari aku memadamkan kesedihan di mata hingga cinta memutuskan bunuh diri.
Jika engkau seorang nabi, bersihkan aku dari kutukan ini, bebaskan aku dari ketiadaan iman. Mencintaimu berarti tak memeluk satu agama pun, maka sucikan aku dari kehampaan ini.
Jika engkau kuat, angkat aku dari dasar laut karena aku tidak tahu berenang. Ombak biru di sepasang matamu menarikku ke palung paling dalam. Biru. Biru. Seluruh biru, dan aku tidak memiliki pengalaman mencintai, dan tidak ada perahu sama sekali.
Jika engkau mengasihiku ulurkan lenganmu, rengkuh aku, sebab aku dipenuhi nafsu dari rambut hingga kuku-kuku kakiku.
Aku bernapas dari sini, di bawah laut. Aku tenggelam. Tenggelam. Tenggelam.

*

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu, puisi lebih penting daripada buku catatan, dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.
Surat-suratku kepadamu lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua. Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen di mana orang-orang kelak menemukan kecantikanmu dan kegilaanku.

*

Wahai, Kekasihku

Wahai, Kekasihku, jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku, kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu, kau akan menjual habis gelang-gelangmu, dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

Cinta, pada akhirnya, tiba juga dan kita memasuki surga, menyelusup di bawah kulit air seperti ikan. Kita melihat mutiara laut berkilau dan mata kita dipenuhi kekaguman.
Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga, tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara. Sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi. Dan, kita merasa sama adil.
Cinta menyerahkan diri, pasrah, seperti mata air yang terbit begitu saja dari balik tanah.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku, jika aku mampu bertemu dengan Sultan, aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan! Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku, mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu. Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka mengejarku seperti takdir, seperti nasib. Mereka menginterogasi istriku dan menulis nama semua sahabatku.
Wahai, Sultan! Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli, karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan dan kesusahanku, aku dipukuli dengan sepatu bututku sendiri.
Wahai, Tuan Sultan! Engkau telah kalah perang dua kali karena setengah dari orang-orang kita tidak memiliki bahkan sepotong lidah.
Apa yang indah dari keluh-kesah di napas mereka? Di balik tembok, orang-orang berlari ketakutan seperti anak-anak kelinci yang mungil dan sekerumunan semut.
Jika para penjaga bersenjata itu menjamin keselamatanku, aku akan menemui Sultan dan mengatakan: Wahai Tuan Sultan, engkau kalah perang bukan cuma sekali, karena membangun dinding untuk memisahkan kekuasaan dari suara-suara manusia.

*

Coretan-coretan Anak Kecil

Kesalahanku, kesalahan terbesarku, Duhai Putri Bermata Laut, adalah mencintaimu seperti seorang anak kecil mencintai. Namun, kekasih paling mulia, sesungguhnya, adalah anak kecil.
Kesalahan pertamaku, dan bukan yang terakhir, adalah hidup di pusat keingintahuan. Selalu siap terkesiap bahkan oleh peralihan sederhana kelam dan terang. Malam dan siang. Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan yang aku cintai untuk memecahkan diriku, menjadikan aku ribuan serpihan, mengubahku jadi kota terbuka dan terluka, dan meninggalkanku di balik punggungnya sebagai kepulan debu.
Kelemahanku adalah melihat dunia dengan pikiran anak kecil.
Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta keluar dari gua, melepaskannya ke udara, memugar dadaku jadi gereja yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka, dan selama berabad-abad yang sungguh kucari adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih. Aku membutuhkan seorang perempuan yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung. Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.
Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam, mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia, memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal.
Cintamu mengajariku meninggalkan rumah, menelusuri ruas-ruas jalan. Mencari wajahmu di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan. Mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal. Mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.
Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.
Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan, kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu. Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri. Tanpa air mata, manusia hanya kenangan. Bayangan belaka.
Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding perahu para nelayan, di lonceng-lonceng gereja, di patung-patung Yesus.
Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu. Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun dan lupa bagaimana cara perputar.
Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal. Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima. Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya. Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.
Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana. Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil, di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.
Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama, di gereja-gereja tua tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.
Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan, kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam, dan menumpahkan parfum ke dadanya.
Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata. Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.
Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka, dan selama berabad-abad yang sungguh kucari adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih. Aku membutuhkan seorang perempuan untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung. Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

Ketika aku mencintai, aku merasa akulah penguasa waktu, aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya, dan aku menunggang kuda dan melaju menuju matahari.
Ketika aku mencintai, aku adalah lelehan cahaya, kasat mata, dan puisi di buku catatanku tumbuh jadi taman bunga paling indah.
Ketika aku mencintai, air mengalir dari sela jari-jariku, rumput tumbuh di lidahku.
Ketika aku mencintai, aku menjadi waktu di luar seluruh waktu.
Ketika aku mencintai seorang wanita, semua pohon, tanpa alas kaki, berjalan ke arahku.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas, kubawa diriku ke pantai berbaring dan memikirkanmu. Kutumpahkan ke dada laut seluruh perasaanku kepadamu.
Laut akan menanggalkan pantai, meninggalkan karang-karang, kerang-kerang, juga ikan-ikan, dan berjalan mengikutiku pulang.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu, berembus hujan dan kilau suar ibarat suara-suara yang merdu. Matahari gemetar dan layar melukis perjalanan mereka ke keabadian.
Di pelabuhan biru matamu, lautan terbuka seperti jendela. Burung-burung datang dari jauh, mencari pulau-pulau yang tiada dalam peta.
Di pelabuhan biru matamu, salju jatuh menyelimuti bulan Juli. Kapal sarat dengan bebatuan mulia tumpah ke laut dan tidak tenggelam.
Di pelabuhan biru matamu, aku menyusur pantai bagai anak kecil. Menghirupembuskan aroma garam dan memulangkan burung-burung yang kelelahan ke sarang.
Di pelabuhan biru matamu, karang bersenandung pada malam hari. Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?
Andai saja, andai saja aku seorang pelaut, andai saja ada seorang memberiku perahu, aku akan menggulung layarku setiap malam dan bersandar di pelabuhan biru matamu.

*

Setiap Kali Aku Menciummu

Setiap kali aku menciummu, seusai kita terpisah waktu yang panjang, aku merasa menjatuhkan sehelai surat cinta tergesa-gesa ke dalam kotak berwarna merah.

*

Aku Menaklukkan Dunia dengan Kata-kata

Aku menaklukkan dunia dengan kata-kata. Aku menaklukkan bahasa ibu, kata-kata kerja, kata-kata benda, dan sintaksis. Aku menghapus semua muasal benda menggunakan bahasa baru yang terbuat dari gemericik air dan percik api. Aku menyalakan masa depan. Aku menghentikan waktu di matamu dan meruntuhkan semua sekat yang menjauhpisahkan nanti dan masa lampau dari sini, dari kini.

*

SajakSajak Nizar Tawfiq Qabbani

sumber : https://medium.com/@hurufkecil/beberapa-terjemahan-bebas-sajak-nizar-tawfiq-qabbani-1959931494c6#.i20sfag7f


Sekilas Biografi - Nizar Tawfiq Qabbani

Nizar Tawfiq Qabbani (bahasa Arabنزار توفيق قبانيNizār Tawfīq Qabbānī) (21 Maret 1923 – 30 April 1998) adalah seorang diplomat, penyair dan penerbit Suriah.

Nizar Qabbani lahir di ibukota Suriah Damaskus dari keluarga pedagang kelas menengah. Qabbani dibesarkan di Mi'thnah Al-Shahm, salah satu tetangga Damaskus lama. Qabbani menempuh pendidikan di Scientific College School nasional di Damaskusantara 1930 dan 1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dijalankan oleh teman ayahnya, Ahmad Munif al-Aidi. Ia kemudian mempelajari hukum di Universitas Damaskus, yang disebut Universitas Suriah sampai 1958. Ia lulus dengan gelar sarjana dalam hukum pada 1945.
Ketika ia masih pelajar, ia menulis kumpulan puisi buatannya yang berjudul The Brunette Told Me
nizar tawfiq qabbani muda

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon