Sunday, 2 October 2016

Hujan Terakhir

Hujan Terakhir

puisi oleh Mieft Aenzeish


ini tentang musim kita sayang
musim yang didalamnya tak pernah henti tuk berjuang

telah kita lalui berjalan tanpa kaki
telah kita lampaui mendengar tanpa telinga
telah kita kubur perasaan yang mati
telah kita sudahi nestapa yang menganga

kini kita bersama hujan terakhir
yang dinginnya bisa bikin getir
aku takkan membiarkan kau gigil
aku kan menjagamu sampai menjelma diri sebagai hidrofoil

Sayang,
jika didulu badai dan terpaan angin kencang bisa kita lalui
niscaya hujan terakhir ini pun bisa kita lewati
bahkan rerintiknya bisa kita nikmati
sebagaimana cinta kita yang telah lama tertali


24.09.2016
Bandung



10 komentar

bagus banget puisinya,, cara buat puisi seperti ini gimana ya?

Terima kasih :)

bagi saya cara terbaik untuk membuat puisi adalah dengan mendengar apa yang di ucap hati lalu menuangkannya bersama dengan rangkai kata, mulai dari kalimat yang sederhana, yang biasa didengar. :)

judul puisinya bagus, bisa mancing orang penasaran dengan isinya

puisinya keren banget, jadi terharu nih soalnya punya pengalam indah bersama huja, hehe

wah menyenangkan sekali... pasti romantis dan ehem. :D Terima Kasih sudah berkunjung. Semoga lancar selalu dan meningkat usahanya Mas. aamiin.

setiap hujan, aku selalu saja teringat dia, oh hidup...
sungguh indahnya, hehe

ketika hujan reda, masihkah Kau kan teringat? :D

Setiap Kali ku berfikir ini adalah hujan terakhirku, maka esok masih akan ada hujan lagi, lagi Dan lagi.
Sampai rasanya ku lelah tuk berfikir. Hujan itu.. Akankah dia reda? Atau dia akan terus mengguyur hati ini yang telah membeku. Mungkinkah aku mati seperti ini?

Ia akan reda, saat dimana engkau bisa menikmatinya, saat cinta kau beri sayap untuk tetap terbang ke angkasa, angkasa yang terbuat dari rasa rindu dan ikhlas. :)

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu. (blogsastra.com)



EmoticonEmoticon