Sunday, 11 September 2016

Gara-Gara UYM

Tags

Gara-Gara UYM



 oleh Mieft Aenzeish


Seperti biasa, selepas rampung kerja Ahmad langsung pulang ke kosan. ia tak hobi merangkai kegiatan 'melepas penat' seperti yang dilakukan teman-temannya dipinggir jalan pademangan. menurut mereka jalan tersebut menyuguhkan pemandangan 'wah' dan dapat menghapus segala kepenatan. Apalagi jika sudah beranjak larut malam.


***


Ahmad membersihkan kasur tipisnya dari debu, kemudian berbaring diatasnya, bersiap istirah. Tiba-tiba ia ingat bahwa di Radio Fajri FM malam itu ada jadwal tausiyah dari Ust. YUSUF MANSUR. Ia bergegas mengambil HP di lemari. Kemudian kembali berbaring, memasangkan headsetnya ketelinga, dengan cepat jempol kanannya bergerak mencari fitur radio fm, ketemu, lalu turn on.

".....Alhamdulillah, terimakasih ikhwan dan akhwat semua yang masih setia menunggu dimulainya pengajian malam ini bersama Ust. Yusuf Mansur, insyaallah Sebentar lagi pengajian kita akan dimulai, tetap stay disini yah.... ~~~" terdengar dari speaker headsetnya suara penyiar radio dengan diselingi alunan musik padang pasir diujungnya.

"Alhamdulillah baru mulai" ujar Ahmad gembira

Selang beberapa menit kemudian terdengar lembut ditelinga Ahmad suara serak khas UYM memberi salam kesemua pendengar Radio Fajri. tema yang diangkat oleh UYM saat itu adalah tentang 10 dosa besar. Ahmad sangat fokus mendengar tausiyah UYM. 


Sampai pada satu point, Ahmad tiba-tiba berlinang airmata, sesegukan, melepaskan headset dari telinganya, wajahnya mendongak kelangit, dadanya sesak, fikirannya ditarik ke saat dulu, dimana orangtuanya berpesan :
"jangan pernah jual apa-apa yang telah kami hadiahkan kepadamu nak".

Ahmad semakin larut kedalam rasa salah, bibirnya tak henti beristighfar, Ia kemudian bangkit, mengambil air wudhu, membentangkan sajadah, dengan isak tangis yang masih menderas ia bertakbir untuk sholat Taubat. 


***
Langit sudah tampak menghias diri jadi cerah ceria, jalanan dari dan kearah kota mulai digumuli banyak pengendara. Ahmad yang sedari tadi malam tak bisa tidur karena di hantui rasa salah kini sedang menghadap atasannya di salah satu kantor di sekitaran Harmoni. Ia meminta izin untuk pulang ke kampungnya (subang). Beruntung atasannya yang baik itu mengerti dan akhirnya mengizinkannya pulang.


***
Setibanya di depan rumah. Airmata Ahmad kembali menderas bagai hujan di terik siang. Ia hendak beranjak kearah pintu, tiba-tiba ada yang menepuk pelan pundaknya, Ahmad sedikit kaget lalu menoleh, didapatinya sepasang wajah teduh yang sangat ia cintai. Tangis Ahmad makin pecah, lututnya mencium tanah, pundaknya membungkuk, kepalanya menunduk, bibirnya berucap penuh sesal.

"Ayah... Ibu... Maafkan Ahmad, Ahmad tidak bisa menjaga amanat yang Ayah dan Ibu percayakan kepada Ahmad, Laptop yang dihadiahkan untuk Ahmad dulu telah Ahmad jual tanpa memberitahu ke Ayah dan Ibu, Maafkan Ahmad ..yah ..bu, Ahmad menyesal, Ahmad janji untuk tidak lagi melakukan hal yang sama. Maafkan Ahmad"

Kedua orangtua Ahmad tersenyum, Ibunya mengangkat ia untuk segera bangun, lalu tangan lembutnya menyeka airmata yang masih mengalir dipipi Ahmad, kemudian Ibunya berkata :

"Kami sudah maafkan kamu nak, jauh sebelum kamu minta maaf. apa yang kamu lakukan itu adalah sebuah kebaikan, yang Insyaallah akan berbuah kebaikan juga"

Ahmad merasa ada yang aneh, padahal ia belum cerita tentang kejadian bulan lalu yang mengharuskannya menjual laptop untuk menolong anak yatim yang tertabrak motor.

"Loh... Kok Ayah Ibu... Tau? Tanya Ahmad bingung.

Ayahnya melirik ke sosok santun dibelakang Ahmad, lantas Ahmad menoleh dan ....
"Kak Putri........." Ahmad berlari mengejar kakaknya yang diminta untuk merahasiakan semua ini tapi.....



# Semua ada hikmahnya kok
image by islam-institute.com

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon