Friday, 24 June 2016

Saya Adalah Sunyi

Tags

Saya Adalah Sunyi

Sebuah Cerpen oleh Fitri Manalu



Perkenalkan, saya adalah sunyi. Sesuatu yang menghampirimu kala kau sendirian atau di tengah keramaian. Jangan pernah berikan saya waktu, karena saya akan menguasai pikiranmu, lalu menggerogoti saraf-saraf kelabumu tanpa jeda. Entah kapan, di mana, dan siapa, saya memangsa siapa pun sesuka hati saya. Tak terkecuali kamu. 

Bukalah ruang dalam batinmu, maka saya akan bertahta di sana. Menyia-nyiakan adalah hal terlarang bagi saya. Jahat? Keliru. Saya justru membantumu. Mana yang lebih baik, kehampaan atau kesunyian yang kamu peroleh cuma-cuma? Hampa adalah nihil, sedangkan sunyi setidaknya masih memiliki rasa. Kamu tak percaya? Baiklah, saya akan memberitahumu nanti.

Kemarilah, saya akan menunjukkan padamu sesuatu. Kita sedang berada dalam sebuah hati, tempat saya sedang bersemayam. Hati ini sudah tak utuh. Penuh dengan lubang. Belatung sedang bercengkerama dalam lubang-lubang itu. Mari, bergeser ke sini sedikit. Lihat bercak kebiru-biruan yang mengenaskan itu. Hati orang mati? Kamu keliru lagi. Pemilik hati ini masih bernapas setiap harinya. Namun hidupnya bagai tak bernyawa. Kebencian mengaliri setiap pembuluh darahnya. Amarah berdenyut di setiap detak jantungnya. Pandangannya berselubung kabut karena sederet luka menggelayuti hidupnya. 

Mengapa? Klasik. Cinta telah mengoyak-ngoyak jiwanya yang lugu. Pemilik hati ini memuja cinta, tapi malangnya, ia malah menuai kekecewaan yang melecut kalbunya beribu-ribu kali tanpa ampun. Semua itu menghanguskan angannya untuk bersama seseorang dalam mimpinya. Harapannya punah, senyum di bibirnya kerontang. Sungguh menyedihkan. Ia layaknya rumah tua yang dipenuhi sarang laba-laba. Suram dan berdebu. Ketika kamu memasukinya, kamu akan merasakan kesunyian yang maha. Mungkin, tetes-tetes hangat akan mengaliri pipimu tanpa kamu tahu mengapa.

Kamu merasa iba mendengar cerita pemilik hati tadi? Buang jauh-jauh rasa ibamu itu. Sia-sia. Pemilik hati ini cuma sedang tersesat di persimpangan. Kelak ia akan memilih, ikut berbelok bersama saya atau terjaga lalu membasuh bibirnya yang kerontang dengan kegembiraan. Kita akan menantikannya bersama-sama. Kamu mau, bukan? 

Kita sudahi dulu bincang-bincang ini. Seka dulu air matamu. Hmmm... kamu bertanya mengapa saya menceritakan ini padamu? Baiklah, saya terpaksa memberitahumu. Seutas tali sedang melilit lehermu sekarang. Kehadiran saya menggerogotimu hingga tak bersisa. Sepasang matamu berlinang karena kamu masih memiliki rasa. Rasa sunyi, yaitu saya. 

*** 

Tepian DanauMu, 24 Juni 2016

Sumber : Fiksiana - Kompasiana


6 komentar

Terima Kasih kembali Mbak Fitri, tulisan-tulisan mbak bagus dan menyentuh. Boleh yah kalau selanjutnya saya posting karyaKarya lain yang telah mbak postingkan di fiksiana? (o)

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon